<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Mbaheikem's Blog</title>
	<atom:link href="http://mbaheikem.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mbaheikem.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Apr 2009 05:56:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mbaheikem.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Mbaheikem's Blog</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mbaheikem.wordpress.com/osd.xml" title="Mbaheikem&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mbaheikem.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>RUMPUN BAMBU</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/04/04/rumpun-bambu/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/04/04/rumpun-bambu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Apr 2009 07:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Pada siang hari sebelum berangkat bapak memberiku sebuah hadiah berupa baret pramuka coklat tua bekas dari kakak dulu lengkap dengan lencana dari seng bergambarkan tunas kelapa. Sepanjang perjalanan dengan dibonceng bapak naik sepedah ontel, mulut saya tidak henti-hentinya bertanya kepada &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2009/04/04/rumpun-bambu/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=49&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span id="more-49"></span></p>
<p>Pada siang hari sebelum berangkat bapak memberiku sebuah hadiah berupa baret pramuka coklat tua bekas dari kakak dulu lengkap dengan lencana dari seng bergambarkan tunas kelapa. Sepanjang perjalanan dengan dibonceng bapak naik sepedah ontel, mulut saya tidak henti-hentinya bertanya kepada bapak tentang perkemahan dan lambang tunas kelapa di topi saya. Pada waktu itu bapak hanya menjawab sekenanya. Dalam pikiran bapak mungkin timbul sebuah pertanyaan alangkah cerewetnya anakku ini.</p>
<p>Tapi mungkin itulah jiwa anak-anak kelas 2 Madrasah, mungkin rasa keingin tahuanya terlalu besar. Sejak peristiwa itulah saya selalu giat untuk ikut kepanduan, selain mungkin sudah terajarkan secara naluriah oleh bapak, juga saya penasaran tentang arti lambang tunas kelapa. Pada waktu kelas 6 Madrasah saya baru benar-benar mengetahui arti lambang itu, meskipun mungkin hanya sekedar tahu arti dan maksud tapi belum tahu implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Itulah bekal saya untuk aktif di kepanduan sampai saya menginjak remaja. Tunas kelapa selalu melekat dalam diri saya, yang secara singkat selalu saya artikan bahwa jadi manusia itu harus berguna untuk siapa saja, seperti halnya pohon kelapa, yang memiliki manfaat mulai dari akar sampai dengan pucuk daunya.</p>
<p>Pada saat masuk kuliah, suatu pagi bapak mengajak saya ke kebun dibelakang rumah, kebetulan kebun kami yang tidak seberapa luas itu banyak ditumbuhi rumpun bambu. Mulailah bapak bercerita tentang kehidupan rumpun bambu. Bahwasanya kalau kita menanam bambu maka dalam waktu empat tahun kita tidak akan melihat bambu yang kita tanam itu bertambah tinggi ataupun besar, bukan berarti bambu itu mati, tetapi selama empat tahun awal rumpun bambu ini membangun akarnya agar menjadi sekumpulan akar yang kuat, karena dari akar inilah akan lahir tunas-tunas bambu yang baru, baru setelah empat tahun maka rumpun bambu ini akan mulai tumbuh menjulang tinggi. Bambu merupakan tumbuhan yang elastis, akan sangat jarang kita melihat pohon bambu patah karena ditiup angin, sekencang apapun itu rumpun bambu jarang akan patah apalagi tumbang, karena ditopang oleh akar-akar yang kuat tadi. Selain elastis bambu merupakan tumbuhan yang mudah tumbuh dimana aja, asal ada tanah yang mengandung air disitu. Yang lebih penting bambu merupakan pohon yang memiliki rumpun yang kuat, ikatan antara satu bambu dengan bambu yang lain dalam satu rumpun akan sangat terikat kuat, mungkin belum pernah kita melihat tumbuhan bambu hidup sendiri dengan satu batang, karena akan selalu ada batang-batang lain yang menemani. Yang terakhir kata bapak “ kamu tidak akan melihat batang bambu mati sebelum dia menumbuhkan tunas bambu yang baru”</p>
<p>Cerita tentang rumpun bambu inilah yang menjadi pijakan saya pada waktu menginjakkan kaki masuk bangku kuliah. Apalagi ketika diberikan amanah untuk mencurahkan waktu dan pikiran untuk bersama temen-temen membangun UKM Sepak Bola dan Komunitas Teater Yakuza ’54.</p>
<p>Tidak jarang dalam menghadapi permasalahan saya selalu berpegang pada filosofi rumpun bambu. Bahwa segala sesuatu harus kita mulai dengan akar yang kuat, membangun ikatan keluarga yang selalu serumpun dalam akar yang kuat, menjadi orang-orang yang elastis tapi punya kekuatan akar yang lebih dan yang lebih penting jangan meninggalkan beban kepada penerus, kalau perlu sebelum mengakhiri tugas kita sudah punya tunas-tunas yang baru, yang akan menjadi rumpun-rumpun bambu yang baru dengan akar yang lebih kuat.</p>
<p>Tidak jarang pada saat awal berdirinya Teater Yakuza’54 saya termasuk orang yang kuat dan keras dalam menterapkan aturan baik kepada temen mauapun kepada angkatan dibawah saya. &lt;/span&gt;&lt;span style=&#8221;font-size: 11pt; font-family: Tahoma;&#8221; lang=&#8221;PT-BR&#8221;&gt;Soal disiplin latihan, metode latihan, jadwal pentas, sampai dengan penetapan jadwal mereka sebelum pentas. Pernah saya berdiskusi panjang dengan seorang temen di Teater Yakuza’54 tentang kekawatiran beberapa temen dengan pola saya mengasuh temen-temen dibawah saya, ada beberapa temen yang khawatir dengan pola saya ini lama kelamaan Teater Yakuza’54 akan ditinggalkan oleh anggotanya, bahkan mungkin akan sangat jarang ada temen mahasiswa yang mau bergabung dengan Teater Yakuza’54. Akan tetapi bagi saya membangun sebuah komunitas kesenian bukan banyak atau sedikitnya anggota, tetapi kualitas dari anggota itu sendiri yang harus dijaga. Saya beranggapan bahwa kalau ada temen yang meninggalkan teater Yakuza’54 adalah mereka yang tidak memiliki akar yang kuat atau bahwa mereka yang malas memupuk akar dalam diri mereka tentang hakekat tujuan mereka memasuki Komunitas Teater Yakuza’54.</p>
<p>Inilah mungkin satu hal yang belum pernah saya katakan langsung kepada temen-temen Teater Yakuza ’54, bahwa saya menginginkan Teater Yakuza ’54 menjadi sebuah komunitas berkesenian yang memiliki akar yang kuat, sehingga saking kuatnya akar itu akan sulit untuk orang mencabutnya, dan akan sulit untuk runtuh dan dirobohkan oleh angin apapun, dan meskipun Yakuza banyak yang dipotong saya berkeinginan akan tumbuh-tumbuh lagi Yakuza-yakuza baru yang tumbuh dari akar yang kuat. Tetapi tetap biar akar kuat harus elastis terhadap segala bentuk perubahan. &lt;/span&gt;&lt;span style=&#8221;font-size: 11pt; font-family: Tahoma;&#8221;&gt;Pada endingnya saya ingin nantinya kalaupun Anggota Teater Yakuza’54 sudah ada yang tercabut atau dipotong oleh orang lain untuk ditanam yang lair maka akar akan Yakuza’54 tidak akan hilang, sehingga nantinya akan kita melihat sebuah rumpun-rumpun teater baru yang berasal dari batang-batang Yakuza dengan karakter akar Yakuza.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=49&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/04/04/rumpun-bambu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Big FIve</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/03/27/the-big-five/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/03/27/the-big-five/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Mar 2009 04:29:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Ceritaku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/2009/03/27/the-big-five/</guid>
		<description><![CDATA[THE BIG FIVE ENAM SAYA the big five enam saya. sebuah istilah yang saya gunakan untuk menyebut sahabat-sahabat saya di komunitas Teater Yakuza&#8217;54. Kang Mukrid , Kang Momon (firman sahara), Kang Santoso tiga sahabat yang memiliki bobot tubuh lebih dari &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2009/03/27/the-big-five/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=47&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>THE BIG FIVE ENAM SAYA</p>
<p>the big five enam saya. sebuah istilah yang saya gunakan untuk menyebut sahabat-sahabat saya di komunitas Teater Yakuza&#8217;54. Kang Mukrid , Kang Momon (firman sahara), Kang Santoso tiga sahabat yang memiliki bobot tubuh lebih dari 65 kg, Kang Zainul , Kang Ahyar bobotnya lebih dari 55 kg, saya sendiri hanya memiliki bobot 50 kg, itupun kalau lagi kenyang dan sudah makan 3 kali sehari, tapi kalau lagi lapar hanya 48 kg. Jadi pas kalau saya menyebut sahabat-sahabat saya dengan big five karena mereka memiliki berat badan lebih besar dari saya.<br />
saat kami berlima enam dengan saya lagi ada kegiatan diluar, jarang kami menggunakan angkutan atau mobil, kami selalu setia dengan sepedah motor butut kami masing-masing, saya dengan Yamaha 80,Kang momon dengan suzuki Family 80, Kang inul dengan Honda Star. kalau saya lagi dibonceng motor Kang Momon, maka akan terlihat seperti Kang Momon membawa Tas Rangsel di pinggangnya, sebab otomatis ukuran tubuh saya yang kecil akan tertutupi dengan tubuh Kang Momon yang tinggi besar. Begitu juga sebaliknya kalau saya boncengkan Kang Momon, maka motor akan terasa berat dibelakang, jadinya terasa berat aja bawaanya motor.<br />
yang lebih kasihan lagi kalau Kang Mukrid dengan sepedah motor Yamaha Alfanya memboncengkan kang santoso, mungkin kalau motor bisa ngomong pasti sudah minta ampun, karena menanggung beban super berat, karena dinaiki oleh dua orang yang memiliki ukuran badan XL. Itulah kami, komposisi kami dalam bepergian jarang sekali berubah, saya naik motor dengan Kang Momon, Kang Mukrid dengan Kang Santoso, Kang inul kadang sama Kang Ahyar, atau kadang Kang Inul dan Kang Ahyar bawa motor sendiri-sendiri.<br />
The big five enam dengan saya, merupakan kumpulan manusia dengan latar belakang yang berbeda, dan berkecimpung di organisasi pergerakan mahasiswa yang saling berbeda juga. Disinilah peran besar Teater Yakuza&#8217;54 dalam proses persahabatan kami, kami yang memiliki latar belakang yang berbeda disatukan dalam satu komunitas teater yakuza&#8217;54, saat kami berkumpul baik di sanggar maupun diwarung langganan kami (the best coffe shop &#8220;mbah ithen) hampir tidak pernah kami berdebat persoalan diluar persoalan Teater Yakuza&#8217;54, waktu kami berkumpul selalu kami habiskan dengan diskusi dan canda tawa yang kadang tanpa ujung.<br />
kebiasaan kami yang tidak bisa terlupa adalah kalau sudah berkumpul di sanggar ataupun dikegiatan-kegiatan Teater Yakuza&#8217;54 yang pakai nginap. kalau sudah malam tiba maka the big five enam dengan saya akan menjelma menjadi manusia-manusia pembikin kegaduhan nomor wahid di tempat tersebut. saat semua mata mulai terkantuk dan berat untuk sekedar melihat cahaya rembulan dan keindahan penghuni langit, maka saat itulah kehidupan kami rasanya baru dimulai. Apalagi kalau sudah ada kopi dan rokok dihadapan kami, secara spontan maka Kang Momon akan memetik gitar dan Saya akan mencari apa saja yang bisa saya pukul jadi gendang, dan saat itu pula secara otomatis mulut Kang Santoso sudah siap dengan bait-bait lagu, baik lagu indonesia maupun campursari. tiga sahabat yang lain juga akan secara spontan mencari apa saja yang bisa berbunyi dan dijadikan alat tetabuhan kegaduhan.<br />
kami bisa bernyanyi apa saja, asal iramanya dangdut atau campursari, Kang Santoso adalah seorang penyanyi yang handal, Kang Santoso akan hafal hampir semua lagu mulai lagi tempoe doloe sampai dengan lagu terbaru, biarpun laginya pop atau slow rock maka secara otomatis irama gitar Kang Momon akan berubah menjadi lagu dangdut. kalau irama gitar Kang Momon sudah tidak singkron dengan suara Kang Santoso karena tidak tahu kunci gitarnya maka gantian mulut kami berlima yang menjadi iramanya. dan iramanya akan lucu didengar karena melocang (melodi cangkem) kami kadang tidak teratur dan berbunyi aneh. Ada yang berbunyi (maaf) kenciiing mencong&#8230;.. sebagai penganti suara ecek-ecek atau tamborin. ada suara &#8220;mlebu metu&#8230; mlebu metu&#8221; penganti suara gendang atau suara &#8220;mancep jeruuu&#8230; sleep&#8221; (maaf kalau kurang sopan) sebagai penganti bass bethot.<br />
kami bernyanyi sepanjang malam selama kopi masih bisa disruput dihadapan kami atau selama rokok masih bisa kami hisap. kami baru berhenti kalau sudah tidak ada kopi dan rokok dihadapan kami, atau dikantong kami sudah tidak ada uang untuk sekedar membeli kopi dan rokok. selama kopi dan rokok masih ada maka yang bisa menghentikan kami adalah kokok ayam atau adzan subuh, dan saat itulah mungkin suara dan tenaga kami benar-benar sudah sangat capek.<br />
itu sekelumit tentang the big five enam dengan saya, nanti dibagian lain dari blog ini akan saya tulis profil kami berenam. SALAM BUDAYA<br />
LEK WANI OJO WEDI-WEDI LEK WEDI OJO WANI-WANI</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/47/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/47/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/47/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=47&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/03/27/the-big-five/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naskah : Panggil Aku</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-panggil-aku/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-panggil-aku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 06:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[PANGGIL AKU AZIZA Oleh : M. Ahmad Jalidu PANGGIL AKU AZISA Sebuah sandiwara Opening : DALANG DENGAN NYANYIAN PEMBUKA : MUSIK MENGALUN.DI LAYAR ADA SILHOUETE BAYANGAN ATAU PANGGUNG MENUNJUKKAN POTONGAN-POTONGAN ADEGAN SUPER PENDEK. Babak 1 PERPUSTAKAAN KAMPUS Jali di Jogja.Jali &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-panggil-aku/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=44&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><br />
<!--[if gte mso 9]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><em><span style="font-size:26pt;line-height:150%;font-family:Anklepants;" lang="IN">PANGGIL AKU AZIZA</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Oleh :</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">M. Ahmad Jalidu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">PANGGIL AKU AZISA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:center;text-indent:-81pt;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sebuah sandiwara</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Opening</span></strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> <span> </span>: DALANG DENGAN NYANYIAN PEMBUKA : MUSIK MENGALUN.DI LAYAR ADA SILHOUETE BAYANGAN ATAU PANGGUNG MENUNJUKKAN POTONGAN-POTONGAN ADEGAN SUPER PENDEK.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Babak 1</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">PERPUSTAKAAN KAMPUS Jali di Jogja.Jali nampak membawa setumpuk buku ke meja, duduk lalu membaca-baca satu persatu.<span> </span>Lalu Anik masuk dan sedikit terkejut tapi seneng.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Heh, Anik </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>(<em>menoleh dan terkaget dengan riang</em>) Hai.., apa kabar? Tumben, baru jam sembilan mas, kok udah bangun, dah sampe perpus segala, tapi kayaknya belum mandi deh.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span><em>(Tersenyum) </em>Kamu cari apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>Biasa, bahan skripsi dong&#8230;.. suruh ganti judul terus..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>(<em>tersenyum, Anik duduk di depan Jali. Matanya memandang sesekali tersenyum menggoda</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>: <span> </span>Kok baca di sini, bisanya bawa pulang? Nanti<span> </span>di susul Sasa lagi, lho. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>: <span> </span>Yah..Kalopun dia nyusul, paling nggak aku udah mbaca meskipun baru satu halaman. Kalo di bawa pulang malah nggak sempet baca sama sekali, sekarang jam sembilan to? Pasti dia udah di kosku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>: <span> </span>Eh, gimana kuliah kamu, kok kayaknya nyantai banget sih?&#8230;&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(diam lama, Jali cuma tersenyum. Anik memandangi wajah Jali. tersenyum lalu&#8230;)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>Eh.. Nggak kerasa ya. kayanya udah lamaaa benget kamu nggak ke kosku. Udah lamaaa banget nggak&#8230;.. (<em>Anik tak meneruskan kalimat nya, tapi mereka saling berpandangan, sambil menyimpan senyum masing-masing.</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>(<em>tersenyum</em>) baru 4 bulan. abis kamu pake pindah kos segala, udah jauh, nggak boleh ada cowok nginep.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>UUh maunya, &#8230; kangen ya bobo di kosku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ah, udah ah, ngga usah mancing-mancing. kamu kan udah ada cowo baru, polisi lagi. Namanya siapa? Udhien ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>: Udhien, Bripka Udhien (<em>dengan gaya centilnya, tapi tiba-tiba mrengut dan merengek manja..</em>) sekarang dia di Aceh.. sampe bulan September&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(Jali hanya tersenyum, lalu asik baca buku, sesekali mereka saling curi pandang, terdengar lagu. Rombongan pengamen ke panggung menyanyikan lagu cinta untuk mereka berdua.)</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>(<em>sebelum lagu usai pengamen berangsur meninggalkan panggung)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Tadi nanyain kuliah ya. Aku sudah nggak kuliah Nik, tapi belum wisuda, aku DO, sudah neg, salah jurusan kali ya? <em>(Keduanya tertawa)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>eh..eh.. berarti nganggur dong? Ikut aku aja tak kasih kerjaan, mau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>apa, mijitin kamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>mau?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>: kalo mijitnya sambil tiduran mau. Trus pake cream massage, trus&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>: (dengan tawa&#8230;) hayo..hayoo.. hayoo.. pake apa&#8230;? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>tapi nggak jam segini ah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>jam tujuh?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>5 jam kemudian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>: mmmmmhhhhh (<em>bergaya berpikir sambil senyam senyum menggoda</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">HP Jali berbunyi, ia meraih handphone, memandang dan ekspresi wajah berubah agak males.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>: Ya. Di perpus, kan udah dibilang., kalo jam segini ga ada di kos ya di perpus. Ya udah ke sini aja. Tanggung, dikit lagi wis, ya&#8230; iyyaaa&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>: cihui&#8230; pacarnya ya mas? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>eh gimana-gimana tadi? (<em>sambil cengar-cengir</em>..)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>Huuuhh&#8230; udah keleg. Eee&#8230; terus kegiatanyya apa sekarang? Teater terus?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>namanya hobi nggak bisa ditinggal Nik. Malem latihan teater, trus siang sore nulis-nulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>Nulis apaan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Apa aja. Aku pengen jadi penulis, kerjanya bebas, bisa kerja dimana aja. Bisa pergi ke mana aja buat cari inspirasi. Yang penting bebas..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>Pacarannya juga pengen bebas ya..? dasar <em>(tersenyum)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">terdengar nyanyian</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali dan Anik asyik ngobrol, Tak sadar kalo sasa datang. Sasa mengeluarkan Hp, menelepon Jali. Jali mengangkat telepon dan menjauh dari meja untuk berbicara di telepon, tetapi membelakangi sasa. Suasana menjadi Aneh, isyarat bahwa babak ini adalah babak khusus..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>seperti biasa aku bawakan Kamu sarapan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Seperti biasa taruh saja di meja, aku belum lapar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Aku hanya ingin kau merasa disayangi, bahkan kau ketagihan diriku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Aku hanya ingin kau terlihat setia dan mengabdi, bukan mengasihani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Setidaknya di mata orang kau akan dianggap beruntung punya aku, aku seperti malaikat suci yang bertugas menyelamatkanmu, dan begitu juga menurutmu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Di tengah banyak kekuranganku, Aku akan terlihat tetap punya harga diri dan keistimewaan. Logis saja, Jika aku tak punya satupun hal baik mana mungkin seorang gadis setia mengirim sarapanku. Sederhana pikiran orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Ada banyak hal yang berbeda diantara kita, dengan begini kau akan tunduk dan takluk padaku&#8230; kau membutuhkan pertolonganku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Entah di matamu, aku hanya ingin membangun harga diriku yang memang tak bisa ditegakkan dengan materi sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Perempuan malaikat penolong</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ksatria dalam impian siapa saja</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Ini sarapanmu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Taruh saja di situ.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Suasana berubah menjadi seperti semula, Jali duduk menghadap Anik, Sasa berbicara dengan Galak.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>heh, matanya ke mana sih? (J<em>ali dan Anik kaget, Anik tersipu berpindah ke meja lain.) </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Makanya kalo ngobrol sama cewek tuh pake tengak-tengok&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa duduk di kursi yang tadi diduduki Anik</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Huh, di bilangin suruh nunggu di kos jangan pergi dulu malah, nongkrong di sini! <em>(menengok ke Anik, tersenyum formalitas, lalau duduk. Jali kaget dan pindah duduk di meja baca)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Mang mau ke mana? Kan juga udah di bilang, kalo aku nggak ada di kamar, nggak ada pesen di pintu, berarti aku ke sini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Iya tapi, mandi dulu kek, njijiki banget sih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(Keduanya terdiam, Jali terus baca buku, Sasa melihat wajah Ijal dengan pandangan penuh ketidak mengertian.)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>: <em>(sambil menguap) </em>udah yuk, ngantuk nih,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>: <span> </span>ke mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>ke kosmu </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ngapain?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>: <span> </span>tidur, ngantuk nih…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span><em>(agak kesal)</em> ya udah sana kamu aja tidur, aku mau baca di sini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>temenin, cuma nungguin aja, aku tidur trus kamu juga harus ada di kamar, jagain, mo ikut tidur, mo tiduran mo duduk mo jongkok berdiri terserah, pokoknya jagain, kalo ada temen kamu masuk trus aku diapa-apain gimana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>(<em>bergaya batuk-batuk setelah itu melirik ke arah mereka berdua</em>.) <em>Sasa dan Jali juga menoleh</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span><em>(bangkit menuju ke rak, mengambil satu buku lagi, tak menjawab)</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>: <span> </span>Heh, gimana? Punya mulut nggak sih? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span><em>(diam, menatap dengan jengkel)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Mau, kamu, aku diapa-apain sama temen kosmu, tuh si Eka tuh, matanya suka gatel kalo ada aku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>: <span> </span><em>(sambil lalu)</em> ya digarukin, dia kan temen kamu juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span><em>(seolah tersinggung)</em> Heh, kok gitu? Kamu nggak mau nemenin Aku? Trus kita ini ngapain? Aku tuh setiap pagi ke kos kamu, bawain sarapan, dan selalu aja kamu udah di sini, baca buku lah, nulis cerpen lah, nulis naskah lah, bikin konsep lah. Aku tuh pacar kamu Jal, mana waktu kamu, siang baca buku, nulis buku, malem latihan teater, kamu mau hidup yang kaya apa sih..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ziza, Pease&#8230;. aku lagi ngerjain pesenan makalah Analisis logam berat buat anak kimia semester 4, sama makalah Ilmu budaya dasar anak semester 2. Mereka baya, Lumayan buat beli rokok. Besok aku juga harus nyerahin pesenan pak Narto dosen kamu tuh, mereka pesen artikel pendidikan buat ngisi majalah kampus tapi atas nama dia. Kalo dia cocok sama tulisanku, bulan depan dia sama pak Sugi mau pesen diktat. Atas nama dia juga, kan lumayan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>;<span> </span>Ha&#8230; Pak Narto pesen makalah sama diktat ke kamu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Seminar nasional kemarin, Makalah pak Narto judulnya “Radaisi Alumunium dari peralatan rumah tangga, mengakibatkan kegemukan&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<em><span> </span>(memotong)</em> itu kan kepilih jadi makalah terbaik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>itu yang nulis aku, dibayar 500 ribu. Bh dan baju renangmu itu cap makalah tahu? Makanya kalo pengen dibeliin CD pasangannya, atao mau BH model lain, apa baju apa tas, apa hot pants, lingerie, komputer sepeda motor, mobil, rumah, jangan ganggu aku kalo lagi baca apa nulis&#8230;. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span><em>(agak kikuk sambil senyum-senyum)</em> E,,.. Mas Jali mau pulang sekarang apa nanti?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(bersama-sama)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>nanti </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>sekarang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(keduanya saling pandang, Ijal membuang muka)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>kalo pulang nanti, aku nitip tas bentar, mau ke ruang internet bentar, 15 menit aja kok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ya, ya biar Aku tungguin,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span><em>(sambil jalan keluar) </em>15 meniiiiiit aja </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>satu jam ga apa2, kalo ada orang nyolong tasmu biar aku yang nyathet.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span><em>(sasa berdiri)</em> kamu mau tetep di sini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span><em>(memandang)</em> Ziza..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:SASA!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>please, aku lagi ada pesenan tulisan. Kalo kamu pengen sama aku, ya di sini dulu, nanti Anik balik kita pulang..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Kok kamu lebih seneng nungguin perpus buat anik daripada nungguin aku tidur,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span><em>(agak kesal, menghela napas)</em> tadi malem ngapain kok sekarang mau tidur, kamu dugem lagi..?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span><em>(terdiam)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Za, aku takut, kamu tuh nanti kebiasaan, dugem itu kerjaan orang kaya yang pengen hura-hura, aku tahu kamu ada duit, tapi nggak usah pake gitu lah,….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>: <span> </span>Jal, please, aku butuh perhatian kamu, tapi bukan yang kaya gitu tahu nggak sih? Emang apa salahnya ke dugem? Emang aku bunuh orang di sana? Aku jual cimeng?&#8230;.. kalopun aku minum bir itu tuh buat formalitas aja, masa dugem suruh minum susu. Plese, ngerti dong, aku tuh Cuma cari angin seger aja, aku di sana nggak berbuat criminal, Jal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ya udah-udah, terserah kamu, tapi sekarang kamu diem dulu aku selesain baca sebentar, nanti pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>: <span> </span>bawa pulang napa sih? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>: <span> </span>bawa pulang? Emang aku bisa baca di kos kalo ada kamu? Yang bener aja Za, kalo ada kamu di kamar kos, pasti suruh nungguin kamu, denger cerita kamu, mijitin kaki, apalagi kamu numpang tidur, suruh nutup korden jendela, matiin lampu, mana bisa aku baca? Udah gitu suruh megangin tangan kamu yang lagi tidur, aku gerak sedikit kamu bangun trus marah marah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>: <em>(beranjak dengan kasar menuju pintu)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>: <span> </span>Ziza! &#8230; Ziza</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Sasa!, berapa ratus kali aku bilang, Azizah itu nama udik, kampungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ziza! <em>(berdiri melangkah dari meja, berbicara lebih tegas)</em> Aziza Sukemi, emang itu nama kamu kan, inget Za, rumah kamu tuh juga di kampung, di gunung Merbabu sana. Untung kamu tuh anak tunggal, jadi semua duit bapakmu bisa ngalir ke kamu semua, tapi kamu tetap orang kampung. Kalo pun kamu pengen hidup cara kota, ya ok, tapi nama itu nggak ada yang kampung nggak ada yang kota, itu nama pemberian orang tua kamu Za,.. nggak usah sok lah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span><em>(maju mendekati Ijal) </em>Sok? Sok? Kamu yang sok tahu nggak sih? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>emang Jali juga nama kamu? kamu sendiri pake nama samaran gitu. kamu juga malu kan sama nama asli kamu. Sunyoto aja bisa-bisanya jadi Jali. Norak tahu nggak!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Tapi kan Jali itu ada artinya, Wahyu yang cemerlang, daripada Sasa, itu merek bumbu masak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Jali Jumper, itu tuh nama kuda, kudanya Lucky Luke. Pantes kelakuan kamu juga kaya kuda, napsuan!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Udah lah biasa aja, Nama kamu Azizah, itu bagus, islami, arabik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>emang kamu bapakku, emang keluar duit berapa kamu ngurus-ngurusin namaku segala. berapa yang kamu pake buat nyenengin aku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Za,&#8230; ati-ati, cara ngomong kamu aja sekarang tambah sok-sok an, inget Za, kita orang desa, orang timur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Kamu yang sok! Sok teater kamu. Sok timur, sok dewasa, kamu juga nggak jauh beda sama aku. kamu juga nglupain keluarga kamu kan? kamu sering main ke rumah bapak makku di magelang, tapi kamu sendiri nggak pernah pulang ke rumahmu sendiri kan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Sudah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">sasa<span> </span>:<span> </span>belum!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali <span> </span>;<span> </span>Terusin..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>;<span> </span>trus kamu tuh nggak konsisten sama omongan. Kamu berteater katanya cari penghayatan hidup, biar hidup nggak materialistis, ikut mendidik masyarakat, nyatanya? Kamu sendiri melanggar norma, nidurin cewek sembarangan&#8230;. <em>(keduanya diam sebentar)</em> sok anti amerika, anti kapitalisme, tapi nyatanya kamu sendiri yang nyuruh-nyuruh aku ganti HP 2 bulan sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Nyuruh-nyuruh orang hidup apa-adanya, mengecam cewek-cewek koban mode, nyatanya, kamu juga yang ngusulin aku pake CD model G-string, kamu juga yang ngajak aku beli Hipster sama kaos ktat model britney Spears. Soal pacaran apalagi. Berapa kali kamu bilang nyesel udah gituan sama aku, yang bilang dosalah,<span> </span>merusak kepribadian, tapi berapa kali juga kamu nggak nolak setiap aku pancing-pancing? Kamu yang sok tahu nggak sih. sok nggak doyan sex, padahal aku tahu kamu nafsunya gedhe. Kamu pasti nglamun sehabis ngeliat pantat si Endah. bahkan pernah tidur sama cewek yang bukan pacar kamu. Aku tahu di bawah kasurmu ada banyak gambar porno. di rak buku kamu juga ada print-prinan cerita porno&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ziza..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>17 tahun.com! kamu dah 25 tahun goblok!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ziza, please..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span><em>(memotong)</em> Sasa!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Aziza</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Sasa!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(kedua nya terdiam mematung. Lampu berubah, musik techno mengalun, di belakang muncul para bayangan wayang.)</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Lampu berubah. Set berganti</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Terdengar LAGU</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Babak 2</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Rumah Azisa di kaki Merbabu.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Nek kados kula ngoten, Wah, remen-remen mawon Mas. Tegesipun onten tiyang sing njagi anak kula, nuntun ben teng ngrika menika mboten muspra, mboten mung ngguak duit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Ha, wong ngriki niku nggih ket riyen mboten ngertos carane ndhidhik anak sing bener, sekolah mawon nggih mboten. Ehh. Saiki nde anak wis gedhe malah kados ngoten niku Mas, Lehe ngandhani ngasi tobat Mas Jali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(semua terdiam dalam lamunan masing-masing)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Wong Kuliah gek setahun wae wis nggaya. Jenenge ndadak di ganti-ganti dhewe, gek nek ra cocok nesu..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Napa nek kalih mas Jali nggih nyuwun di celuk Sasa ngoten napa? Mboten purun di celuk Aziza ngoten?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Nggih nek kalian Bapak Ibu mawon mboten purun, napa malih kalih kula bu. <em>(tersenyum) </em>Tapi kula mboten purun nek nyeluk Sasa, kula nggih tetep nyeluk Ziza ngoten, nesu yo ben. Wong mangkeh nek nesu dijak teng Alun-alun kidul tumbaske arum manis pun nguya-ngguyu kok bu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(semua tertawa kecil)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Wis pirang minggu Sasa ra bali yo mak?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>pirang minggu, pirang sasi&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>kawan wulan pak,.. kula tesih kemutan terakhir ngeterke niku lak februari, pas kulakan kembang mawar ting tegalrejo damel valentinan nika. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>O iya.. ya.. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Wah, Nyuwun Pangapunten lho Mas Jali, ngantos malah njenengan sing mriki mben minggu njikukke sangune Sasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Bapak ki kok ya melu-melu nyeluk Sasa lho..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Yo ben kulina, mengko nek pas bocahe bali trus lali celukane rak malah dadi tangis. <em>(kepada Ijal)</em> Napa Sasa niku dipun damelaken tabungan ting BANK mawon Mas Jali, mangkeh ben njenengan mboten wira-wiri Jogja megelang-jogja megelang mben minggu, mangkeh lak saget kula kirim lewat BRI pasar mriku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Janipun Ziza menika sampun gadah rekening tabungan pak, Namung sanes BRI, tur nggih namung damel pranti nyimpen duit thok. Menawi soal kiriman saking Bapak, pun kula ingkang mendhet kados ngeten niki mboten napa-napa pak. Sekalian, Ziza mboten purun wangsul nggih kula gantose to pak. Kalih kersane mriki rutin enten tamu, ketok payu ruang tamune ngoten lho pak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span><em>(melihat ke arah jam dinding)</em> Wah, sampun jam sekawan mas, mangkeh kewengen, monggo menawi badhe kondur sakniki, badhe ngasta napa? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>sampun bu, wong kula namung mbeta tas alit, magkeh mboten cukup, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>nggih sithik-sithik mas, masa ra nggawa apa-apa. Niki pun tak plastik je<em>, (masuk ke ruang dalam, lalu keluar dengan bungkusan)</em> Nggo, niki gula, kopi kalih teh, napa kersa ngasta pisang? Kula pendhet nggih? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Sampun bu! Mboten-mboten, pun niki mawon.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Wong ting nggriya namung berduaan ngeten, sinten sing ngentekke?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Nggih kagem Mas Gathot kalih lare-lare poskamling bu, ben mboten nggrebek kula nek pas nginep mriki. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span> A nggih mboten bakalan digrebek mas, wong pun sami kenal Mas Jali to? Pun dho paham nek Mas Jali mriki mboten ajeng macem-macem. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Yo ra macem-macem, satu macem kok nggih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(Semua tertawa)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Pareng pak, Bu <em>(sambil bersalaman dan mencium tangan)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Lampu Berubah</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Terdengar Lagu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Adegan berikut ini tidak dijalankan tyidak dengan gerak-gerik realis. </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Siapa Anik?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Bukan siapa-siapa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(diulang 6 Kali)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Siapa Anik?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>teman</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Teman Bicara?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Dan lain-lainnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Berkeluh Kesah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Semacam Itu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Menyandar Lelah<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Salah satunya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Jasmani dan rohani?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Biar lengkap sekalian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Seluruh Perasaaan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Jasmani dan Rohani</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Kamu tidur dengannya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Aku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Apa tidak cukup semua dariku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Seluruh remah-remah masa mudaku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Segala kemolekan duniawiku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Segala pengabdian dan pertemananku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Tidak sepantasnya kamu bergantung padanya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Di bukan apa-apa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Bukan sama sekali ada dalam garismu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Dia hanya benalu, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Dia menghisapmu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Dan akhirnya aku </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Dia sahabat terbaikku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Yang mengerti rahasia-rahasia yang seharusnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Dia melengkapi adamu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Memberiku sesuatu yang tak mungkin darimu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Dia pengobat kebosananku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Menjadi perhiasan kecil di jari-jariku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Pembangkit geliat waktu-waktu keduaku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Menggantung seperti anting di sebelah telingaku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Dia seperti putri malu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Mewarnai daun-daunku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(bersama-sama)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Ziza<span> </span>:<span> </span>Jal&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Za&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(berulang-ulang)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Babak 3</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">KAMAR KOS JALI. ANIK SEDANG TERSEDU. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Seingatku, aku ga pernah sampe&#8230;..<span> </span>Berapa bulan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span><em>(masih terisak dan tak menjawab)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Nik? Berapa bulan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>tiga bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Tiga bulan? Apa …. Itu anakku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span><em>(menggelengkan kepala)</em> kita tidur bareng kan bulan februari, 18 Februari *. 4 bulan yang lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Tapi bisa saja kan itu anakku? Dan kalo memang iya, aku tanggung jawab Nik…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(keduanya terdiam, Jali menyulut rokok.)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>nggak perlu Jal, waktu itu, aku menerima acara tidur sama kamu sebagai hadiah Ulang Tahunku, itu saja. Kalo memang bayi ini hasil hubungan kita, aku tetap nggak mau mengganggu hubungan kamu sama Sasa. Biar ini jadi tanggunganku, lagian toh aku punya pacar, kami juga sering tidur bareng. Semoga ini bayi anak mas Udhin. <em>(Anik kembali menangis)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Udhien sudah tahu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>(<em>menggeleng kepala</em>) belum. Dia sekarang di Aceh sampe bulan September. (<em>tangisnya menjadi jelas</em>). Kalo dia ketahuan menghamili, dia pasti di pecat, dan&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Tapi dia pasti nggak mau menikahi aku,……… Dia pasti nyuruh aku aborsi, aku takut… <em>(tangisnya meledak lagi)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(Jali tak mampu berkata, selain hanya memeluknya. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Musik mengalun&#8230; lembut, namun mencurigakan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa masuk tiba-tiba di tangannya memegang selembar kertas. Ia terkejut melihat Jali berpelukan, berdiri terpaku)</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Jal………. <em>(menangis)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span><em>(berdiri dan segera mendekat Sasa, tetapi pada saat Sasa ingin berbalik ke luar kamar itu, Ijal memegang tangan Sasa)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Ziza,………..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Lepasin!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ziza, sabar dulu, biar…….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span><em>(memotong)</em> Lepasin! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span><em>(tangan Jali melepas pegangannya) </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>Kamu Assu! <em>(menampar Jali)</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ziza, kami Cuma….</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span><em>(memotong)</em> Cuma? Cuma? Kalian berpelukan Jal, di kamar kamu… <em>(sambil sesengukan)</em> Dua tahun kita pacaran, belum sekalipun aku lihat ada cewek selain aku di kamar kamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Aku nggak nyangka kamu&#8230;. Munafik!, Kamu enak-enak nidurin dia sebagai hadiah Ulang tahun? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span><em>(mendekati anik yang terus menangis)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Heh, untung dari dulu aku nggak pernah berhasrat berteman sama kamu, ambil dia, suruh dia nikahin kamu, kalian jodoh, satunya Lonte satunya gigolo</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ziza! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>(<em>melempar selembar kertas itu ke wajah Jali, lalu segera pergi. Kertas itu jatuh tajk dipedulikan Jali. Jali mengejar Sasa. Anik memungut kertas itu dan&#8230;..</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali masuk</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Anik<span> </span>:<span> </span>Jal,&#8230; (<em>terbata-bata, Jali tak melihat kertas yang sedang di baca Anik</em>) Jal&#8230; Sasa,.. Sasa.. Juga Hamil&#8230;. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali merebut surat itu, membaca sebentar lalu berlari keluar sambil memanggil Sasa.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Ziza&#8230;. Ziza&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Lagu oleh dalang</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span></span></em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Surem-surem denwangkara Kingkin</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Lir Manungsa, ingkang layon</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Wadananira kang wus &#8230;&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Kumel, Kucem</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>(suluk meninggalnya abimanyu di Baratayudha)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Selama Suluk ini, Anik masih terdiam dalam Kamar Jali. Sendiri&#8230; sampai akhirnya mulutnya mendendang sedih&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sebuah lagu terdengar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Lampu berubah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Babak 4</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Rumah Sasa di Magelang. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Intro babak ini tidak dijalankan dalam adegan realis</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Pak, Kaya-kaya aku ngimpi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>wisik pertanda seka alam kana</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Aku nandur duren ning njero omah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Nenandur sing ora sak mestine</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Sedhela wis ngrembuyung godhonge</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Nutupi lampu metengi omah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>saya suwe saya dhuwur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>mruntus ngambrolke gendheng</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Oyote mlungker ning ngendi-endi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Mecah jobin ngebrukke saka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Pak&#8230; Omahe ambruk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Mak&#8230; Omahe ajur..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Para pemusik<span> </span>:<span> </span>Pak dhe Kemi&#8230; Azizah meteng po? Kok wetenge menthelis</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Mbok dhe Karsih, Azizah ki nek Mlaku ndegeg, saya lemu.. po malah meteng po yo?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>(diulang-ulang dalam berbagai variasi..)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak Simak<span> </span>:<span> </span>Masya Allah&#8230;Pak.. Anakmu meteng&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Mak.. Anakmu Meteng&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>(berulang-ulang)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Lampu Berubah. Lalu posisi Bapak dan Simak berubah menuju Amben ruang tamu. Di situ sudah ada Jali. Adegan berjalan normal.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Upama mboten kelingan nek umur kula niku pun 40, wis uwanen. Upama mboten kelingan kalih agama. Kula niku pun nangis nggero-nggero njur nggantung, bunuh diri Mas. Anak siji, diragati nganti kerja ra ngerti wayah.. kok ning kana ya polah ra ngerti wayah&#8230; Mbedhedeg ati kula Mas. Tangga-teparo dha ngisin-isin. (<em>diam agak lama</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Njur sing ning njero uteke kimia apa nongo?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>(<em>setelah hening</em>) Kados pundi mawon, kula ingkang resmi pacaran kalih azizah, kados ingkang Bapak Ibu pirsa. Kula wantun tanggel jawab. Kula estu remen kalian dik azizah, Kula purun nikah Pak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span><em><span> </span>(bapak Ibu itu terdiam)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>O alah Gusti…. Kaya-kaya ora ngimpi, gek salah apa awak dhewe iki pak.. pak&#8230; nde anak siji kok ya kelakuane kaya ngono. Kok ya tega nglanggar pesene wong tua, dipercaya ra ngerti di percaya., di kirim ning Yoja kon sinau ben suk dadi uwong malah turu karo sapa-sapa, gek ra ming siji sing nuroni… gek njur sapa sing di kon tanggung jawab. O alah gusti… nyuwun pangapura…. <em>(terus menangis)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Wis to Maakk… apa njur nek di tangisi ki rampung urusane po piye? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span><em>(kepada Jali)</em> saderengipun kula matur nuwun Mas Ijal purun tanggel jawab, ning azizah piyambak sampun ngakeni menawi lare menika mboten namung tilem kalih njenengan thok, dados dereng saged mangertos menapa bayi menika saking njenengan menapa lare sanesipun mas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span><em>(terdiam kemudian menjawab)</em> Kula sampun mantep pak, menawi Kula sagah tanggel jawab, ngakeni bayi menika mangkeh kados anak kula piyambak. Wong nyatane nggih kula barang ingkang asring tilem kalian azizah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Namung masalahipun Sak menika larene wonten pundi kula mboten ngertos, sampun kalih dinten kesah saking Kos-kosan mboten pamit kalian rencang-rencangipun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Sak menika ngaten mawon, panjenengan kondur Jogja, dipun cobi madosi, kula nggih madosi ting sedherek-sedherek Magelang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Menawi wonten napa-napa, kula dipun telpon mawon pak wonten kos-kosan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Nggih&#8230; Nggih&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Menawi ngaten, kula nyuwun pamit rumiyin pak, mangkeh ndak kedalon </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Nggih.. ngatos-atos, mas…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">(Jali keluar, Pelan-pelan Bapak dan Simak mendekat, duduk menghadap ke depan sejajar, dengan suasana dan bentuk teatrikal keduanya mengucapkan :</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Simak<span> </span>:<span> </span>Gusti .. Nyuwun Ngapura..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Wiwit cilik digadang-gadhang, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Bareng gedhe gawe panandhang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Apa kurang lehku ndedonga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Apa kleru nggonku memayu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Bapak<span> </span>:<span> </span>Gusti&#8230;. Nyuwun Ngapura</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Biyen Kaya katon sampurna</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Nganti gawe meri sapa-sapa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Sing biyen pantes dibombong-bombong</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Saiki malah atine diobong.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa Keluar dari ruang dalam, BaPak dan Simak menoleh dan otomatis menghentikan suara mereka, Bapak dan Simak masuk, Sasa sendirian, diam, Kosong&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Lampu berubah</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Babak 5</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sebuah lagu terdengar, berbahasa Jawa. Lagu itu adalah tembang ketegaran Aziza, untuk tak merepotkan siapapun. Membesarkan anaknya sendiri.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span><span style="text-decoration:underline;">DI PANGGUNG TERLIHAT JALI BERGETAR MEMBACA SELEMBAR SURAT. DI BELAKANGNYA KELIR MENAMPILKAN SILHOUTE AZIZA.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span style="text-decoration:none;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Ya, kita pernah terlahir sebagai orang timur, namun orangtua kita terlalu bodoh untuk membiarkan kita mengenal sesuatu berbau barat di kota. Ya secantik apapun aku, toh panggilanku sasa, merek bumbu masak. Barangkali makanan menjadi enak karenanya, tapi sekaligus, kita tak akan pernah menjadi bangga hanya karena mengantongi bumbu masak di tas kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Aku, yang terlahir sebagai putri tunggal, sungguh tak pernah melihat sebuah larangan dan kekangan. Terima kasih, telah memberitahuku, bahwa tak semua bagian dunia memanjakanku, dan bertrimakasihlah padaku, sebab telah memberitahumu bahwa di dunia ini tak semua orang tangguh dan bijak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Cukup sudah pelajaran darimu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Sekarang saatnya aku berguru pada guru yang sebenarnya, Kehidupan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Dan maaf, di sekolah kehidupanku, tak ada yang bernama Jali, sebab aku memang harus terpisah dengannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Di rahimku ada bayi. Catatlah di buku harian tembok kamarmu, bahwa ini anakku dan anakmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Demi dia, aku pergi. Aku tak ingin dia dekat dengan ayahnya, Andai dia Lelaki, aku hanya ingin dia tumbuh bukan menjadi sepertimu, <span> </span>Andai dia perempuan, dia tak boleh ketagihan lelaki semasa dewasa nanti. Percayalah, aku akan terus mengintaimu, aku akan terus mengetahui di mana kamu berada, tak boleh hilang, karena aku ingin suatu saat nanti, jika saatnya tiba, aku dan anak kita akan datang padamu. Kawinlah dengan wanita lain jika kau mau. Jangan lupa bilang padanya, kau sudah punya anak, di suatu tempat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">LAMPU BERUBAH</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">DALANG MENGANTARKAN PERPINDAHAN WAKTU&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">lima TAHUN KEMUDIAN</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Babak 6</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">SUATU TEMPAT. SASA BERJILBAB. SEOLAH-OLAH SEDANG BERMAIN DENGAN SEORANG ANAK. JALI MASUK PELAN-PELAN, MEMANDANG DAN MULAI MENUNJUKKAN SELURUH KERINDUAN ITU.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>(<em>mendorong ayunan fiktif)</em> Ya&#8230;&#8230;.<span> </span>ya&#8230;&#8230;&#8230;. ya&#8230;&#8230;. enak? Enak nggak? Oo mama nggak berani, mama takut jatuh. Kalo ade kan hebat, pemberani. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Apa, siapa oo itu Erwin sama papanya. Kemarin sama bu guru ditanya? Gimana tanyanya? (Berhenti mengayun)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Siapa yang punya papa? Gitu? Trus adek bilang apa? Diem aja?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Trus ditanya papanya namanya siapa gitu? Apa? papanya ade? Eee&#8230; eee&#8230;eee papa&#8230; mmmm papa sedaanng&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>(<em>memotong</em>) jangan bilang papanya sudah mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>(<em>terkejut</em>) kamu&#8230;&#8230; dari mana tahu aku di sini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>sasa,&#8230;. aku mau ketemu anakku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Keduanya berpandangan, Sasa memberi isyarat pada anaknya untuk bermain bergabung dengan Erwin. Mereka berdua duduk, diam, agak lama.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>:<span> </span>Sasa&#8230;. dia anakku juga</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>: (<em>menunjukkan tangis</em>) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:78pt;text-align:justify;text-indent:-78pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Jali<span> </span>: Ada banyak macam manusia Sa, dan itu yang kita tak mengerti&#8230; dulu. Sasa,&#8230; apapun kamu, darimanapun, dengan pakaian apapun aku tak boleh menolaknya. Sebab Kamu, Sasa adalah sesuatu yang dibentuk oleh apa yang kamu kenakan, kamu bicarakan, dan kamu lakukan. Jika ada yang berubah, maka bukan lagi Sasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:78pt;text-align:justify;text-indent:-78pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Tak ada alasan untuk harus berganti selain Sasa, meski juga tak ada alasan mengapa harus Sasa. Seperti halnya aku. Sunyoto yang tetap sunyoto di mata orang tua dan tetangga-tetangga di desa. Tapi bukan bagimu dan kawan-kawanku di sini. Aku telah menjadi Jali, sebab apa yang aku bicarakan, aku lakukan dan aku kenakan adalah &#8230; Jali. Tak ada alasan untuk menolak Jali, kecuali demi kemerdekaan Sunyoto, dan tak ada alasan untuk menghindari sunyoto, kecuali untuk memilih Jali. Kita semua tak akan selesai memilih,&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:78pt;text-align:justify;text-indent:-78pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Dan Karenanya, aku tak akan meilih&#8230; Sasa, atau Ziza&#8230; Tapi aku meilihmu, dan kau adalah Sasa&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:78pt;text-align:justify;text-indent:-78pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"><span> </span>Sasa, aku&#8230; masih sendiri. Setiap hari mimpiku hanya tentang Sasa, aku yakin bahwa kamu, Sasa, adalah memang takdirku. Sa.. beri aku&#8230;. <em>(berhenti bicara karena Sasa menggerakkan tangan isyarat minta Jali berhenti bicara</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:78pt;text-align:justify;text-indent:-78pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>:<span> </span>(<em>mengatur nafas dan meredakan tangis</em>). Jal&#8230;, please, &#8230; tolong&#8230;..<span> </span>Panggil aku Aziza.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Musik hening beberapa saat, Jali kaget, bergeser dan mengangkat wajah menatap wajah Sasa. Bibir Jali bergerak memanggil AZIZA, tapi tak keluar suaranya, di coba sekali lagi. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Sasa<span> </span>: Ya&#8230;.. (<em>sambil menangis</em>) Panggil Aku AZIZA..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Mereka berpelukan. Suluk dalang mengalun, lampu redup. Pertunjukkan selesai, tapi penonton tak juga beranjak, barangkali karena terpukau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:81pt;text-align:justify;text-indent:-81pt;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Yogyakarta, 29 April 2005.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=44&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-panggil-aku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naskah : Becik Nitik Ala Pilara</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-becik-nitik-ala-pilara/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-becik-nitik-ala-pilara/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 05:56:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Becik Nitik, Ala Pilara Sandiwara Kampung * M. Ahmad Jalidu BABAK 1 Omahe kang Marto. Somat, anake kang Marto lagi wae bali, dheweke mbonceng Mas Bambang lan didhunke ngarep omah. Saka njero keprungu suara megaprone Mas Bambang. Kang Marto : &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-becik-nitik-ala-pilara/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=41&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong></strong></p>
<p><span style="font-size:22pt;font-family:AmateurLobotomy;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:22pt;font-family:AmateurLobotomy;">Becik Nitik, Ala Pilara</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sandiwara Kampung</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">* M. Ahmad Jalidu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">BABAK 1</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Omahe kang Marto. Somat, anake kang Marto lagi wae bali, dheweke mbonceng Mas Bambang lan didhunke ngarep omah. Saka njero keprungu suara megaprone Mas Bambang.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto <span> </span>:<span> </span>“Diterke sapa Le?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Mas Bambang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span> “Mas Bambang ki jan apikan tenan ya, karo sapa-sapa isa akrab. Karo cah mejid ya srawung, karo copet ya srawung.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto<span> </span>:<span> </span>“Huss! Bu, nek omong ki ra waton!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>“Waton apa? Cen nyatane kaya ngono kok. Mas Bambang ki cen apikan, njur anakmu ki ya copet tenan”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>: <span> </span>“Alah! Mung pisan wae kok njur dicap. Aku nyopet mung pisan mbok. Gek sasi pasa wingi kae. Kuwi sing melu ngicipi dhuite ya sapa? Simbok barang to? Nek ra reka-reka tak golekke tangeh isa melu mangan iwak pitik kaya tangga-tanggane, Mbok”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto<span> </span>:<span> </span>“Le! Isa mingkem ora? Rembugan bab nyopet yo ndadak mbengok-mbengok, alon sithik isa ra? Krungu kiwa tengen rak ya ra kepenak!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>: <span> </span>“Wis kana lek adus. Njur ning ngomah wae, rasah lunga meneh. Bocah kok ra isa ning ngomah sak jam wae. Minggatt terus…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Sak sirku to Mbok! Awak-awakku dhewe, sikil-sikilku dhewe, nyawa-nyawaku dhewe”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto<span> </span>:<span> </span>“Mat! Cangkemmu ditata! Omong karo mbokne kaya omong karo gali pasar!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>(<em>Mlebu ing kamar, njawab seka njero kamar</em>) “Kula ra ngomong ro gali pasar pak. Ning karo Bojone Gali pasar!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>Bu Marto mlebu perangan njero omah, Pak Marto meneng.</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto<span> </span>:<span> </span>(<em>nyeluk bojone</em>) “Nah! Nah!..,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(Ora ana sing njawab. Kang.)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto<span> </span>:<span> </span>“Nah! Bajigur!! Kupingmu kesumpelan aspal po piye?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>(<em>seka njero</em>) “ngapa ta? Aku ki krungu. Ning gek mbenakke panci ning kompor. Ngapa ta?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto<span> </span>:<span> </span>“Tuju enamku mau ning <span> </span>ngendi?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>(<em>Teka ning ruang tamu karo nguncalke rokok 76 ning meja</em>) “sing udud ki kowe kok aku sing takoni, goleki dhewe pa ra isa? Padhakke babu wae.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto<span> </span>:<span> </span>“Kok malah ngejak padu ta kowe ki? Bedane bojo karo babu ki, nek bojo dituroni kon meteng, nek babu ki dituroni ning aja nganti meteng.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>(<em>Mbalik mlebu njero</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto<span> </span>:<span> </span>“Kaya kowe mbiyen, mbabu ning tokone Koh Liang kae rak ya ngono ta? Koh Liang nuroni kowe ning karo diombeni anggur ben ra meteng!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>(<em>Teka ning ruang tamu karo nesu</em>) “Pak! Ra ngayawara lho kowe ki. Arep golek perkara meneh? Nek omong ki naganggo dipikir! Dhasar wong ra mambu sekolahan ya ngono kuwi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kang Marto<span> </span>:<span> </span>“Sekolahmu ki apa? SR ya ra rampung wae kok.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>Somat njedhul</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Wis to mbok. Nek pancen mbiyen tau dituroni Koh Liang ya ngaku wae, wong bapak ya nrima kok. Nek pancen ora, ya rasah diwangsuli. Kaya ra apal. Cangkeme bapak kawit mbiyen ya ngono kuwi. Wis, aku tak metu dhisik.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>“Rasah mabuk-mabukan meneh!’</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>(<em>sambi bablas metu omah</em>) ‘Mabuk ya ra papa angger ora matengi uwong!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">BABAK 2</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ning Cakruk prapatan njeron kampung. Bocah-bocah nom padha ngumpul. Ing kono ana Mas bambang. Ana bocah sing dolanan gitar, liyane dha nyanyi ndhangdhutan. Ana sing sambi njoget. Sakwise sak lagu rampung, Pak Madi, ketua Takmir Mejid liwat. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Kok sajak kesesa, mau ke mana pak Madi?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>: <span> </span>“Weh… Dik Bambang, ini mau ke ndalemnya Pak Kaji.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span> “Oo… lha santai-santai saja saged to pak? Kok kayaknya kesesa, kemrungsung. Menapa wonten yang darurat pak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Ah. Enggak dik Bambang. Namung urusan kecil. Soal rencana renovasi itu lho.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Renovasi? Renovasi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Masjid. Kas masjid sudah dihitung. Cuma ada telu setengah juta. Padahal rencana kebutuhannya sekitar 9 jutaan dik Mbang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Lho, saya dengar dari Lik Karyo itu namung betah enam sampe tujuh jutaan to pak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Niku nek namung ganti eternit, ganti kaca, ngecet sama beli karpet plus gawe taman di halaman masjid itu thok dik mbang.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Lha memangnya mau ndandani apanya lagi?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Sound. Sound system kita itu kan suarane sudah njeber. Perlu tumbas speaker baru, mic baru sak kabelnya dik. Nah, ngiras pantes, kalo ada pengajian Akbar ngundang AA’ Gym kan nggak mgisin-ngisinke gitu lho.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Wah.. kalo ngundang AA’ Gym ya mestinya soundnya nyewa to pak. Yang kelas konser Peter pan gitu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak MAdi<span> </span>:<span> </span>“Lho… Ha ini!, pemikiran muda panjenenga ini yang saya kurang trep. Kalo tiap ada acara gedhen kita harus nyewa, itu sama saja kita beli rokok ngecer. Tibane luwih larang. Nggih, ta? Sekarang dihitung mawon. Beli rokok itu nek bungkusan 6.000. lha nek ngecer? 600 sakler. Pingke 12, ketemunya 7.200 to? Lebih mahal dik Mbang. Mendingan tumbas bungkusan. Beli sound system gedhe sekalian. Nanti kalo ada pengajian, mauludan, syawalan lan sapanunggalane, kita nggak perlu ngecer sound system lagi. Ngih ta? Nggih napa nggih?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Pak Madi, Pak Madi. Kalo Masjid itu nggak dipegang panjenengan. Mesthi kampong kita nggak maju…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Mangkih riyen… mangkeih riyen. Jangan main puji-pujian dik, nanti saya njur gedhe ndhase. Ah.. sudah saya nanti malah ra sida ke tempat Pak Kaji nek ngobrol sama dik Bambang terus. Dik Bambang ini cen bikin krasan kalo ngobrol.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>Pak MAdi neruske laku. Nanging lagi 5 langkah mbalik meneh)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Oh iya, dik Mbang. Nanti kalo tiba urusan sambatan ndandani mesjid itu, dik Bambang ngewangi lho.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“O, ya ikut pak. Masa nggak ikut. Saya masih pengen urip di kampong pak, belum pengen urip di hutan. Kalo di Hutan apa-apa sakgeleme dhewe, kalo di kampong ya harus ikut gotong royong, gitu to pak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Sekalian, kanca-kanca di ajak. Kalo Dik Bambang absen, Genknya Sukirno ini apa ya dha gelem gotong royong di masjid. Geleme ya kalo sambatan ndandani rumahnya pak Yanto. Soale kan ada Retno sing nggawekke wedang. <em>(Marang Kirno)</em> Jangan khawatir Kir, nanti Retno mesthi tak lebokke tim masak memasak untuk yang gotong royong di masjid.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sukirno<span> </span>:<span> </span>“Pak Madi mbotensah gawe-gawe to pak! Mung nglirik pisan jaman mbiyen kok ya sih dirembug wae. Sudah! Sampeyan ngurusi itu sound system sama mic nya. Mboten usah ngurus saya dan Retno, Itu pun ada yang mikir, sudah ada yang ngurus.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pemuda lain<span> </span>:<span> </span>“Sing ngurus kowe karo Retno ya Polisi. Wong karepmu ming arep nggadho Retno wae.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Wis! Cedhak-cedhak kowe ming marahi aku melu dosa. Risi kupingku!. Mangga Dik Bambang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang <span> </span>:<span> </span>“Ya. Mangga-mangga Pak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>Bambang isih mesem nganti Pak MAdi ora Katon maneh)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Ngapa to Mas?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Ra papa.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Ra papa kok, aneh je kowe ki. Mas, mikir apa to?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>“Waduh… Cilaka iki. Aja-aja Mas Bambang melu-melu mikir Retno. Wuaa.. modar tenan aku. Kalah 3 kosong.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Paijo<span> </span>:<span> </span>“3 kosong piye Kir?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>;<span> </span>“Aku disenggelke karo mas Bambang ya kalah 3 kosong aku, Kalah bagus, kalah sugih, kalah kondang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Wah.. 2-1 Kir, wong nek kondange kondang kowe kok. Sapa wong terminal sing ra ngerti Kirno. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>“Tetap kalah aku Mas, aku kelingan banget pas dolan ning Jogja. Ning prapatan Janti ki ana copet ngejak omongan ki jebul kenal njenengan kok Mas.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Copet nJanti kenal aku? Sapa jenenge Kir”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>“Somat”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“OO<span> </span>trondhol!. Tak pangan sisan lho kowe!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Ning apa kowe ki ya tahu nyopet ning jogja tenan po Mat?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Kuwi mung cangkemane Kirno Kuwi Mas. Ngamen Mas, tekan jogja tekan Solo ki tak akoni, ning ngamen, ora nyopet!&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">BABAK 3</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dalemme Pak Dukuh. Pak Madi lan Pak Kaji mertamu. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Ya,… Ini sudah saya hitung. Kalo nggak salah ada 6 juta seratus limapuluh ribu. Mangga Panjenengan hitung lagi.” (<em>karo nyorogke amplop lan Map ning meja</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Dukuh<span> </span>: <span> </span>(<em>Nampa amplop ning ora dibuka)</em>. “Nah,.. Saking panggenan kula yang tanggungjawab koordinasi Iuran warga sampun terkumpul sekitar dua juta tujuh ratusan. Sekedhap … “(<em>Pak Dukuh mlebu kamar njikukke amplop iuran warga. Pak Madi lan Pak Kaji bisik-bisik</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>Pak Dukuh keluar dengan amplop dan buku catatan</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Dukuh<span> </span>:<span> </span>“Dua juta tujuh ratus sembilanpuluh lima.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Wehh.. kok kadingaren warga rada semugih… padahal baru saja iuran idul qurban, trus juga ada program dompet bencana alam, kok bisa keluar segitu nggih pak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Yah.. barangkali hati mereka terbuka untuk keperluan peningkatan sarana ibadah Dik Madi. Ya,.. itu namanya, mereka sudah melek religi. Harus kita ikuti dengan<em> alhamdulillah</em> yang nyata. Dalam bentuk penggunaan dana ini sebagai mana yang sudah direncanakan.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pa Madi<span> </span>:<span> </span>“Berarti tinggal kurang sekitar duaratusan ribu to ini Pak Dukuh, Pak Kaji?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Dukuh<span> </span>:<span> </span>“oh,<span> </span>ya, Panjenenganipun Pak Lurah juga sudah kasih kabar. Tadi pagi beliau SMS saya, bantuan dari kabupaten sampun ACC, empat ratus ribu rupiah, bersih. Tanpa pajak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Wehh..weh..weh… gangsar temen to iki..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Ustad<span> </span>:<span> </span>“<em>Alhamdulillah</em>…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Berarti malah turah ini pak kaji, sekitar dua ratus ribuan ini, lumayan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>Bu DUkuh mak jedhul nggawa wedang)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Dukuh<span> </span>:<span> </span>“Turahane ya buat kas masjid lagi. Moso’ arep dientekke jling to Mas Madi, Nanti Malah kegodha Koropsi lho,, hati-hati lho…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Waalahh.. Mbak Yu ki. Masa saya koropsi, saya itu ketua takmir je, koropsi duit mejid itu luwih sangar dosane lho, Nggih to Pak Kaji?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">PaK Kaji<span> </span>:<span> </span>(<em>Sambil tertawa</em>) “hahahha… Ya namanya korupsi, mau duit mejid, duit iuran lisrik, duit kantor, bahkan duit blanjan rumah tangga, Yo tetep nggak boleh dik…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Dukuh<span> </span>:<span> </span>“Wani-wani Korupsi, panjenengan bisa kurus tiba-tiba lho Mas…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>kabeh ngguyu ngakak….)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Iya… tapi kadingaren lho ini warga rada gampang iuran.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Dukuh<span> </span>:<span> </span>“Sing paling kadingaren itu Pak Marto.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Pak Marto dos pundi mbak yu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Dukuh<span> </span>:<span> </span>“Pak Marto itu nggak mau nyumbang waktu bocah-bocah karang taruna muter narik iuran itu, ning ngerti-ngerti datang ke sini tadi malem. Ngasih amplopan buat sumbangan iuran rehab masjid. Lima ratus ribu sendiri lho…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“<em>Subhanallah</em>… Baik sekali”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Ning,.. Sebentar Pak.. ini kok malah nggak beres kalo menurut saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Dukuh<span> </span>:<span> </span>“Nggak beres gimana dik?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Jangan <em>su’udzon</em> lho dik…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Bukan <em>Su’udzon</em> pak, ini waspada namanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>Marto itu, kita semua tahu, bekas Bandar togel, bekas wong mabukan. Pokoke wong sing raenak pangan itu to.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Dukuh<span> </span>:<span> </span>“itu rak mbiyen, jenenge wae bekas, nyatane mau nyumbang.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Lho sebentar… memang sudah bekas, mantan. Ex. Tapi kan kita tilik dulu, dia berhenti mbandar, berhenti mabuk itu kenapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Lha kenapa coba?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Lho! Jelas pak! Marto berhenti jadi Bandar karena polisi menindak tegas. Dia berhenti sebelum digrebek karena takut keciduk. Bukan niat yang tulus untuk tobat to?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>Kabeh mak cep. AMndheg gunem lan nunggu katrangan terusane</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Njur, dia itu berhenti mabuk juga karena kahanan ekonominya morat-marit.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pask Dukuh<span> </span>:<span> </span>“Nek saya, itukan urusan pribadi dia. Yang jelas dia bersedia nyumbang rehab mesjid, duite nyoto, asli. Sudah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Asal-usul duit itu bisa jadi masalah. Lihat saja para koruptor. Semua yang menikmati kucuran duitnya yang hasil korupsi itu pasti ikut diciduk. Minimal diinterogasi. Interogasi itu repot lho pak. Apalagi itu berarti yang menikmati duit itu mesjid. Berarti Pak Kaji dan saya sebagai ketua takmir harus kena interogasi. Wah… ngisin-ngisini desa kita pak. Tenan ini.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Itu kan kalo duit itu benar-benar duit bermasalah, sapa tahu dia itu nabung.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Dukuh<span> </span>:<span> </span>“Iya.. sapa ngerti Dik Madi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>(<em>Saya adreng</em>) “Justru karena ada kata “siapa tahu” itu lho Pak, mbak yu. Oleh karena “siapa tahu” itu kita wajib waspada.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>Kabeh meneng padha mikir</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Itu jelas nggak logis. Mereka itu ekonominya mosak-masik. Si Somat anake itu pengangur. Ngamen ya mung dinggo mendem duite. Kabarnya gelem nyopet segala je Somat itu. Lha kok sampe bisa ngasih 500 ewu ke masjid. Ra logis.. itu bener-bener nggak logis Pak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Ya… Ya.. memang. Kekhawatiran Dik Madi ada benarnya juga. Tapi jangan lupa. Asas praduga tak bersalah… lebih baik kita cari tahu dulu. Apa kekhawatiran kita itu benar atau tidak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">BABAK 4</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Prapatan nggone cah nom padha nongrong. Mas bambang, Kirno lan kanca-kanca liyane sih padha ndangdhutan. Lagune termiskin di DUnia. SOmat teka, katon lakune rada lemes lan aras-arasen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somad<span> </span>:<span> </span>(<em>Lungguh, njikuk rokok, nyumet njur mbuang bungkuse sing sisih separo ning tengahe kanca-kancane sing dho lungguh mubeng</em>.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>(<em>Njikuk bungkus rokok, lan gage nlumut siji nalika ngerti yen sih ana isine)</em> “Wehh… Njanur gunung. Iki sugih apa semugih Mat. Weehh. Ayo cah… dha diudud bareng-bareng, rasah nganggo isin lho. Mangga-mangga&#8230;.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Nek arep ditakoke ki aja sugih po ra sugih. Halal, Pa haram. Duit panas pa adem Kir.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somad<span> </span>:<span> </span>(<em>Dumadakan ngadeg mandeng Mas Bambang. Matane mblalak</em>) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>“O… Ngono to Mas?! Dadi pikiranmu ki dha kaya ngono to karo aku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Waduh… Guyon Mat, Guyon.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Pancen Bapakku ki bekas bakul togel, Aku ki yo mung tukang ngamen. Ra isa sugih. Ra isa nduwe duwit.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>“Mad! Kowe ki ngapa ta? Ngono wae kok muntab. Nek pancen kowe tukang ngamen, kulina saba terminal, kudune rak kulina karo guyon sing rada kasar. Padahal iki mau ya sih lumrah. Ora kasar.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Nduwe masalah-ya nduwe masalah, kuwi wis umume wong urip Mat. Rasah sepaneng.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(</span><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="IN">Somad lungguh maneh. Ngunjal ambegan jero. Katon yen atine sih rada ngganjel</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>“Tur biasane kowe ki ra ngono kuwi je Mat. Ana apa to?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Apa nek wong elek ki sak lawase kudu elek? Sing reged kuwi ra kena kepengen resik?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Kowe ki ngomong apa to Mad?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>(<em>Nunjuk ing kadohan</em> ) “Kae, takona wong kae” (<em>Somat Lunga. SAka arah liya Pak MAdi katon gleyah-gleyah nyerak)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Wahh.. Pak Madi, keliatannya sibuk sanget ini. Dari mana saja Pak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Biasa dik, Dari ndalemnya Pak Kaji, terus ke masjid untuk koordinasi sama anak-anak Remaja Masjid, itu lho, koordinasi untuk persiapan rehab.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>“Wah. Pak Madi ki Paling mempeng nek soal ngurursi mesjid,”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>;<span> </span>“Hayo kudu Kir. Wong ndandani rumah tetangga saja semangat. Apalagi masjid, Rumah Allah Ya ta?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Supri<span> </span>:<span> </span>“lha, napa enten honore napa Pak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Lhoo!, hayo jelas ana”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Supri<span> </span>:<span> </span>“Wah.. nek cetha ana honore aku ya gelem Kir.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>“Hayo kana lek ndaftar, mengko selak kebak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Honore ki ana, tur gedhene aja takon. Gedhe banget.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Supri<span> </span>:<span> </span>“pinten Pak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Ora kena dietung.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Supri<span> </span>:<span> </span>“Waduh.. nek angkane ra jelas ngoten niku, aja-aja mung ngapusi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span> “Piye to kowe ki? Yo ra mungkin ngapusi. Honore kuwi pancen ra kena dietung. Ra isa dirupiahke.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>“Kok ra kena dirupiahke, lha bentuke honor niku napa barang napa Pak?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Honore ki dudu duit, dudu barang. Akherat. Sing mbayar gusti Allah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno, Supri lan liya-liyane</span></em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>: “Wuuaaaa… Mawut nek ngene iki.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Lho.. Rak tenan ta? Aku wis mbatin. Bocah-bocah kaya kowe-kowe kuwi mesthi ra gelem. Wong dha ra butuh akherat kok. Iya ta?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Dereng titiwancine sadhar Pak.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Sadar kok ndadak nunggu titiwanci. Nek kesuwen selak diapeli Izro’il malah da saya mawut kowe.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kabeh ngguyu..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Wis.. aku tak mulih dhisik, Dik Bambang, besok kalau sudah fix hari H kerja bakti masjid, Munyuk-munyuk ini diajak lho.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Bambang<span> </span>:<span> </span>“beres Pak. Nanti saya yang njamin, mereka pasti ikut. Honore saya cepakaken pribadi mawon.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>;<span> </span>“Ya nanti gampanglah itu, sing jelas ada dana kalo Cuma buat kebul-kebulan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pemuda-pemuda<span> </span>:<span> </span>“Lhaaaa… Ngono kuwi, jenenge friend Pak Madi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi mesem njur mbablas neruske lakune.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><strong><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">BABAK 5</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Rumah Pak Marto.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Marto lan Somat jagingan ing ruang tamu. Wong loro padha meneng. Sajake padha nguripi lelamunane dhewe-dhewe. Wong loro padha ngrokok. Sedhela-sedhela usreg mbenakke nggone lungguh. Bu Marto banjur mlebu nggawa ceret lan gelas, banjur lungguh ning kursi jejere pak Marto. Sawetara wong telu padha le meneng. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>“Mbok Ya uwis to Pak. Mung diunekke ngono wae ya aja mutung. Pokoke niate apik. Wong ngomong elek yo ben. Kuwi urusane Gusti.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Marto<span> </span>:<span> </span>“Ning ya lara tenan atiku Nah. Tak akoni, wingi-wingi aku ki nggone dosa. Mbareng saiki aku ngrumangsani wis wayahe sadhar, njajal ajar shalat ning mejid, kok malah dunekke ngregeti mejid.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Jan-jane sapa to pak, sing ngomong ngono ki? dakpalane kene”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>“Bapakmu ki gek arep sadhar kok malah kowe arep main pala. Mbok ya wis. Idhep-idhep kuwi ki cobane wong arep tumindak apik. Aja tokregeti meneh.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Marto<span> </span>:<span> </span>“Ngibadah kuwi sing nampa jane sapa ta? Gusti Allah, apa ketua Takmir? Apa Ustad? Apa Pak Kaji? Apa malah Pak Dukuh?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>ora ana sing njawab</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Marto<span> </span>:<span> </span>“Duit sing tak nggo nyumbang mejid kae ya ra ditampa karo Pak Madi. Di balekke. Alasane ya ra cetha. Apa dikira duit panas pa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Nek sing kuwi malahane to pak. Kekna aku. Isa tak nggo uang muka kredit pit montor, njur aku isa ngojek. Leren le ngamen. Piye mbok?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Marto<span> </span>:<span> </span>“Jane ki ya nek ra ditampa ya rapapa. Ning mung karepku ki males budi. Mbiyen mbahmu seda kae, aku di sumbang duit mejid 400.000. Aku rumangsa nduwe utang. Lha saiki arep tak saur. Mumpung mejide gek butuh duit. Kok malah diarani ngregeti mejid nganggo duit panas.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>Aku jan sih kelingan banget Pak Madi rene mbalekke amplop 500.000 karo ngomong (<em>niroke pak Madi</em>) “Napa njenengan dereng nate miring ta yu, enten mejid ambruk merga le mbangun nganggo duit panas. Nek kedadean kados ngoten rak nggih eman-eman. Mejid gek entes diragadi malah ambruk. Luwih becik duite kurang 500.000, le mbangun ra sempurna ning ra ambruk.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>Kok sajake ki le yakin nek duite Bapakmu ki duit togel.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Marto<span> </span>:<span> </span>Mangka aku wis 5 sasi leren dodol togel. Mula awake dhewe dadi kere dadakan kaya ngene iki. Pit montormu kae tak dol merga aku eling tenan le tuku nganggo duit dodolan togel. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Ah. Yo wis pak, jarke wae. Duite dicelengi, po nggo tuku wedhus, suk di kurbanke. Nek mung arep ngibadah ki jare akeh dalane.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(<em>Mas Bambang teka</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Kulanuwun…. waduh.. gek ana rapat iki, <span> </span>nglumpuk.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Marto<span> </span>:<span> </span>“Mboten kok Mas, mangga Mas. Mesthi kangen kopimu iki Nah, gawekna Nah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Aku sisan mbok, aja legi-legi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>“Mbok kowe sing nggawe, wong tamune ki ya kancamu kok.” (<em>sambi mlaku nyang pawon</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Nek Mas Bambang ki seneng kopi gaweanku ya mesthine aku tandang nggawe kopi, wong sing di senengi ki gaweanmu kok. Aku barang ki ya termasuk penggemar kopi gaweanmu je Mbok.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kabeh padah ngguyu…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto<span> </span>:<span> </span>“Wah , mau ki kahanane do prengat-prengut, saiki ana Mas Bambang kok dadi ceria to?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Waa.. gesang namung sepindah Lek, ampun didamel susah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Ngguyu meneh…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Marto<span> </span>:<span> </span>“Niki wau saking pundi Mas Bambang?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Saking nggriya pak, trus mampir sekretariat Remaja Masjid sekedhap.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Marto<span> </span>:<span> </span>(<em>terdiam…</em>.)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Ning remaja Masjid ngapa Mas?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>(<em>nyang Pak Marto</em>) “Kula sampun miring masalah sumbangan njenengan 500.000 niku Pak. Kula wau, nyobi tanglet kalian Pak Madi sebab musababe sumbangan rehab Masjid saking Pak Marto menika kok dipun tolak. Kala wau Pak Kaji nggih pas wonten mrika pak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Marto<span> </span>:<span> </span>(<em>terdiam beberapa saat, lalu bertanya</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>“Sanjange dospundi Mas?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>(<em>agak kikuk</em>) “Nggih ngoten niku pak. Pak Madi ngendika menawi, Piyambakipun kuatir menawi artanipun Pak Marto sanes arto ingkang barokah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">(Pak <em>Marto meneng pisan meneh</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bu Marto mlebu nggawa wedang. Melu jagonga tanpa komentar..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Nek Pak Kaji kae, piye to Mas? Apa ya melu-melu maido duite Bapak? Apa malah Pak Madi ki mung jurubicarane Pak Kaji?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Nek kuwi aku ra ngerti Mat. Mung nek ndelok carane Pak Kaji ngomong, Pak Kaji kuwi ketoke ora pati kuatir bab duit panas pa adem kuwi, ning dheweke ya ngregani kekuatirane pak Madi, soale ya dhasar urusan duit mejid ki cen urusane Pak Madi. Tugase Pak Kaji mung ndongani.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Marto mak gregah. Kaya-kaya sadhar dumadakan njur mesem digawe-gawe, sajak kepengen nglalekake perkarane..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Marto<span> </span>;<span> </span>“Wis..wis.. sampun Mas. Mboten usah ngurus barang-barang ra cetha. Malah marai lara ati. (<em>Marto ngrogoh sak</em>) .. Wah.. sih nde duit limangewu ki, Nah, tuku gorengan nggone Yu Suti Nah,.. Mumpung ana Mas Bambang, Pesta gorengan.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Nek niat ajeng Pesta nggih mboten cukup Pak. Tak tambahi.” (<em>Mas Bambang nibakke duit sepuluhewu ning meja</em>) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kabeh ngguyu kaya ra duwe perkara wae…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">BABAK 6</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Mejid jam 4, sedhela meneh subuh. Hawane adhem trecep, sepi, mung ana suara jangkrik karo sedhela-sedhela jago kluruk saka kadohan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Saka sisih kiwa mejid, ana bleger manungsa kang nyerak mejid mlipir-mlipir kaya ora pengen dingerteni wong liya. Klambine sarwo ireng, raine ditutup kaya ninja. Alon-alon, sambi thingak-thinguk pawongan kuwi mlebu mejid. Banjur nyongkel lawang gudang alat mejid. Sak uwise kebuka, dheweke njikuk kothak amal, di gawa metu ning serambi, banjur gemboke dicongkel. Sakwise uthak-uthik kothak amal, kothake digembok meneh, ning nganggo gembok anyar sing sajake wis dicepakke ning sak kathok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Nalika kuwi, saka njaban mejid ana nom-noman sing arep mlebu mejid, subuhan. Merga weruh ana ninja ngekep kothak amal, bocah kuwi mundur nglungani mejid. Let sedhela wis mbalik dibarengi wong akeh sing padha arep jamaah subuh. Nalika ninja ireng metu seka mejid, kepergok!!! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Orang-orang<span> </span>:<span> </span>“Malingg.. malingg.. malingg….” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Tanpa aba, wong-wong mau ngepung ninja ireng, Bag bug bag bug ngajar ninja kuwi. Ana sing titis ana sing ora. Ana sing nendang, njupuk kayu, bata, watu, malah ana sing ngepruk nganggo gulungan karpet mejid..</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Orang 1<span> </span>:<span> </span>“Pateni wae kang&#8230;”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Orang 2<span> </span>:<span> </span>“Golek bensin, njikuk nggon Yu Suti..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Orang 3<span> </span>:<span> </span>“Wis rasah nunggu kesuwen..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Orang 4<span> </span>:<span> </span>“maling nin mejid, Ngluwihi bajingan Penjajahan!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Orang 5<span> </span>:<span> </span>“Wis.. dientekke wae”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Las-lasan cacahe jemaah kuwi ora ana sing ketok manungsa. Kabeh murka kalap emosine dadi kaya bantheng ngamuk. Bejane ana MAs Bambang, pak Kaji lan pa Madi sing ngupaya nglerem emosine jemaah. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Wis.. wis.. wis… aja main hakim sendiri. Wis cukup. Iki mesthi wis klenger. Mesakke. Iki ki ya menungsa je.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Orang 4<span> </span>:<span> </span>“Niku jenenge iblis pak. Maling ning mejid kuwi maling paling ra sopan.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bambang<span> </span>:<span> </span>“Nggih!.. nggihh! mas.. ning mbotensah emosi berlebihan. Sakniki pun adil kok. Awake dhewe pun ngajar malinge. Malinge ya wis ra kuat tangi.. sak nikki wayahe lapor polisi. Kir.. Kana lapor polisi Kir.. nanggo montorku jikuken ning ngomah.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kirno<span> </span>:<span> </span>“Ya Mas. Ayo Mat, Aku dikancani.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Wis sakiki ditiliki sing ilang apa?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Dukuh <span> </span>:<span> </span>“Mbok coba dibuka raine..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Mas Bambang banjur mbuka tutp rai ninja kuwi. Alon-alon merga risi yen tangane gupak getih. .</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Semua<span> </span>:<span> </span>“Lho!..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>“Astaghfirullah..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>“MasyaAllah..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>“Wwehh!..”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span> </span>“Kang MArto?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Tenan to? Iki buktine nek ana sing ra percaya karo aku, Aku wis curiga, Marto ki urip dadi penjahat ya tetep penjahat saklawase. Wingi gayane nyumbang mejid limangatus ewu, ning ra tak tampa, wae sih tega maling ning mejid, coba nek duite tak tampa,. Saya akeh le maling…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Kabeh sih padha gumun. Ora ana sing nyaut ukarane pak madi. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Bocah-bocah sing ngecek barang-barang ning mejid banjur nyerak lapor ning pak MAdi lan pak Kaji&#8230;</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Remaja <span> </span>:<span> </span>“Pak, mboten wonten ingkang ical kok. Namung gembok lawang gudang jebol. Trus kothak amale niku gemboke dicongkel ning kok diganti gembok anyar.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Kuncine?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Remaja<span> </span>:<span> </span>“Mboten onten.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Njur sing ngganti gembok ki Marto iki po piye?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Remaja<span> </span>:<span> </span>“kinten-kinten pak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kadus<span> </span>:<span> </span>“Digeledah Mas Bambang…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Mas Bambang lan bocah-bocah nggledah sak klambi lan kathoke pak MArto. Nemu kunci gembok. Banjur tanpa kakean omong dicoba dinggo mbukak gembok </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Mau sore ana duite pira?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Remaja<span> </span>:<span> </span>“Kosong pak. Kothak niku duite pun kula lebetke bendahara wau dalu kok pak.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>: <span> </span>“ning kok ndadak dicongkel gek ganti gembok barang?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Mas Bambang kasil mbuka gembok.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Mas Bambang<span> </span>:<span> </span>“Onten amplope pak.” (<em>ngulungke amplop saka njero kothak amal nyang pak Kaji) Pak Kaji mbuka amplop.<span> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Kaji<span> </span>:<span> </span>“Lho.. duit limangatus ewu!” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Pak Madi<span> </span>:<span> </span>“Lho! iki amplope kang Marto sing arep nggo nyumbang rehab mejid, sing tak balekke kuwi. Nggih, pak Kaji. Persis, Kang marto niku le nyumbang nganggo amplop niki, kula apal…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Dumadakan kabeh wong padha meneng. Mung mripate padha lirik-lirikan. Swasana dadi aneh. Suara sepedha motor lan clorot lampune nyerak. Kirna lan Somat wis teka meneh. Somat medhun pit, nyerak rubung-rubung banjur&#8230; </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat<span> </span>:<span> </span>“Assuu ii&#8230; Ppaaakk……..!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Somat ambruk ngekep bapakne sing wis klenger kebak getih… </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Lampu panggung surut alon-alon…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Sandiwara paripurna…</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><strong><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">Yogyakarta, 24 Maret 2006.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">* M Ahmad Jalidu : </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Sutradara, Aktor dan Penulis Naskah Drama. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pimpinan Gamblank Musikal Teater (GMT) Yogyakarta. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Manajer Program SLEnK Ngayogyakarta Hadiningrat</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18pt;line-height:150%;"><em><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:Arial;">Pemarakarsa Jogja Teater Space</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:95.2pt;text-indent:-95.2pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=41&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-becik-nitik-ala-pilara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naskah : Kebo Nyusu Gudel</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-kebo-nyusu-gudel/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-kebo-nyusu-gudel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 05:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Nominator Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian JATIM 2008. KEBO NYUSU GUDEL (Naskah lakon satu babak) Dheny Jatmiko Pelaku: Kakek : Seorang kakek umur 80 tahun yang selalu terbayang-bayang peristiwa masa lalunya. Bapak : Seorang lelaki pekerja kantoran. Ibu &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-kebo-nyusu-gudel/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=38&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><em><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN">Nominator Lomba Penulisan Naskah Drama Remaja Dewan Kesenian JATIM 2008.</span></span></em></strong><strong><em><span style="text-decoration:underline;"></span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:center;text-indent:-54pt;" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;" lang="NL">KEBO NYUSU GUDEL</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:center;text-indent:-54pt;" align="center"><span lang="NL">(Naskah</span><span lang="IN"> lakon</span><span lang="NL"> satu babak)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:center;text-indent:-54pt;line-height:200%;" align="center"><strong><span lang="IN">Dheny Jatmiko</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="NL">Pelaku:</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>:<span> </span></span></strong><span lang="NL">Seorang kakek umur 80 tahun yang selalu terbayang-bayang peristiwa masa lalunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak <span> </span>:</span></strong><span lang="NL"> <span> </span>Seorang lelaki pekerja kantoran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span></strong>Ibu rumah tangga.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Anak <span> </span>: <span> </span></strong>Anak berumur 10 tahun.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:center;text-indent:-54pt;line-height:200%;" align="center">***</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em>Terdengar musik tembang megatruh. Lampu warna biru menyala pelan, dilanjutkan lampu oranye yang fokus ke kursi goyang (kakek). Tampak sebuah ruang keluarga, seorang kakek bersantai di kursi goyang. Kakek memakai sepatu tentara, memakai sarung, peci, sambil nembang megatruh.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><strong><em>Megatruh</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><em>niki wancine sukma sampun kasebut</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><em>saking dzat akarti bumi</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><em>sampun wanci dipun suwun</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><em>tan janji sakniki ugi</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><em>baline sadaya lakon</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em>Tembang megatruh selesai. Kakek diam, merenung. Tiba-tiba terdengar suara riuh, seperti suara demontrasi. (Lampu ruang pelan-pelan menyala) Kakek<span> </span>panik, mengambil sapu dan membawanya seolah membawa senapan.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek <span> </span>:</strong> <span> </span>Bangun! Bangun! Kita harus segera bersiap. Bangun kalian semua.<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><em>Muncul seorang Bapak, Ibu dan anaknya berjalan malas karena<span> </span>bangun tidur.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Ada apa lagi, kek? </span>Malam-malam begini bikin ribut?<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span></strong>Ada apa to, kek?<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Ada apa. Ada apa. </span>Apa kalian sudah tuli. Apa kalian tidak mendengar ada demo. Situasinya sekarang semakin sulit. Jadi kita harus waspada. (<em>Berlagak seperti komandan</em>) Kalian berjaga di pos sebelah sana. Biar aku awasi yang sebelah sini (<em>mengambil kursi kecil dan berdiri di atasnya</em>). Cepaaat!<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Siap, komandan!<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Bapak, Ibu &amp; Anak bergegas menuju kiri panggung.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak <span> </span>:<span> </span></span></strong><span lang="NL">Kalau tiap malam begini, bagaimana aku bisa nyaman kerja besok?<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Sudahlah mas, sabar, mungkin kakek sedang mimpi aneh lagi malam ini. Paling ini hanya sebentar, dan kita bisa kembali tidur. Lakukan saja. Kalau kita tidak menurut, nanti bisa tambah lama.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Jangan banyak ngomong. Sekarang sedang darurat militer, jaga dengan kewaspadaan tingkat tinggi.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Di sini terlihat aman, kek, eh, ndan!<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Meski aman tetap waspada. Cari gembongnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Siaap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>:<span> </span></span></strong><span lang="NL">Kasihan anak-anak muda itu. Katanya mereka orang-orang yang intelek. Tapi lihat, bicaranya seperti tukang becak. (<em>pada penonton) </em>Dengar kalian semua! Tidak ada gunanya kalian teriak-teriak sampai tenggorokan kering. Lebih baik baca buku yang banyak saja biar bisa mikir lebih jernih, biar tidak dimanfaatkan orang. <em>Masak</em> orang intelek ngomongnya seperti robot. Cuma bisa ngomong: kami butuh makan, turunkan ini, turunkan itu&#8230; </span>Kalau cuma ngomong seperti itu, anak umur dua tahun saja bisa.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Bapak <span> </span>: <span> </span></strong>Tapi, kakek memang harus segera turun, dan segera tidur lagi. Kita mesti istirahat. Hari sudah larut, kek.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span></strong>Jangan banyak komentar, nanti tidak cepat selesai, kita yang repot sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek <span> </span>:</strong> <span> </span>(<em>turun dari kursi, duduk dengan malas</em>) Kalian ternyata sama saja dengan orang-orang itu. Semua ini bukan karena salahku. Aku hanya menjelaskan tugas. Semua tugas sudah aku jalankan dengan baik, mulai dari Operasi Sikat, Operasi Burung Sriti, Operasi Galian Malam. Semua sudah kujalankan dengan baik. Terus mengapa mereka masih saja menginginkan aku turun? Mengerti apa mereka dengan situasi ini. Orang-orang seperti mereka dan kamu inilah yang sebenarnya mengacau.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span></strong>Kakek sudah lelah, lebih baik kakek istirahat. <span lang="NL">Biarlah di sini kami yang berjaga. </span>(<em>Kakek hanya diam</em>) Percayalah, situasinya di sini bisa kami atasi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Kalian sudah mengkhianati aku. </span>Apakah kalian tidak tahu, kalau tugas ini sudah selesai, aku memang berencana pensiun. Ini adalah operasi terakhirku. Operasi Sapu Jalan ini adalah pengabdian terakhirku pada negeri ini. Aku juga sudah lelah, aku ingin istirahat dengan tenang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span></strong>(<em>kembali seperti menjadi anak buah kakeknya</em>) Kami tidak berkhianat. Kami tahu apa yang anda butuhkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Bapak <span> </span>: <span> </span></strong>Terus bujuklah kakek. Orang kalau tambah tua, tambah pikun, tambah menyusahkan, tambah tidak ada gunanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span></strong>Hus, ngomong apa kamu ini. Meskipun begitu, dia juga tetap bapakmu. Orang yang membuatmu ada di dunia ini.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Bapak <span> </span>: <span> </span></strong>Iya, aku sudah tahu. Tapi aku sangat lelah hari ini. Bujuklah ia agar segera tidur.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Lapor, komandan. Situasi sudah terkendali. Kerusuhan sudah bisa diamankan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>:</span></strong><span lang="NL"> <span> </span>(<em>kembali bersemangat</em>) Kamu memang perwiraku yang paling bisa diandalkan. Aku pasti akan merekomendasikan kenaikan pangkat buatmu. Tapi, sayang, aku masih punya anak buah yang kerjanya lamban. Inilah yang memperburuk citra tentara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">(<em>pada bapak dan ibunya</em>) Sersan, Kapten, ada masalah apa ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">(<em>menjewer anaknya</em>) Sekarang sudah malam, jangan main-main terus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek <span> </span>: <span> </span></strong>Apa katamu?! Main-main?! Ini bukan masalah sepele. Orang-orang memang harus diberi pelajaran. Bisa <em>nglunjak</em> kalau dibiarkan saja. …</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Bapak <span> </span>: <span> </span></strong>Sudahlah kek, Ini sudah malam. Saya butuh istirahat, besok saya harus kerja. Dimas besok juga harus sekolah…</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek <span> </span>: <span> </span></strong>Sekolah?! Sekolah tidak jaminan membuat orang bisa berpikir cerdas. Jangankan berpikir cerdas, berpikir saja belum tentu bisa. <span lang="NL">Apa kau tidak mendengar apa yang diteriakkan orang-orang <em>sok</em> berpendidikan yang berdemo itu. Semuanya hanya omongan yang tidak ada pemikirannya. Terlalu dangkal otak mereka. Lihat orang-orang yang dicat tubuhnya, dijemur sesiangan, dan berteriak <em>ndak </em>karuan itu. <em>Masak </em>mereka bilang itu seni? Seni macam apa itu, murahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Kalau bukan seni, terus itu disebut apa, kek?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">(<em>pada istrinya</em>) Kamu ini bagaimana <em>kok</em> malah dilayani. Kapan selesaianya. Aku ini sudah capek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Ssttt. Biar ibu yang mengatasi. </span>Kalau dilawan, nanti justru semakin lama. Lebih baik dilayani biar makin cepat selesai. Aku juga sudah capek, mas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Bapak <span> </span>: <span> </span></strong>Ya semoga berhasil. Tadi sudah disuruh menjadi tentara, pasti nanti teringat nenek, dan kakek jadi dalang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Hah, benar. Dalang. Wayang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Lho, iya, benar kan. Yang ada dalam ingatannya hanya itu-itu saja: tentara dan wayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Seni yang paling agung adalah wayang. Mereka itu tidak mengerti apa itu seni. Seni <em>kok</em> tidak mengandung budi pekerti. Beda <em>kan </em>dengan wayang yang penuh budi pekerti. Kemari kau Dimas. Kalau kau nanti sudah besar kau harus menjadi orang yang mengerti budi pekerti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Bermain tentara-tentaraannya sudah selesai to, kek?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Ahh, tentara itu apa. Sebenarnya aku menyesal juga menjadi tentara. Apalagi setelah melihat anak buahku. Mereka itu hanya bisa membanggakan seragamnya, hanya bisa <em>sok</em> jagoan. Mereka sering lupa bahwa mereka itu abdi masyarakat. Yang namanya abdi itu mesti melindungi bukannya <em>sok</em>. Mengamankan demontrasi mahasiswa saja tidak pecus. Masih saja ada yang mati. Akhirnya juga yang kena batu. Berbeda dengan dalang. Dalang selalu menyuguhkan nasehat-nasehat yang filosofis, petuah-petuah yang dibutuhkan masyarakat. (<em>bergaya dalang</em>) <em>Ooo, langit gumbleger, bumi katon kebak geber… ooo </em>(<em>Anak mengiringi musiknya dengan suara: wung-wung-wung plak-plak-plak)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Kakek, sudah malam, tidak baik kalau teriak-teriak, tidak enak sama tetangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Inilah contoh orang yang tidak bisa menghargai seni dan budaya. Kalau ketahuan ibumu, pasti kamu akan diomeli sampai pagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">(<em>menggrundel</em>) Dasar orang pikun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Lebih baik tidak usah dihiraukan orang macam itu. Ayo kita berkesenian, kita lakonkan Anoman Obong. Dimas, musiknya siap?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Siap, pak dalang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Musiiik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">(<em>membuat musik dari suaranya</em>) Plak-plak-plak wung-wung-wung plak-plak-plak wung-wung-wung…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><em><span lang="NL">Oooo, cumlorot antaraning mega geni molak-malik katiup angin, satria Anoman malumpat-lumpat ing Alengka nylametake dewi Shinta, ooo… (tablo) (pada ibu)</span></em><span lang="NL"> Ayo <em>gending</em>nya masuk!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Minta gending apa pak dalang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="IN">Kinanti</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><strong><span lang="NL">Ibu <span> </span>: <span> </span></span></strong><em><span lang="IN">Anoman mlumpat sampun</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><em><span lang="IN"><span> </span>prapteng witing nagasari</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><em><span lang="IN"><span> </span>mulat managandap katinngal</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><em><span lang="IN"><span> </span>wanodya ju kuru aking</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><em><span lang="IN"><span> </span>gelung rusak awor kisma</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><em><span lang="IN"><span> </span>ingkang iga-iga keksi</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek <span> </span>:<span> </span></strong>Luar biasa. Itulah seni.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Bapak <span> </span>: <span> </span></strong>Hah,<span> </span>aku sudah sangat capek. (<em>pada istrinya</em>) Kamu urus sendiri kakek. Kalau aku tidak tidur, besok aku telat lagi, dan bisa-bisa aku dipecat. <span lang="NL">Trus kita mau makan apa? Aku sudah muak dengan kondisi ini. (<em>meninggalkan panggung</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Hei, anak kurang ajar. Mau ke mana kau. Diberi nasehat jangan pergi. Tidak sopan. Anak tidak ngerti tata krama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Terserah kata kakek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">(<em>tiba-tiba sedih</em>) Mengapa aku punya anak yang durhaka. Kalau saja ibunya tahu, pasti dia dirundung kesedihan. Maafkan aku Martha, istriku, aku tidak bisa menjaga dengan baik anak kita. Tapi kenapa kau mesti pergi begitu cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Lho, kakek mengapa bersedih? (<em>kakek hanya diam bersedih</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Ibu terdiam sejenak. Lalu berpura-pura menjadi nenek, istri kakek.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">(<em>bergaya menjadi seorang nenek</em>) Mas Jarwo, suamiku, ada apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Anak kita, Martha. Lihatlah anak kita, kenapa dia tidak patuh padaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Ya, namanya juga anak kecil. (<em>memeluk dan mengelus rambut anaknya</em>) Jangan terlalu banyak dipikir. </span>Mas harus segera istirahat. Besok harus segera masuk dinas. Katanya besok ada upacara.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek <span> </span>: <span> </span></strong>Masalah anak itu masalah yang serius. Kalau aku salah mendidik, mau jadi apa dia nantinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span></strong>Iya, mas tidak salah kok mendidik Mardi. <span lang="NL">Jangan sedih terus, aku tidak suka kalau mas sedih terus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek <span> </span>: <span> </span></span></strong><span lang="NL">Aku merasa aku telah gagal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span></strong>Mas tidak gagal. Mana keoptimisan mas. Aku cinta mas itu karena mas itu optimis, tidak pesimis begini. (<em>kakek masih diam</em>) Kalau sedih begini, mas paling suka kalau aku nembang. Bagaimana kalau aku nyanyikan satu tembang lagi, mas. Dengar ya mas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek <span> </span>: <span> </span></strong>Terserah kamu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span><em>Caping Gunung</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2cm;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2cm;"><em><span lang="NL">Dhek jaman berjuang<br />
njur kelingan anak lanang<br />
mbiyen tak openi<br />
ning saiki ana ngendi</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2cm;"><em><span lang="NL"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2cm;"><em><span lang="NL">Jarene wis menang<br />
keturutan sing digadhang<br />
mbiyen ninggal janji<br />
ning saiki apa lali</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2cm;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2cm;"><em><span lang="IN">Ning gunung tak cadhongi sega jagung<br />
yen mendhung tak silihi caping gunung<br />
sokur bisa nyawang<br />
gunung ndesa dadi reja<br />
dene ora ilang nggone padha lara lapa</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span lang="IN">Anak<span> </span>menuju kursi panjang dan tertidur, ketika mendengar ibunya menembang.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek <span> </span>: <span> </span></strong>Suaramu bagaikan pinus diterpa angin, Martha. <span lang="NL">Begitu lembut, halus, dan menenangkan. Itulah kenapa aku selalu mencintaimu. Kaulah satu-satunya perempuan yang bisa menentramkan hatiku ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu <span> </span>: <span> </span></strong>Aduh, mas Jarwo ini berlebihan, jadi malu aku.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Ini tidak berlebihan, Martha. Ini kenyataan. Aku selalu terpaku, diam tidak bisa apa-apa, kerena telampau terpikat suara dan kecantikanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Jika mas sedang bersedih, bukankah sudah selayaknya jika aku menghibur. Apa sekarang mas sudah merasa nyaman?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Seperti perasaan Danareja seandainya lamarannya diterima Sukesi tanpa membedah Sastra Gendra. Begitulah yang aku rasakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Mas bukanlah Danareja dan aku bukan Dewi Sukesi. Kita adalah suami istri yang tak terpisahkan. Bagai akar dan tanah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Hmmm, iya, iya. Hmmm&#8230; (<em>seperti berpikir</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Benar kan, mas?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Iya, iya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Lalu apa yang masih dipikirkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Aku sendiri tidak tahu aku ini sedang memikirkan apa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Lho gimana <em>to</em>?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Aku ini sedang berpikir, apa sebenarnya yang aku pikirkan. Apa kamu tahu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Ya, <em>ndak </em>tahu, <em>lha wong </em>yang mikir mas <em>kok</em> tanyanya ke aku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Ya, barangkali saja. Selama ini yang bisa mengerti aku kan cuma kamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Entahlah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"> (<em>Kekanak-kanakan</em>) Ahh, kalau kamu saja tidak tahu apa yang aku pikirkan, pada siapa lagi mesti aku bertanya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>(<em>Diam, berpikir</em>.<em> Meraih Kakek)</em> Mungkin mas memikirkan anak kita, apakah kalau sudah besar di bisa sesuai dengan harapan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>(<em>Melihat Anak yang tertidur di kursi)</em> Mungkin. Tapi tidak. Anak itu adalah keturunan dari lelaki sempurna dan perempuan teristimewa. Pasti dengan sendirinya bisa menjadi orang yang hebat. Tidak. Aku pasti tidak sedang memikirkan anak itu. Keluarga kita baik-baik saja, teramat baik, tidak ada masalah yang perlu memeras otak. Kalaupun ada masalah keluarga hanyalah masalah yang teramat kecil. Dan pikiranku tidak sekecil itu. Aku pasti memikirkan hal yang lebih besar, lebih penting, lebih&#8230; ahhh, tapi apa yang sedang aku pikirkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir. Lebih baik istirahat. Besok mas harus menghadiri upacara penghargaan. Nah, kalau kurang istirahat, terus wajah mas masih kusut, apa mas tidak akan malu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Benar juga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>(<em>Terlihat senang</em>) Nah, lebih baik istarahat kan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Tapi kepala ini terus saja kebingungan sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Mungkin tidur dulu, besok pasti sudah ingat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Kalau masih tidak ingat?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Terserah mas saja. Tapi pikikirkan sekali lagi, acara besok itu penting!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>(<em>Kekanak-kanakan) </em>Aduh, Martha, jangan marah sayang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Aku tidak marah, mas. Aku cuma memberi saran. Tapi kalau mas tidak mau ya sudah. Nah, kalau masih loyo seperti ini, apakah Presiden akan merasa bangga memiliki rakyat sebaik mas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Iya, benar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Nah, sekarang coba mas berdiri dengan tegap dan penuh wibawa. (<em>Kakek mencoba berdiri tegap, tetapi kesulitan) </em>Hah, benar kan, sulit. Itu tandanya mas sudah capek dan butuh istirahat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:<span> </span></span></strong><span lang="NL">Kamu memang benar-benar perempuan impian lelaki. Kamu sangat mengerti. Betapa beruntungnya aku mendapatkanmu. Martha, jangan pernah kau meninggalkanku. Aku bisa menjadi makhluk paling hina jika kau tinggalkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Tidak, mas. Aku tidak akan pernah meninggalkan mas. Tapi lihat, Mardi, kasihan dia tertidur di kursi, biar antar ke kamar dulu ya mas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Kau memang istri yang penuh kasih sayang. Silahkan istriku tercinta. Tapi jangan terlalu lama aku kau tinggalkan. Segeralah kembali, Martha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Tidak lama. Aku hanya mengantar Mardi ke kamar. Tapi, mas harus janji setelah ini langsung istirahat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"> <span> </span>Tentu, sayang. Aku janji.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Ibu dan anaknya yang sudah ngantuk keluar dari panggung dengan tersenyum. Kakek termenung sendiri sambil sesekal</span>i tersenyum. Tiba-tiba terdengar suara demo. Semakin lama suara itu semakin keras. Kakek kebingungan, ketakutan.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek<span> </span>:<span> </span></strong>Pasukan! Kumpul! Ada kekacauan!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em>Ibu dan anak kembali masuk panggung.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Ibu<span> </span>:<span> </span></strong>Ada apa lagi?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong>Kakek<span> </span>:</strong><span> </span>Cepat rapikan barisan. Mana sersan Untung?</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak<span> </span>:<span> </span></span></strong><span lang="NL">Dia masih tidur, komandan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Cepat bangunkan dia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Sersan Untung masih keluar kota, Komandan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Tidak mungkin, tidak ada tugas bagi sersan Untung untuk keluar kota. Pasti dia masih tidur. Kalian baris di sini dengan rapi, awasi situasi. Aku akan bangunkan sersan Untung. Situasinya sudah genting, tidak ada waktu untuk istirahat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Kakek keluar panggung. Beberapa saat, masuk lagi dengan Bapak yang terlihat mengantuk.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak<span> </span>:<span> </span></span></strong><span lang="NL">Ada apa lagi ini. Sudahlah, kek, aku capek, aku butuh istirahat, aku besok harus kerja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:<span> </span></span></strong><span lang="NL">Sekarang kerjanya! Tidak usah menunggu besok. Lihat di sana, kekacauan terjadi di mana-mana. Dan kamu enak-enakan tidur. Perwira macam apa kamu ini, hah!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Komandan, situasinya makin kacau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Dimas, diam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Bicara yang sopan. Apa pantas kamu bicara seperti itu dengan atasanmu. Sebagai hukuman kau harus <em>push-up</em> satu seri, dan jangan diulangi lagi. Mayor, terus awasi keadaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Siap komandan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>(<em>pada bapak</em>) Ayo, cepat laksanakan. Apa kamu ini tidak pernah diajari sopan santun. (<em>pada Ibu</em>) Kamu juga, kenapa kamu berani membela orang yang salah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Tidak, komandan. Saya tidak berani.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Kalian harus sadar, harus sadar, di sini aku yang menjadi pimpinan kalian. Kalian harus nurut!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Siap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>(<em>Pada Ibu)</em> Kamu ke sana, coba beri mereka pengertian sebisa mungkin. Usahakan jangan samapi ada bentrokan fisik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Ibu maju ke depan pangung, seolah-olah membawa Megaphone.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2cm;text-align:justify;text-indent:-2cm;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span></span></strong><span lang="NL">:<span> </span>Saudara-saudara, usahakan tetap damai. Kita bicarakan baik-baik. Semua aspirasi saudara-saudara pasti kami tampung. Tetap tenang. Kondisi negeri kita sudah kacau, jangan sampai saudara-saudara menambah kekacauan. Kami di sini sedang mengusahakan yang terbaik untuk negeri ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2cm;text-align:justify;text-indent:-2cm;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span></span></strong><span lang="NL">:<span> </span>Bagus. Teruskan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2cm;text-align:justify;text-indent:-2cm;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span></span></strong><span lang="NL">:<span> </span>Kita semua tidak mau ada lagi kekacauan. Jadi saya harap, ada perwakilan dari saudara-saudara yang masuk dan menyampaikan aspirasi dengan damai. Percayalah saudara. Percayalah, kita semua tidak ingin kondisi ini makin runyam.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Komandan, gawat komandan! Mereka menyerang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Tetap bertahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Sulit, komandan. Mereka semakin mendesak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>(<em>Menghampiri anak, dan berbicara lirih)</em> Sudah! Diam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Segera berpencar. Cari tempat berlindung. Seraaaaangg! Dor, dor, dor, dor, ahhhhhhhhh, aku tertembak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Kakek terjatuh. Anak berlari menghampiri kakek.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak<span> </span>:<span> </span></span></strong><span lang="NL">Komandan, apakah komandan baik-baik saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Kakek<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"> <span> </span>Teruskan perjuangan. Jangan hiraukan aku. Ambil alih pimpinan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Komandan, komandan, komandan jangan mati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Ahh, akhirnya selesai. Malam yang melelahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Mas, jangan pergi dulu. Angkat kakek ke kamar. Kasihan di sini dingin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Anak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>(<em>menggoyang-goyang tubuh kakek)</em> Komandan jangan mati. Komandan, ayo bangun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>(<em>Menghampiri Anak) </em>Dimas, jangan ganggu kakek. Biarkan kakek istirahat. Kamu juga harus segera tidur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Dimas berjalan pelan keluar panggung.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:<span> </span></span></strong><span lang="NL">Kasihan kakek. Di usianya yang tua, masih saja diganggu ingatan-ingatannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Ya begitulah orang kalau sudah tua. Pikun.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Kalau saja nenek masih ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Aku sudah tidak tahu harus berbuat apa. Semua cara tidak dapat menyembuhkannya, mulai psikiater, dokter, bahkan dukun. Mungkin memang lebih baik segera kita kirim ke panti jompo. Mungkin mereka bisa mengurus lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Jangan, mas. Biar akau saja yang mengurus kakek. Panti jompo bukanlah solusi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Bapak<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Tapi jika tiap malam diteror begini, aku juga bisa gila.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:54pt;text-align:justify;text-indent:-54pt;line-height:200%;"><strong><span lang="NL">Ibu<span> </span>:</span></strong><span lang="NL"><span> </span>Yang sabar. Bagaimanapun juga Kakek adalah tanggung jawab kita. Lebih baik kita istirahat. Kita bicarakan masalah ini besok saja, aku juga sudah caek. Mas angkat kakek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Bapak menghampiri kakek. Memandanginya dengan rasa iba. Pelan-pelan ia angkat, dibaringkan ke kursi goyang.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Kembali terdengan tembang megatruh. Lampu ruang pelan-pelan padam, tinggal lampu biru yang menyorot kursi goyang. Perlahan lampu biru padam.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Lampu ruang kembali menyala<strong>. Kakek ketakutan dan menjerit-jerit. Bapak dan Ibu datang dengan wajah yang lesu dan hanya memandang.</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><em><span lang="NL">Lampu pelan-pelan padam.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span lang="NL"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span lang="NL">***</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="NL">SELESAI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="NL">SELAMAT MENIKMATI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;" lang="NL">SEMOGA BERBAHAGIA</span></strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:12pt;line-height:200%;font-family:&quot;" lang="IN"><br />
</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="IN">Biodata Penulis:</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN">Nama<span> </span>:<span> </span>Dheny Jatmiko</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN">TTL<span> </span>:<span> </span>Tulungagung, 11 Februari 1982</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN">NIM<span> </span>:<span> </span>120110330</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN">Fakultas<span> </span>:<span> </span>Ilmu Budaya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN">Jurusan<span> </span>:<span> </span>Sastra Indonesia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN">Alamat<span> </span>:<span> </span>Jl. Jaya Baya 5 Bandung, Tulungagung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN">HP<span> </span>:<span> </span>081 931 545 883</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN">Lainnya<span> </span>:<span> </span>Menulis puisi, sedikit cerpen dan esai. Pernah terpublikasikan di <em>Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, Surya, Jurnal Aksara, Majalah Budaya Sagang, Majalah Aksara (kini Imajio), Bangka Post, Riau Post, Wapada, Surat kabar Priangan, Radio Suara Jerman Deutsche Welle, Australia-Indonesia Art Aliance (AIAA), Suara Anum Online (Malaysia).</em> Juara Harapan II Lomba Cipta Puisi Nasional kategori Sagang di Riau 2003. Juara III Penulisan Puisi dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional tahun 2006 di Makasar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:200%;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:200%;" lang="IN"> </span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=38&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-kebo-nyusu-gudel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naskah : Wewe gombel</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-wewe-gombel/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-wewe-gombel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 05:40:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[wewe gombel M.S. Nugroho Karakter : Wewegombel, Gondoruwo, BELA, MAMA, ORANG-ORANG, ANAK-ANAK 01. Senja hari, di atas pohon besar, mengerikan Wewegombel, Gondoruwo Dalam bayangan hitam, WEWEGombel menangis sedih. GOMBEL : Ruwo&#8230; malam datang lagi. Malam datang lagi. RUWO : Malam &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-wewe-gombel/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=35&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">wewe gombel<br />
</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><!--[if gte vml 1]&gt;                           &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><strong><em>M.S. Nugroho</em></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Karakter<span> </span>:</span></em></strong><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Wewegombel, Gondoruwo, BELA, MAMA, ORANG-ORANG, </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN"><span> </span><span> </span>ANAK-ANAK</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:200%;" align="center"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>01.<span> </span>Senja hari, di atas pohon besar, mengerikan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><em><span style="text-transform:uppercase;">Wewegombel, Gondoruwo</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Dalam bayangan hitam, WEWEG<span style="text-transform:uppercase;">ombel</span> menangis sedih. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>: Ruwo&#8230; malam datang lagi. Malam datang lagi. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>: Malam akan selalu datang, Gombel&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>: Malam akan selalu menyiksaku, Ruwo. Malam akan membuatku kesepian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>: Tidak, Gombel. Aku akan menemanimu. Aku akan selalu di dekatmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>: Ya, dan tanpa anak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>: Maafkan aku, Gombel. Aku tidak bisa memberi yang kau inginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>: Ratusan tahun aku menunggu. Sampai kapan lagi aku sanggup menunggu</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>seorang anak menghiburku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>: Inilah nasib kita, Gombel. Ratusan tahun usia kita. Kita tidak perlu anak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>untuk melanjutkan hidup kita. Kitalah yang mendampingi sang waktu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Malam bukanlah kesedihan kalau kita bersabar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>: Aku t</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR">ida</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">k bisa bersabar lagi, Ruwo. </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">Setelah ratusan tahun kata sabar jadi<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span>tidak bermakna. </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Ayolah, kita akan dapatkan anak<span> </span>yang manis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">WEWE GOMBEL terus merajuk. Kemudian percakapan terhenti karena sayup terdengar anak belajar bernyanyi.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>02.<span> </span>Malam hari, di dalam rumah terang dan bersih, pinggiran kota</span></span></strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><em>BELA, MAMA</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA sedang belajar di kamar atas; di ruang tamu MAMA lelah sepulang kerja.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>: (<em>Menyanyi</em>) <span> </span>Kasih ibu kepada beta </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:119.1pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">tak terhingga sepanjang masa</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:119.1pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">hanya memberi tak harap kembali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:119.1pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">bagai sang surya menyinari dunia.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>: Bela, berisik. Mana air untuk Mama?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>: Iya, Ma. Sebentar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Mama</span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> berolah raga sekedarnya dan menyalakan lampu teras. <span style="text-transform:uppercase;">Bela</span> turun membawakan air hangat. Mama menyentuh air langsung marah.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>: Terlalu panas, Goblok. Kau mau merebus Mama! Kurang ajar!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA memukuli BELA dengan handuk. BELA cepat-cepat mengambil air sambil menangis.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>: Maaf, Ma. Bela tambahkan air dingin dulu<em>.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA mengumpat seraya menyalakan televisi dan memencet-mencet remot. B<span style="text-transform:uppercase;">ela </span>mengurut kaki Mama sambil terus menangis. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>: (<em>Mentertawakan acara televisi</em>) Bela, sudah. Diam. Tidak kau lihat </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Mama sedang menonton sinetron*)<em>.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">03. <span> </span>Malam yang sama, di halaman rumah. Gembira.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span style="text-transform:uppercase;">Anak-anak,<span> </span>bela, MAMA</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Anak-anak bermain-main. Gembira sekali. BELA mengintip dari jendela atas. Anak-anak memanggilnya. BELA takut dan ragu-ragu tetapi keluar juga melalui jendela.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Semua bermain lebih seru. Tiba-tiba MAMA keluar membawa sapu dan berteriak-teriak.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>: Hei, bubar. Tidak punya rumah apa. Malam-malam begini ribut saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Diculik Wewe Gombel, tahu rasa kalian!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Anak-anak </span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">menyoraki. MAMA melempari anak-anak sesuatu. <span style="text-transform:uppercase;">Anak-anak </span>bubar. BELA sendirian.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<em><span> </span>(Berbisik) </em>Teman-teman kalian di mana? Aku ikut.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA <span> </span>mencari-cari teman-temannya. BELA tersesat.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<em><span> </span>(Berteriak) </em>Teman-teman kalian di mana! (<em>Terkejut</em>) Lho, aku sekarang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>di mana, ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">04.<span> </span>Malam semakin larut. Di bawah pohon. Mistis</span></span></strong><em><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">.</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA, WEWE GOMBEL</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA menangis sendiri. GOMBEL menari-nari menarik perhatian B<span style="text-transform:uppercase;">ela</span>. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>Mengeluarkan boneka cantik</em>) Bela&#8230; Bela&#8230; Ini Ibu punya. Kamu mau</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>boneka?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<em><span> </span></em>Siapa k-kamu&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>Menyerahkan boneka</em>) Terimalah. Jangan takut. Cantik, bukan? Ciumlah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Setelah mencium boneka, BELA pingsan. GOMBEL membawa BELA sambil menari-nari gembira.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">05.<span> </span>Malam yang sama, di teras rumah, cemas.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA, <span style="text-transform:uppercase;">Anak-anak, Orang-orang</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Anak-anak </span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">memanggil-manggil <span style="text-transform:uppercase;">Bela. </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ANAK-ANAK<span> </span>:<span> </span>Bela&#8230; Bela&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA juga mencari BELA.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Bela&#8230; Bela&#8230; Kamu </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">di mana? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA bertanya kepada Anak-anak melalui jendela.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Kalian tahu di mana Bela?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Anak-anak </span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">kaget dan takut.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ANAK<span> </span>: T-tidak. Kami tidak tahu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ANAK-ANAK<span> </span>: (<em>Kabur</em>) Hii&#8230; Ada Wewe Gombel&#8230; (<em>Tertawa)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span><span> </span>: (<em>Marah sambil melempar sesuatu</em>) Dasar&#8230;. (<em>Kembali mencari </em>Bela)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Bela&#8230; Bela&#8230; Kamu di mana? </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">(<em>Menangis, cemas</em>) </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Jangan kau </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">tinggalkan Mama sendiri. <span> </span>(<em>Kepada orang-</em>orang) Tolong. Tolong! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Bela hilang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Orang-orang </span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">berdatangan. MAMA cemas.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG<span> </span>:<span> </span>Ada apa, Bu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Bela hilang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG TUA<span> </span>:<span> </span>Bela pasti diculik Wewe Gombel. Ini saat Wewe Gombel mencari mangsa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG<span> </span>: <span> </span>Wewe Gombel?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG TUA<span> </span>:<span> </span>Ya, Wewe Gombel. Hantu Penculik Anak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Tidak, jangan mengada-ada, Pak Tua.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG TUA<span> </span>:<span> </span>Tidak, ini benar. Kemarin malam aku mendengar tangisnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG<span> </span>:<span> </span>Hii&#8230; Kudukku jadi merinding.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG TUA<span> </span>:<span> </span>Tapi jangan khawatir, Wewe Gombel sangat senang mendengar bunyi-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>bunyian alat dapur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">ORANG<span> </span>:<span> </span>Wewe Gombel menganggap bunyi-bunyian itu adalah panggilan untuk</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span>menari-nari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">ORANG TUA<span> </span>:<span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Kalau dia sedang menari-nari</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">, </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>tentu </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">p</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">egangan</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"> kepada Bela </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">terlepas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span><span lang="IN">Itu kesempatan kita mengambil Bela kembali.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG<span> </span>:<span> </span>Mari kita bergerak sekarang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG<span> </span>:<span> </span>Ayo berangkat! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">ORANG<span> </span>:<span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Hancurkan Wewe Gombel!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Orang-orang </span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">pergi dipimpin <span style="text-transform:uppercase;">Pak Tua</span>. M<span style="text-transform:uppercase;">ama</span></span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> <em>menangis sendiri. Udara bertiup kencang sekali.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>(<em>Kedinginan) </em>Udara dingin sekali. Bela kau di mana? Mengapa kau pergi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Ya, ya. Tentu kau marah kepada Mama. Maafkan aku, Bela. Mama <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>menyesal. Mama tidak akan bersikap kasar lagi, Bela. Bela pulanglah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Di sinilah rumahmu. <em><span> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">06.<span> </span>Malam, di atas pohon besar, mistis.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Wewegombel, Gondoruwo, BELA</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>T</em></span><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ertawa gembira) </span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Ruwo, Ruwo&#8230;<span> </span>Lihatlah, kita dapat anak yang manis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Kemarilah&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>(<em>Kaget dan sedih</em>) Kau menculik anak lagi, Gombel?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>A</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ku tidak menculik! </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Aku menyelamatkan anak ini.<span> </span>Namanya Bela. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>(<em>Melihat BELA</em>) Menyelamatkan bagaimana? </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">(<em>Cemas) </em></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Dia pingsan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>D</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ia sangat menderita. Ibunya kasar, suka membentak dan memukul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Teman-temannya juga meninggalkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Tapi dia manusia. Dia bukan jenis kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Kita bisa menyenangkannya. Dan kesenangan Bela adalah kebahagiaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>kita. Kita tidak akan kesepian lagi, Ruwo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Ya. Kita tidak akan kesepian lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(</span><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Menaburkan sesuatu</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">)<em> </em>Bela&#8230; bangun&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Rasanya hidup kita begitu cepat berubah, Gombel.<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA <span> </span>:<span> </span>(<em>Bangun</em>) Siapakah Ibu ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>T</em></span><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ersenyum</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">) Aku ibumu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>Ibu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Y</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">a, Ibu Gombel. Dan itu bapakmu. Bapak Ruwo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>: (<em>Haru) </em>Ya, Anakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>Ini di mana?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>D</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">i mana? Ini rumahmu sendiri. Ayo main.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Mereka bermain-main kuda-kudaan dst. Mereka menyanyi gembira sekali.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">07.<span> </span>Malam, di bawah pohon besar, mistis.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Wewegombel, Gondoruwo, BELA, ORANG-ORANG,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">ANAK-ANAK, MAMA</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">O</span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">rang-orang membunyikan alat-alat dapur berkeliling kampung dipimpin <span style="text-transform:uppercase;">Pak Tua</span>. Mereka membawa obor dan senjata sambil memanggil-manggil BELA.<span> </span><span> </span>WEWEGOMBEL dan GONDORUWO ikut menari mengikuti orang-orang. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>BELA tidak merasa kalau sudah ditinggalkan WEWEGOMBEL</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>Ayo main, Ibu Gombel. Ibu di mana? (<em>Setengah sadar</em>) Aku ini di mana? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Bapak Ruwo? Ibu? Ibu&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>(<em>Datang dan memeluk Bela)</em> Bela, anakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>(<em>Melepaskan pelukan) </em>Siapa kamu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Bela, jangan katakan begitu, Anakku. Aku mamamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>Mama? Mama itu jahat. Mama suka membentak dan memukul.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Tidak, Sayang. Mama sayang kamu. Mama akan bersikap lembut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>Mama lebih sayang televisi daripada Bela.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Tidak, Sayang. Lihatlah, Mama. Hanya kaulah yang Mama sayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Mama sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ayo, peluk, Mama, Sayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>(<em>berpelukan)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>Lepaskan&#8230; (<em>Berlari pergi</em>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>(<em>Mengejar</em>) Bela, kembali. Mama akan berubah, Bela.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>(<em>Kembali sambil menggendong boneka</em>) Mama, Bela pulang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>(<em>Marah dan menjewer telinga Bela</em>) Bikin repot saja. Ayo, cepat!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Bela</span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> menangis kesakitan. <span style="text-transform:uppercase;">WeweGombel </span>menangkap tangan <span style="text-transform:uppercase;">Bela.</span> Terjadi tarik menarik antara <span style="text-transform:uppercase;">WeweGombel </span>dan <span style="text-transform:uppercase;">Mama</span>.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>: <span> </span>Kau siapa. Ini anakku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Bela ini milikku. Dia sudah menjadi anakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>(<em>Menangis</em>) Ibu&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Kau mengerikan. Lepaskan. Jangan sentuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Kau jahat. Kau menyia-nyiakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Akulah mama yang melahirkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>(<em>Menangis</em>) Mama&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Akulah yang menyayanginya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Kau berbohong. Kau menculiknya. (Berteriak) Tolong&#8230; Wewe Gombel</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>di sini! Wewe Gombel merebut anakku!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">B<span style="text-transform:uppercase;">ela</span> menangis. <span style="text-transform:uppercase;">Orang-orang</span> datang. Mereka menyiapkan senjatanya masing-masing.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG TUA<span> </span>:<span> </span>Gombel, lepaskan. Sekarang enyahlah dari sini! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Orang tua</span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> menusuk <span style="text-transform:uppercase;">Wewe Gombel</span> dengan keris. <span style="text-transform:uppercase;">Wewe Gombel</span> perutnya terluka. Pegangannya terlepas. BELA terjatuh dan pingsan. <span style="text-transform:uppercase;">Orang-orang</span> mengangkat B<span style="text-transform:uppercase;">ela</span>. <span style="text-transform:uppercase;">Gondoruwo</span> menyerang <span style="text-transform:uppercase;">Orang-orang</span> tetapi keris <span style="text-transform:uppercase;">Pak Tua</span> telah bersarang pula di dadanya. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Orang-orang</span><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">: (Bersorak) </span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Enyahlah Wewe Gombel. Kita dapatkan Bela! Kita dapatkan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:79.4pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Bela! Hidup Pak Tua. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Orang-orang pergi dengan puas dan penuh kemenangan</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">.<em><span style="text-transform:uppercase;"> Anak-anak</span> melempari <span style="text-transform:uppercase;">Wewe Gombel</span> dengan batu dan menusuk-nusuk dengan kayu. WEWE GOMBEL kesakitan dan sangat sedih.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ANAK-ANAK<span> </span>:<span> </span>Gombel penculik anak. Gombel-gombel. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ANAK-ANAK<span> </span>:<span> </span>Gombel tak punya anak. Gombel-gombel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ANAK-ANAK<span> </span>:<span> </span>(<em>Mengejek) </em>Aduh, kasihan. (<em>Tertawa-tawa)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Anak-anak, aku mendambakan seorang anak. Mengapa kalian <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>memusuhiku? Aku sayang kepada kalian, mengapa kalian jahat kepadaku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>(<em>Menarik seorang anak dan memeluknya) </em>Apakah yang kalian butuhkan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>melebihi kasih sayang? (<em>Membelai dengan lembut) </em>Kau mau menjawab, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Manis?<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.8pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.8pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ANAK itu meludahi WEWE GOMBEL. WEWE GOMBEL marah. Wajahnya dibuat sangat mengerikan. Anak-anak lari ketakutan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>: Kalian anak-anak nakal!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><em>WEWE GOMBEL terjatuh dan batuk-batuk. Tubuhnya terasa sakit.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:100.4pt;text-indent:-21pt;line-height:200%;"><!--[if !supportLists]--><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span>08.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span></strong><!--[endif]--><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Malam yang sama, di depan rumah. Hidmat</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:79.4pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">ORANG-ORANG, BELA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:79.4pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.8pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">ORANG-Orang </span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">menyerahkan BELA yang masih pingsan kepada MAMA. ORANG-ORANG sibuk menyadarkan BELA.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.8pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG TUA<em><span> </span></em>: <span> </span>(<em>Berpidato)</em> Bapak Ibu sekalian. Telah terbukti bahwa Bela telah diculik </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Wewe Gombel. Ini berarti bahwa anak-anak kita dalam keadaan tidak </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>aman. Kita harus setiap saat menjaga dan melindungi anak-anak kita. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:79.4pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Malam ini kita bersama bisa atasi. Kita harus waspada juga untuk malam- </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>malam nanti. Hari ini<span> </span>seorang anak diculik Wewe Gombel, mungkin </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>besok oleh yang lainnya. Atau bahkan, maaf, <span> </span>oleh diri kita sendiri karena </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>kita kadang telah menculik dunia anak-anak menjadi dunia orang dewasa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Tiba-tiba BELA berteriak-teriak seperti kesurupan. ORANG-ORANG berlarian menolong.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span><span> </span>:<span> </span>Mana jalannya? Siapa orang tuaku? Siapa guruku? Siapa aku?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Bela kau berkata apa? Ini Mama, Sayang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span><span> </span>:<span> </span>(<em>Tertawa) </em>Apa yang telah kau lakukan padaku? Apa kewajibanmu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Mana punyaku? (<em>Menangis</em>) Aku tidak mau dipaksa. Aku tidak mau </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>dibiarkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>: <span> </span>Bela, sadarlah. Lihatlah, semua orang melihatmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG TUA<span> </span>:<span> </span>(<em>Mengucap mantra) </em>Sss. Bumi berkata langit mendengar, udara mengingsut </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>pepohonan bergetar, air memercik cahaya terlempar. Tuangkan dalam </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>darah, jerang dalam pikiran, seduh dalam hati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA langsung tertidur. ORANG TUA memijit kening dan tengkuknya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ORANG TUA<span> </span>:<span> </span>Hatinya masih terguncang. Pikirannya tegang. Jiwanya terombang-ambing </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>dalam gelombang besar yang membingungkan. Sekarang semua tenanglah.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Pulanglah, lihat anak kalian sendiri. <span> </span>Barangkali ada yang belum di rumah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Jaga mereka, jangan lengah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Semua pergi.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">09.<span> </span>Malam kedua, di bawah pohon besar, mistis</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:79.4pt;text-indent:.1pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Wewegombel, Gondoruwo, BELA, MAMA</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>Menangis</em>) Bela, engkau anak yang manis. Anakku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Bela telah pulang kepada mamanya. Relakanlah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Bela, kau tinggalkan Ibu, Sayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Sabarlah. Manusia perlu anak karena usia mereka singkat. Mereka</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>melanjutkan hidup mereka dengan beranak pinak. Kita melanjutkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>hidup kita dengan umur kita yang panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Aku juga ingin punya anak. Aku ingin anak! (<em>Berpelukan</em>)<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Terdengar suara BELA membaca buku pelajaran.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA (VO)<span> </span>:<span> </span>(<em>Memukul-mukul meja) </em>Diam. Diam. Berisik. Sinetronnya*) sudah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>mulai!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA (VO)<span> </span>:<span> </span>Besok ada ulangan, Mama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA (VO)<span> </span>:<span> </span>Cerewet. Kau dengar tidak, Mama sedang nonton televisi! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> <em>melempar sesuatu. BELA mengaduh kesakitan. Tangis <span style="text-transform:uppercase;">Wewe Gombel</span> <span> </span>makin keras. <span style="text-transform:uppercase;">Wewe Gombel</span> <span> </span>hendak mendatangi BELA tetapi dicegah RUWO.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Anakku. Aku tak tahan lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Adat manusia memang begitu, Gombel. Kita hanya bisa menonton.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Betapa sedihnya, Ruwo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Tutup matamu, tutup juga telingamu, Gombel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>(<em>Datang</em>)<span> </span>Ibu Gombel&#8230; Aku datang&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>: <span> </span>(<em>Memberi isyarat kepada Bela supaya pergi) </em>Sss&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>: <span> </span>(<em>Malah tersenyum menggoda) </em>Ibu Gombel, Bapak Ruwo, aku di sini!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>Membuka mata. Kaget dan senang. Memeluk Bela</em>) Anakku&#8230; Aku</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>merindukanmu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>Ibu, Bela mau di sini saja. Aku takut. Mama jahat. Mama&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>Berusaha marah</em>) Tidak. Pulanglah. Mamamu menunggumu. Dialah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>mamamu yang sesungguhnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>Tidak. Bela sayang Ibu. Bela mau bersama Ibu Gombel saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>Mengubah wajahnya menjadi sangat mengerikan</em>) Lihatlah. Aku akan <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>lebih jahat lagi. Aku akan memukulimu. (<em>Memukul dengan keras</em>) <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Kembalilah kepada mamamu lagi! Pulang!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>(<em>Kaget, tidak percaya</em>) Ibu Gombel jahat. Ibu Gombel jahat!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">B<span style="text-transform:uppercase;">ela</span> melempar <span style="text-transform:uppercase;">Wewe Gombel</span> dengan boneka lalu menangis pergi. <span style="text-transform:uppercase;">Wewe Gombel</span> tertawa mengerikan, sebentar kemudian menangis sedih sekali.<span> </span><span style="text-transform:uppercase;">Wewe Gombel</span> memungut boneka.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>Kepada boneka</em>) Maafkan aku Bela. Kau tidak akan mengerti. Aku sangat<span> </span> <span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span><span lang="IN">sayang kepadamu. Aku terpaksa melakukan ini.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Sudahlah, kau telah melakukan yang seharusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Ruwo, ini siksaan tak ada habisnya. Kita adalah korban nasib terabaikan.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Betapa sengsaranya hidup ini. Umur panjang </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">kita </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">adalah kutukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">10.<span> </span>Malam kedua. Di bawah pohon besar. Sedih.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Wewegombel, Gondoruwo</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Tiba-tiba <span style="text-transform:uppercase;">Gondoruwo</span> tertawa dan menangis hebat. <span style="text-transform:uppercase;">Wewe Gombel </span>kaget dan memukul <span style="text-transform:uppercase;">Gondoruwo</span> keras-keras.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Ruwo, apa-apaan kau ini. Sudah, diam. Jangan mengundang orang-orang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>untuk membunuh kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>(<em>Marah dan mencabut keris di dadanya</em>) Lebih baik mereka membunuhku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Biarkan aku mati. Aku tidak berguna lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>Ada apa kau ini. Ini adalah kelangsungan hidup kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Yang kau pikirkan cuma anak. Anak yang tak akan pernah menjadi milik </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>kita.<span> </span>Sementara aku yang beratus-ratus tahun mencintaimu, kau abaikan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>begitu<span> </span>saja. Apakah ini tidak sangat menyedihkan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Darah <span style="text-transform:uppercase;">Gondoruwo</span> meleleh dari dadanya, lalu terjatuh lemah.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>Memeluk</em>) Maafkan aku, Ruwo. Maafkan aku. Susah payah aku </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>menginginkan seorang anak di dekapku.Tapi aku tak sadar ternyata</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>sesungguhnya, kaulah yang kucari. (<em>Membuang boneka) </em>Kasih sayang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Kaulah cintaku, Ruwo. Lihatlah kepadaku. Aku menyesal telah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>melupakanmu. (<em>Menangis sedih sekali.)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>:<span> </span>Sekarang, senyumlah, Sayang. Kita akan bahagia, Gombel.<span> </span>Selamanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Selama-lamanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">WEWE GOMBEL tersenyum. Mereka bergandengan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>: Kau cantik sekali, Gombel.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>: (<em>Salah tingkah) </em>Kau juga hebat, Ruwo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><em>Mereka tertawa. Lalu sejenak mereka diam.</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>:<span> </span>(<em>Menghirup nafas panjang-panjang) </em>Kau rasakah udara malam ini, Ruwo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>: Ya. Udara malam seperti udara malam yang kita hirup beratus-ratus tahun </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>yang lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>: Tetapi terasa lebih segar, lebih lembut, Ruwo.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">RUWO<span> </span>: Ya, karena kita telah menemukan cinta kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">GOMBEL<span> </span>: Bulan telah muncul, Ruwo. Malam ini indah sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><em>Mereka berpelukan.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">11.<span> </span>Malam kedua, di dalam rumah, haru</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:79.4pt;text-indent:.1pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">BELA, MAMA</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;text-transform:uppercase;" lang="IN">Mama</span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> tertawa melihat pertunjukan lucu dari televisi. Tiba-tiba ada teriakan seorang anak. Mama kaget dan baru tersadar kalau B<span style="text-transform:uppercase;">ela</span> tidak ada. MAMA mencari-cari BELA di kamar atas. BELA tidak ada di rumah, MAMA cemas. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>(<em>Turun dari tangga</em>) Bela, kamu di mana? (<em>Melihat televisi dengan </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:79.4pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>nyalang</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">) Kaulah yang mencuri anakku. Jangan tersenyum. Kuhancurkan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:79.4pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>kau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:79.4pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.8pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA menghajar</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> <em>televisi dengan sapu. Tampak percikan listrik dan kepulan asap.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.8pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>: <em><span> </span></em>Kaulah Wewe Gombel, kaulah Wewe Gombel sebenarnya!<em> </em>(<em>Memegang <span> </span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>puingan televisi</span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">) Kaulah yang menculik anak-anak di seluruh dunia. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Kaulah Wewe Gombel itu! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA menangis, k</span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">ecapekan, dan </span></em><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>terduduk di lantai. Ia benar-benar merasa sendiri.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Bela</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR"> kau di mana?</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR"> </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">P</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ulanglah</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">, anakku</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">. Apa gunanya Mama bekerja setiap </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>hari, kalau tidak untuk kamu. (<em>Menghamburkan tas berisi uang dan </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>tertawa) </span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Apa <span> </span>gunanya Mama melanjutkan hidup kalau Mama menyia-</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>nyiakan kamu. <span> </span>Mama khilaf.</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"> Mama berdosa. Lihatlah wajah Mama</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR">s</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">ebenarnya</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR">. </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span>Mama <span> </span>sangat sayang kepadamu. Engkaulah hidup Mama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;">(<em>Tersenyum) </em>Pandanglah hari-hari akan datang. Mama </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">akan</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"> selalu ada<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span><span> </span>untuk kamu. Mama akan ada di sampingmu kalau kamu</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> belajar. Waktu </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR"><span> </span></span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Mama hanya untuk kamu. Bela,</span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="PT-BR">pulanglah. Mama menunggumu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>(<em>Muncul di pintu</em>) Benarkah itu Mama?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">MAMA<span> </span>:<span> </span>Bela? (<em>Berpelukan</em>) Mama sayang kamu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">BELA<span> </span>:<span> </span>Bela juga sayang Mama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><span style="text-decoration:underline;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">12.<span> </span>Malam bulan purnama, di halaman rumah, gembira</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">SEMUA PEMAIN</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Semua menyanyi dan menari.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span></span></em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Anak adalah amanat kehidupan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Anak adalah jiwa sang insan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Jagalah jagalah jagalah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Dengan sepenuh jiwa<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Anak adalah senyum kehidupan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Anak adalah kita masa depan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Jagalah jagalah jagalah </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><span> </span>Dengan kasih sayang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Selesai</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><strong><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:39.7pt;text-indent:39.7pt;line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">*) disesuaikan dengan tokoh sinetron atau nama program televisi berrating tinggi</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:200%;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN">Bila hendak mementaskan naskah ini, mohon izin kepada penulis.<strong></strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;line-height:200%;" align="right"><span style="font-size:11pt;line-height:200%;font-family:Tahoma;" lang="IN"><span> </span><em><span> </span></em></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/35/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/35/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/35/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=35&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-wewe-gombel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naskah : Sidang Susila</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-sidang-susila/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-sidang-susila/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 05:35:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teater]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[SIDANG SUSILA Selontar Pengantar Lakon Sidang Susila (karya Ayu Utami dan Agus Noor) dipentaskan pertama kali oleh Teater Gandrik, pada tanggal 21-23 Februari 2008 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Inilah lakon yang menggambarkan satu upaya monopoli kebenaran moral. Sebuah zaman, &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-sidang-susila/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=32&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<h1><span style="font-family:Tahoma;">SIDANG SUSILA</span></h1>
<h1><span style="font-family:Tahoma;">Selontar Pengantar</span></h1>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lakon Sidang Susila (karya Ayu Utami dan Agus Noor) dipentaskan pertama kali oleh Teater Gandrik, pada tanggal 21-23 Februari 2008 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Inilah lakon yang menggambarkan satu upaya monopoli kebenaran moral. Sebuah zaman, ketika Undang-undang Susila ditegakkan, yang bayang-bayangnya seperti sudah bisa terasakan ketika naskah ini ditulis. Sebuah zaman yang menyeramkan tetapi juga penuh kekonyolan. Bagi Anda, yang sudah menyaksikan pementasan lakon itu, file naskah lakon ini bisa menjadi bacaan sekaligus mencoba membayang-bayangkan bagaimana proses kerja penafsiran estetik telah berlangsung dari jagat teks ke jagat panggung, sebagaimana yang kemudian tampak dalam pementasan Teater Gandrik itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Bagi yang belum sempet menyaksikan (semoga saja bisa menontonnya apabila lakon ini dipentasulangkan oleh Teater Gandrik) file ini bisa menjadi bacaan sembari mengimajinasikan bagaimana panggung berlangsung. Membaca naskah lakon, memang seperti menyusun adegan dalam panggung yang tergelar dalam kepala. Ini, siapa tahu, bisa jadi obat kagol, lantaran tak sempat menyaksikan pertunjukannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Tetapi, siapa tahu, kelompok teater lain berminat mementaskan. Tentu saja, naskah ini terbuka bagi kelompok teater mana pun. Artinya, naskah ini boleh dipentaskan di mana pun kapan pun oleh siapa pun, sepanjang memberitahukan pada penulis, tentu sekadar untuk sopan santun. Satu hal lagi, Anda boleh mengutip sebagian atau seluruh bagian naskah ini, sepanjang itu tidak digunakan untuk kepentingan bisnis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Nah, sekarang, Anda silakan baca file naskah Sidang Susila ini..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">BUKAN PERINGATAN PEMERINTAH:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Apabila naskah ini dipentaskan, harap menyertakan tanda “17 tahun keatas” pada poster dan semua elemen publikasi lainnya, termasuk tiket dan buku acara, untuk menyatakan kalau tontonan ini lebih baik ditonton oleh para penonton yang memang “sudah dewasa”. Ini juga dimaksudkan, bahwa tanpa undang-undang yang mengatur moralitas, sebagai masyarakat kita pun sesungguhnya (sudah) bisa mengatur diri sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></strong></p>
<h2 style="text-align:center;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;">SIDANG SUSILA</span></h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-family:Tahoma;">Naskah: Ayu Utami &amp; Agus Noor</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">OPENING</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Suasana murung dan menekan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Muncul serombongan Polisi Moral, yang berjalan menderap, tegas. Seakan mengawasi keadaan dengan sikap waspada dan curiga.Tampak segerombolan orang yang mengendap-endap menghindari Polisi Moral itu. Orang-orang itu ketakutan, langsung sembunyi begitu melihat Polisi Moral melintas. Sementara Polisi Moral itu terus berderap melintas, bagai menyebar ke seluruh penjuru kota. Mengawasi keadaan. Memasang bermacam tanda gambar yang penuh larangan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Ketika para Polisi Moral itu akhirnya melintas pergi, segerombongan orang yang tadi mengendap-endap itu tampak gembira. Tampak mereka kemudian bersiap untuk menggelar tayuban.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SATU</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Tayuban sedang berlangsung di sebuah tempat di pingiran kota…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-family:Tahoma;"> penari tayub asik ngibing. Orang-orang yang yanggembira pun ikut menari dan berteriak-teriak menyenggaki goyang para penari. Mira, seorang penari tayub bergerak sensual, mengundang gairah para lelaki yang ikut berjoget. Suasana meriah dan bergairah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Muncul Susila, membawa pikulan berisi dagangannya: mainan anak-anak. Bermacam mainan anak-anak. Ada mobil-mobilan, wayang, balon yang dibentuk dilekuk-lekuk aneka bentuk, kitiran, dll. Begitu melihat sesila muncul, Mira langsung menyambut dengan genit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Waduh Mas Susila… Ayo sini, Mas… ayo toh…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Beberapa penari tayub yang lain pun segera mengrubungi Susila, seolah Susila sudah akrab dengan mereka, sudah terbiasa datang ke tempat itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PENARI TAYUB 1: Kemana saja sih.. Kok lama nggak kelihatan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PENARI TAYUB 2: Apa nggak ngerti kalo dikangenin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PENARI TAYUB 1: Makin montok saja…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PENARI TAYUB 2: Montok apanya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PENARI TAYUB 1: (Sambil mentowel susu Susila) Ya susunya toh ya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Ealahhh, sudah, sudah! Apa ndak liat kalo dia pinginnya sama saya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Mira langsung menarik Susila untuk ikutan ngibing. Maka Susila pun segera menari. Tubuhnya yang tambun terlihat erotis tetapi juga lucu ketika menari. Gerakan tarinya komikal dan mengundang tawa. Sampai kemudian Susila terlihat kelelahan, lalu istirahat sembari kipas-kipas. Tubuh tambunnya yang berkeringat membuat ia sumuk, lalu mulai membuka kancing bajunya. Tampak susu Susila yang kimplah-kimplah. Mira mengelus-elus susu Susila, hingga Susila merem-meleki ganjen, sambil terus memandangi penari tayub itu. Seperti mengkhayalkan hal-hal yang erotis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Muncul seorang lelaki, sikapnya hati-hati, mendekati Mira. Laki-laki ini segera menarik Mira, menjauhi Susila. Tampak Mira dan laki-laki itu berbisik-bisik, bercakap-cakap rahasia. Tampak lelaki itu memberikan segulungan ketas pada Mira. Mira memperhatikan kertas itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila tampak tertarik, dan mendekati Mira. Tetapi begitu melihat Susila mendekat, Mira segera cepat-cepat menggulung dan menyembunyikan kertas itu. Sementara lelaki yang tadi memberikan segulungan kertas pada Mira langsung menyelinap pergi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Ada apa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Ndak apa-apa… Ayo sudah nari saja lagi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Maka Mira pun langsung mengajak Susila menari. Suasana makin ramai dan gayeng. Mira langsung cekikikan genit ketika Susila menggelitik perutnya. Tayuban terus berlangsung. Tarian makin hot.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Mendadak terjadi kepanikan. Muncul beberapa Polisi Moral – yang langsung mengobrak-abrik tayuban itu. Para penari dan pengunjung yang lain langsung kabur. Susila yang bertubuh tambun terlihat kaget, bingung dan hanya melongo memandangi itu semua. Ia ingin ikut lari juga, tapi tubuhnya yang tambun tak bisa membuatnya bergerak cepat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Beberapa Polisi Moral langsung mengepung Susila. Senapan-senapan dengan lampu infra merah mengarah ke tubuh Susila. Susila hanya mengangkat tangan kebingungan. Titik-titik merah terlihat memenuhi tubuh Susila. Susila hanya bisa pasrah ketika para Polisi Moral itu meringkusnya dengan jaring yang dilemparkan. Susila terlihat kebingungan, nggak ngerti dengan apa yang terjadi itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Lho, ada apa ini… Ada apa… Waduh…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Seperti mendapat tangkapan paus besar, para Polisi Moral itu langsung menyeret dan menggelandan Susila. Beberapa petugas itu langsung membawa dagangan Susila</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSLA: Waduh… daganganku… Daganganku…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-family:Tahoma;"> petugas yang meringkus Susila itu segera menggelendangnya. Memukulinya. Susila hanya bisa berteriak-teriak mengaduh kesakitan. Mereka exit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Perlahan lampu meredup. Hanya terdengar teriakan dan lolongan Susila. Mengingatkan pada inkuisisi yang penuh kekerasan. Sayup-sayup suara Susila makin lemah dan menghilang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">DUA</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Ketika lampu menyala di satu tempat, terlihat Ibu Jaksa penuh gaya memberi keterangan pers di hadapan wartawan yang mengerubutinya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Tepat pukul kosong kosong lebih kosong kosong, Undang-undang Susila telah ditetapkan secara sah dan meyakinkan. Dengan berlakunya Undang-undang ini, maka secara resmi dan konstitusional kita telah menjadi bangsa yang bermoral. Untuk itu secepatnya kita juga akan menyusun Garis-garis Besar Haluan Moral Negara… Bertepatan dengan itulah, kami mencanangkan Gerakan Nasional Moral Bangsa untuk mencapai moralitas yang adil dan beradab. Kami sudah menggelar razia moral. Dan Alhmandulillah, kami telah berhasil menangkep dari pada seorang penjahat moral, yang secara terang-terangan melakukan tindakan pornografi dan pornoaksi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-family:Tahoma;"> wartawan mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Tenang… tenang…Semua akan saya jawab… Tapi tolong dicatat yang baik. Jangan sampai salah kutip… Nanti saya mesti repot membuat bantahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">WARTAWAN: Siapa yang ditangkap itu, Bu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Detailnya nanti saya informasikan setelah penyidikan. Tapi yang jelas, orang ini adalah penjahat moral pertama yang berhasil kita amankan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">WARTAWAN: Kapan disidangkan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Segera. Secepatnya. Ini prioritas kasus yang akan kami ungkap secara tuntas. Agar masyarakat tahu, kalau kita tidak main-main dalam menegakken Undang-undang Susila ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">WARTAWAN: (Memotong dengan cepat) Bukankah Undang-undang ini bentuk lain dari represi moral?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Langsung bernada membentak marah) Bagimana pun Sodara-sodara, pornografi dan pornoaksi harus kita babat! Karna begitulah, Sodara-sodara… Sebagaimana firman Allah. Moral masyarakat harus dijaga, Sodara-sodara. Kalau penjahat moral ini tidak segera dihukum, pasti masyarakat akan resah. Dia akan mengganggu ketertiban. Membuat hidup kita sengsara. Haleluya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Perlahan di tempat lain, cahaya menerangi Susila yang sudah berada dalam sel. Dalam sel itu tampak tempat tidur kecil. Dan di sampingnya ada closet. Susila sedang duduk terkantuk-kantuk di closet itu. Sedang berak. Posisi duduknya mengingatkan kita pada pose patung The Thinker Augusto Rodin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Berdasarkan laporan yang saya terima, orang ini boleh dibilang penjahat moral paling menjijikkan… Jorok.. Bau busuk…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Di dalam sel, Susila kentut begitu keras. Terdengar seperti suara orang terserang mencret, dan Susila sampai menutup hidung tak tahan dengan bau tainya sendiri…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Dia penjahat moral paling berbahaya. Karena itulah, kami menempatkannya di sel khusus, dengan penjagaan ekstra ketat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lampu di bagian Bu Jaksa meredup. Bu Jaksa dan para wartawan exit. Di panggung tinggal terlihat Susila yang masih duduk terkantuk-kantuk sedang berak di closet. Bersamaan lenyapnya Bu Jaksa itu, terdengar suara mencret yang menggelontor panjang. Dan Susila terlihat begitu lega…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">TIGA</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila bangkit dari closet. Ia menuju papan tempat tidur, duduk di situ dan memandangi selnya. Ia terlihat kebingungan dan tak mengerti kenapa ia berada di sel itu. Ia berusaha tiduran, tapi kerepotan karena tempat tidur itu begitu kecil dan sempit untuk tubuhnya yang tambun. Lalu ia bangkit, mengambil gelas seng yang tergeletak di pojok. Melihat isi gelas itu, lalu meminumnya, menenggak… Tapi rupanya gelas itu sudah kosong. Di tumpahkan ke telapak tangannya berkali-kali, tak ada setetes air pun menetes dari gelas itu. Ia terlihat berfikir sejenak, lalu tersenyum seperti memperoleh ide cemerlang… Susila pun segera meludah berkali-kali ke dalam gelas itu, lalu menenggaknya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Lumayan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila terlihat lega, terbebas dari rasa haus di kerongkongannya. Lalu Susila terlihat bingung lagi. Mengelus perutnya, merasa lapar. Segera ia memukul-mukulkan gelas seng itu ke jeruji besi, sambil berteriak-teriak memanggil.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Mas… Mas… Mas Pulisi… Mas… Mas Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila terus memukul-mukulkan gelas seng itu ke jeruji besi, terdengar berisik. Sampai tiba-tiba muncul dua orang petugas, seperti pasukan anti teroris yang siap menyergap, mengacungkan senjata ke arah Susila. Melihat itu Susila langsung mundur ke belakang, kaget, sampai gelas yang dipeganginya jatuh…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Ampun … Saya cuma mau minta minum kok… Haus… (melihat sikap petugas yang serius siap menembak itu, ia jadi ketakutan juga) Ee… Ka…kalau tidak ya tidak apa-apa… Biar saya minum ludah saya sendiri lagi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila beringsut hendak mengambil gelasnya. Ketika melihat Susila bergerak, dua petugas itu langsung mundur, seperti ketakutan dan berjaga-jaga kalau Susila bisa sewaktu-waktu menyerang mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila mengambil gelasnya, meludah berkali-kali ke dalam gelas itu. Kemudian menenggaknya… Sampai ia gelegekan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Uenak tenan… (Menyorongkan gelas itu ke arah petugas) Mau nyoba…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas itu beringsut mundur ketakutan. Tapi tetap dengan senjata siap tembak. Muncul Petugas Kepala, mengamati Susila. Lalu memberi perintah pada seorang petugas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Beri dia ransum!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Salah satu petugas dengan cekatan mengambil piring berisi sekerat makanan dan siap menyorongkan ke dalam sel Susila, tapi Petugas Kepala itu langsung membentak,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Tolol! Pakai tongkat pengaman!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas itu langsung mengambil tongkat dengan pengait di ujungnya. Lalu petugas itu menyorongkan piring yang sudah dikaitkan di ujung tongkat itu ke dalam sel. Susila memandanginya dengan heran, bingung, tak mengerti. Tapi begitu petugas itu menjauh, Susila langsung saja menyamber makanan di piring itu, dan menyantapnya dengan cepat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-family:Tahoma;"> petugas memandanginya dengan waspada.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Semua siap?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">KEDUA PETUGAS: Siap, Pak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Saya ingatkan sekali lagi, agar kalian hati-hati. Selama interograsi, jangan sampai kalian bersentuhan langsung dengan pesakitan. Mana tabung antiseptiknya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 2: (menunjukkan tabung semprot) Siap, ini Pak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Itu buat berjaga-jaga. Langsung semprotkan antiseptik itu ke tubuh kalian, bila kalian terpaksa bersenggolan atau bersentuhan langsung dengan pesakitan itu. Biar virus pornonya langsung mati, dan kalian tidak tertular…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">KEDUA PETUGAS: Siap, Pak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Keluarkan dia…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 2 segera membuka sel. Senjata tetap waspada di tangannya. Petugas itu menyuruh Susila keluar. Sesila terlihat malas, dan agak mengantuk, garuk-garuk kebingungan melihat sikap para petugas itu yang memandang dan memperlakukannya begitu jijik. Setiap Susila berusaha mendekati petugas itu, langsung petugas itu menjaga jarak, takut bersentuhan dengan Susila.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila disuruh menuju Petugas 1 yang sudah siap di meja. Susila mengulurkan tangan bermaksuk salaman dengan Petugas 1 itu, tapi Petugas 1 langsung menarik tangannya menjauh, tak mau bersalaman…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Duduk!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila segera duduk di hadapan Petugas 1. Dan interograsi pun berlangsung. Petugas 1 (seakan-akan) mengetik semua jawaban Susila. Sementara petugas 2 siap di belakang Susila dengan senjata yang siap ditembakkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Cepat duduk!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Latah) Eh, iya duduk duduk…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila duduk di hadapan petugas 1</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Nama?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Susila, Pak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 mengetik, begitu sepanjang interograsi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Yang jelas! Siapa?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Latah) Ee, ya.. ya Susila, Pak… S. U. S. I. L. A. Itu yang tertulis di KTP. Su-si-la. Tapi lebih sering dipanggil Susilo. Maklumlah, pak, orang Jawa… huruf a diucapkan o…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Yang bener Susila pakai a, atau Susilo pakai o?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Ya, Susila juga ndak papa, Pak… Soalnya kalau Susilo, nanti dikira nyindir…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Lengkapnya?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Susila Parna, Pak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Kok seperti orang Sunda? Tadi katanya Jawa?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kalau a-nya diucapkan o, kan jadi kedengaran mesum… Su-si-la jadi Su-si-lo… Par-na mestinya kan ya jadi Por-no toh, Pak… Eh, sebentar…Porno apa Parno ya? Parno.. Porno.. Porno.. Parno… Welah, kok malah bingung sendiri saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Jangan berbelit-belit! Jawab yang jelas. Tidak usah mungkir. Awas, saya ceples pake penggaris batokmu! Nama lengkap?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Susilo Porno, eh Susila Parna, Pak… Bener, Pak… Susila, Pak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Pekerjaan?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Pedagang, Pak… Pedagang kaki lima…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Pasti kamu jualan VCD porno!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Tidak, Pak..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Jangan mungkir!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Latah) Eh mungkar mungkir..…. Mbok jangan bikin kaget toh, Pak… Saya jadi porno eh parno…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Jadi bener kamu jualan VCD porno…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kok porno? Parno, Pak… Bener, Pak…saya jadi parno kalau kaget…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Jadi kamu jualan kalender porno juga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kok porno terus sih…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Jawab yang jelas?! Barang-barang porno apa lagi yang kamu jual?! Kartu remi porno? Tabloid porno? Majalah porno?…. (tiba-tiba berbisik) Ada majalah Playboy tidak?… Bisa pesen satu? (kepada Petugas 1 yang terus mengetik) Yang tadi nggak usah diketik!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Saya nggak jualan gituan, Pak… Saya cuma jualan mainan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Jadi kamu jualan mainan sex? Apa saja itu? Kondom bergerigi? Viagra? Dildo? Vibrator? Boneka Barbie rasa strawberry? Vagina elektrik?… (hendak berbisik…)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Langsung menebak) Pasti mau pesen, toh?… Saya nggak jualan gituan, Pak… yang saya jual itu cuma mainan anak-anak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Kamu itu jualan anak-anak, begitu? Berapa usia anak-anak yang kamu jual itu?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Welah, bagaimana sih Bapak ini… Bukan jualan anak-anak, Pak… Jualan mainan anak-anak… Jadi yang saya jual itu mainan… Bukan anak-anak… Saya jualan mainan anak-anak, karena saya seneng sama anak-anak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Ya, ya… jangan kecepetan omonganya… Saya bingung ngetiknya… Jadi kamu itu menyukai anak-anak… berarti kamu itu fedofil… Iya, tidak? Jawab yang yang jelas…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA : (Jengkel, dan mulai tidak bisa mengendalikan emosi)) Yang nggak jelas itu siapa? Saya sudah menjawab jelas, malah situ yang pertanyaannya tidak jelas… Kan sudah saya jelaskan, saya ini penjual mainan. Masak begitu saja tidak jelas-jelas… (menarik tangan atau tubuh Petugas 1, agar mendekat) Pen-ju-al ma-in-an… Apa masih kurang jelas?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 langsung gugup ketakutan, berusaha melepaskan diri, dan langsung berteriak-teriak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Antiseptik! Cepat! Cepat antiseptik…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas Kepala segera menyemprotkan antiseptik ke tubuh Petugas 1, sementara petugas dua langsung mengokang senapan. Mengancam Susila. Suasana menjadi begitu panik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Cepat giring ke sel! Cepat!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Dibawah ancaman senjata, Susila di dorong masuk sel. Susila terlihat bingung dengan semua kepanikan itu. Sel segera dikunci. Petugas 1 masih terlihat gemetaran, ketakutan. Petugas kepala terus menyemproti tubuh Petugas 1 dengan antiseptik – yang bentuknya bisa saja seperti semprotan Baygon cair, atau Hairspray atau tabung penyemprot hama sebagaimana dipakai para petani itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">EMPAT</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Muncul Hakim, Jaksa dan Pembela, ketiganya menyaksikan petugas kepala yang sedang menyemprotkan semprotan antiseptik ke tubuh Petugas 1. Sementara Susila sudah terkunci kembali dalam sel. Pada adegan ini, blocking Pembela selalu berada di belakang, seakan tak ingin ketahuan. Pembela itu terlihat menjaga jarak, bahkan sering menjauhi Hakim dan Jaksa – seperti ada yang disembunyikan. Terutama, Pembela selalu menjaga jarak dengan sel dimana Susila terkurung.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas Kepala terkejut dengan kemunculan tiga pejabat itu, yang terkesan mendadak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Maaf kami datang mendadak… (Menyerahkan koran kepada petugas kepala, yang segera membacanya) Kita berkejaran dengan waktu. Kasus ini menjadi head line semua media. Pers terus-terusan mem-blow up penangkapan ini. Semua mendesak agar persidangan dilaksanakan secepatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Kami sedang memprosesnya… Saya jamin semua akan lancar dan tepat waktu. Cuma tadi ada insiden kecil. Pesakitan itu menyerang anak buah saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim dan Jaksa kaget dan beringsut menjauhi Petugas 1…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA:enang… Saya sudah menyemprotkan antiseptik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Bisa kami melihat pesakitan? Kami hanya ingin memastikan pesakitan siap menjalani sidang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Silakan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Jaksa dan Hakim segera menuju ke sel. Keduanya segera menyorotkan lampu senter yang dibawanya ke arah Susila yang meringkuk tak berdaya dan kebingungan dalam sel. Mereka menyenter Susila, seperti tengah meneliti binatang buruan yang berhasil mereka tangkap. Susila menutupi matanya, silau oleh sorot lampu senter itu. Hanya pembela yang mengamati dari jarak agak jauh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Sambil terus menyorotkan senter ke Susila) Waduh, waduh… memang porno banget orang ini… Lihat itu susunya…. (menelan ludah) momplok-momplok montok banget…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Batuk-batuk kecil) Eghm… Eghm… Ingat Bapak Hakim… dilarang terangsang di muka umum… Itu melanggar undang-undang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Siapa yang terangsang… (Menelan ludah, ekspresinya penuh birahi)… Saya hanya mengatakan kalau susu pesakitan ini memang gede banget… Susu paling gede yang pernah saya lihat… Bukankah begitu saudara Pembela? Coba lihat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Kaget, menghindari melihat Susila secara langsung) Eh, iya… iya… saya kira itu memang susu paling gede sedunia…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Itu susu paling berbahaya se dunia! Karena itulah kita menangkapnya. Susu itulah yang menjadi sumber penyakit moral!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Rileks sedikitlah, Bu Jaksa… Kita kan tidak sedang di ruang sidang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Maaf, standar moral saya jelas. Di dalam atau di luar sidang kita mesti menjaga moralitas kita. Ingat, Bapak Hakim, saat ini kita sudah memasuki Orde Moral. Orde Susila. Orde yang mengatur semua moral dan susila kita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Tidak perlu menyeramahi saya soal itu, Bu Jaksa… Apakah Bu Jaksa meragukan standar moralitas saya?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Jaksa dan Hakim saling tatap, kemudian Jaksa mendengus membuang muka. Hakim segera menghampiri Pembela yang terlihat menjauh dan gugup.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Kenapa gugup, Saudara Pembela?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Bapak hakim tahu… ini kasus pertama yang saya tangani. Jadi saya masih nervous… Apalagi menurut saya ini perkara yang terbilang luar biasa…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Apa kamu tidak ingin melihat pesakitan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Tentu, Bapak Hakim… Saya ingin berbicara dengan klien saya. Tapi, biar nanti saja… Ee, mungkin saya perlu minta waktu khusus. Ee, maksud saya, saya perlu bicara berdua saja dengan klien saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Kepada Petugas Kepala) Bagaimana? Apa kamu bisa jamin soal kemananannya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Saya bisa tempatkan seorang petugas untuk berjaga-jaga…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Terimakasih… Tapi saya hanya ingin berdua dengan klien saya. Ini untuk kepentingan pembelaan… Percayalah, saya cukup bisa menjaga diri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: (Setelah menimbang-nimbang) Baiklah… Tapi ingat, jangat terlalu dekat dengan pesakitan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lalu Hakim, Jaksa, Petugas Kepala dan para petugas, semuanya exit. Tinggal Pembela dan Susila yang masih merungkuk di selnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">LIMA</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pelan Pembela mendekati sel Susila, menyorotkan senter ke arah Susila. Lalu Pembela memanggil Susila dengan pelan dan hati-hati,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Sstt… Bangun… Bangun… Ayo bangun… Ada yang harus kita omongkan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila menggeliat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Saya kok sepertinya kenal kamu, ya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Saya yang akan membela kamu… Cepat ke sini…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Mengingat-ingat) Kok kamu seperti…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Ssttt… Sudah jangan banyak omong…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila mendekati jeruji selnya. Dan ketika mereka sudah berdekatan, lalu lampu senter itu menyorot juga ke wajah Pembela, Susila segera tahu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Lho, kamu kan Utami, to? Kamu anaknya Ngadimin… Masih ingat tidak, saya Pakdemu.. Pakde Sus…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Iya, Pakde… Saya Utami…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Piye kabarmu, nduk… Ayu bener Utami kowe saiki… Wah wah Utami, Utami…tambah semok kamu… Wis lulus sekolahmu? Saya denger sekarang kamu jadi pengarang cabul…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Ssssttt!!! Sudah, nggak usah banyak tanya-tanya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Walah-walah kok ya wis gede banget toh susumu… Wong dulu waktu kamu saya gendong-gendong, masih kecil kayak pentil kok…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Ssttt!!! Pakde ini ndak berubah! Mesum terus. Pantesan Pakde ditangkap kayak gini!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Masak begitu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Langsung memotong, tegas) Sudah! Pakde dengarin saja apa yang saya katakan… Nanti di persidangan, saya yang jadi pembela Pakde… Tapi nanti Pakde harus pura-pura tidak kenal saya… Jangan sampai orang-orang tahu, kalau kita masih ada hubungan darah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kamu malu ya seduluran sama Pakde…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Sudah, toh. Pakde manut saja. Nurut apa yang saya katakan. Ini strategi, Pakde. Biar kita bisa menang sidang. Kalau nanti ketahuan kita masih famili, saya sendiri yang repot. Nanti saya malah diserang, dihabisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Dihabisi bagaimana?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Sssttt.. Sudah toh. Saya tidak suka dibantah. Sudah, jangan ngeyel!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Lho tapi kan kita memang ada hubungan darah… Kalau tidak, ya sudah lama kamu saya tumpaki…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Terdengar seperti ada langkah-langkah kaki Petugas yang mendekat, membuat gugup Pembela…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Kalau ketahuan saya famili Pakde, saya akan dicap tidak bersih lingkungan! Nanti saya tidak bisa membela Pakde.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Suara langkah itu seperti makin mendekat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Celingukan mendengar suara-suara itu) Pakde ngerti kan maksud saya? Ini juga buat kebaikan Pakde sendiri…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Suara langkah kaki itu makin mendekat, membuat Pembela itu ketakutan dan buru-buru menyelinap pergi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Berhenti sejenak dan kembali berkata pada Susila) Ingat…, nanti Pakde harus pura-pura tidak kenal saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Panggung perlahan menggelap. Musik transisi, seperti derap langkah kaki itu lama-kelamaan terdengar seperti menderap menggemuruh, seakan ruangan itu sudah terkepung ribuang langkah kaki yang menyebar dan menderap ke segenap penjuru…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">ENAM</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Muncul derap serombongan demonstran, membawa bermacam poster yang menghujat Susila. “Gantung Susila”, “Hukum Susila Seberat-beratnya”, “Pornografi Antek Komunis”, “Ganyang Pornografi Pornoaksi”, dan lain-lain. Rombongan demonstran itu berteriak mengacungkan tangan dan poster-poster yang dibawanya, dan bernyanyi:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Langit hitam penuh kemesuman</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kita bergerak harus meringkusnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kebebasan jadi ancaman</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pikiran kotor harus dibersihkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Yang berbeda harus disingkirkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Moral Negara harus ditegakkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kita bergerak untuk ketertiban</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pornografi telah mengancam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pikiran kotor harus dibersihkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Yang berbeda harus disingkirkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Penjarakan Susila… Penjarakan Pikiran</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Penjarakan Susila… Penjarakan kemesuman</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Penjarakan Susila… Penjarakan Susila…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Penjarakan Susila… Penjarakan Susila…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Begitu seterusnya diulang-ulang “penjarakan Susila… penjarakan Susila…”, hingga rombongan itu menderap keluar, exit, dan suara nyanyian itu terdengar makin menjauh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">TUJUH</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Muncul seorang petugas, memberikan pengumunan menjelang sidang. Petugas itu membawa kentongan, kemudian memukulnya beberapa kali..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS: Mohon perhatian. Sidang Susila dengan nomor kasus 001 antara Negara melawan Susila Parna, segera digelar di Pengadilan Tinggi Negeri Tata Susila. Harap semua tenang. Segala macam alat elektronik dan telepon selular harap dimatikan, karena akan menggangu sistem navigasi persidangan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas memukul kentongan lalu Hakim muncul diikuti Jaksa dan Pembela. Begitu Hakim, Jaksa dan Pembela on stage, petugas itu exit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim membuka siding,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Pesakitan harap segera dibawa ke ruang sidang!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Suasana mencekam. Susila muncul dikawal seorang petugas dengan senapan siap ditembakkan. Kemunculan Susila mengingatkan pada penjahat psikopat yang sadis, dimana kaki dan tangan Susila dirantai, sementara kepala dan wajahnya ditutup dengan ikatan dari kulit warna hitam. Mulut Susila ditutup dengan semacam keranjang, seperti penutup mulut anjing galak. Sementara sebuah kayu dipasangkan menyilang ke sebalik dua tangan Susila. Dalam todongan senjata Petugas, Susila segera didudukkan ke kursi terdakwa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Melihat Susila diperlakukan seperti itu, Pembela langsung memprotes keras.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Maaf, Bapak Hakim! Apa ini tidak terlalu berlebihan?! Klien saya bukan psikopat. Dia bukan sejenis Sumanto soloensis, yang suka memakan daging manusia. Klien saya sama sekali tidak membahayakan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Jangan lupa, dia seorang penjahat susila paling tidak senonoh di negeri ini. Sodara pasti tahu, penjahat susila sudah pasti jauh lebih berbahaya dari penjahat jenis biasa. Lebih berbahaya dari pencopet. Lebih berbahaya dari garong. Bahkan lebih berbahaya dari psikopat yang paling berbahaya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Itu terlalu dilebih-lebihkan, Bapak Hakim. Klien saya tidak pernah melakukan tindakan apa pun yang membahayakan. Klien saya tidak pernah melakukan kekerasan fisik… Satu hal lagi, Bapak Hakim, saya keberatan dengan penggunaan istilah pesakitan bagi terdakwa. Bagaimana pun dia tetaplah berstatus terdakwa, bukan pesakitan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Harap diingat Sodara Pembela. Ini bukanlah sidang pidana atau perdata biasa. Ini adalah sidang tindak susila. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-undang Susila, para pelanggar susila dengan sendirinya adalah orang yang sakit. Orang-orang sakit jiwa. Orang yang berpikiran gila. Orang yang otaknya ngeres. Orang yang pikirannya dipenuhi gagasan pornografi dan pornoaksi. Itulah sebabnya para pelanggar susila adalah orang-orang yang hidup dalam gelimang dosa, Sodara-sodara… Mereka sungguh-sungguh orang yang berbahaya, Sodara-sodara… Ukuran bahaya tidak semata ditentukan dengan tindakan fisik. Tapi juga pikiran! Dan kejahatan yang disebarkan pikiran, sudah barang tentu jauh lebih membahayakan, Sodara-sodara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Itulah yang saya anggap berlebihan! Bagaimana pun klien saya sebagai terdakwa belum tentu bersalah, sampai pengadilan membuktikannya bersalah. Karena itu saat ini sangatlah tidak tepat mengatakan dia sebagai pesakitan. Dan satu hal lagi, kita ini hendak menyidangkan perbuatan atau pikiran?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Sidang tindak susila bukan hanya berkait tindakan-tindakan yang asusila, tapi juga pikiran-pikiran yang asusila. Ingat, Bapak Hakim, yang kita sidangkan ini bukan hanya perbuatan pesakitan. Tapi juga pikiran pesakitan. Pikiran yang dipenuhi gagasan-gagasan mesum dan cabul. Gagasan-gagasan yang menyebarkan penyakit asusila. Dan kita tahu, Sodara-sodara, penyakit asu-sila, lebih cepat menular dibanding penyakit asu-gila!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Rupanya Saudara jaksa menderita paranoid…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Saya hanya ingin menegaskan: yang kita lawan adalah kejahatan pikiran… Kita melawan sebuah ide, Bapak Hakim. Ide yang yang dibungkus kebebasan berekspresi dan keberagaman. Tapi semua itu tak lebih omong kosong, Bapak Hakim. Bagi saya, ide kebebasan berekspresi bukanlah ide yang genial, tapi ide yang bersifat genital. Yakni ide-ide yang hanya dipenuhi gagasan seputar alat vital. Inilah ide yang lebih berbahaya dari pada ide komunisme…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Bereaksi keras) Saya tetap keberatan! Itu sama sekali tidak relevan!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim langsung memotong.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Mohon Saudara Pembela menjaga sikap. Ini ruang pengadilan, bukan pasar hewan. Ya, meski pun saat ini sulit membedakan antara pengadilan dan pasar hewan, saya harap Saudara Pembela bisa menjaga kesopanan…Lagi pula, saya kan belum membuka sidang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Seolah tak memperdulikan peringatan Hakim) Saya tetap keberatan dengan semua penyataan Saudara Jaksa yang terlalu berlebihan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Semua perkataan saya berdasarkan bukti dan fakta!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA:Fakta yang mana? Bukti yang mana?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Melihat Jaksa dan pembela makin keras bertengkar, Hakim kembali mengetok palu sidang, memotong!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Sudara Pembela dan Jaksa!!! Bicaralah yang pelan. Saya jantungan! Sini… (memberi kode agar Jaksa dan Pembela mendekat.) Harap kalian bisa bekerja sama menjaga jalannya persidangan. Saling pengertian begitu… Seperti kalau biasanya kalian lagi tawar-menawar uang suap. Ingat, saya belum lagi membuka sidang, lha kok kalian sudah sibuk berdebat kayak anggota dewan kurang kerjaan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kemudian Hakim dengan penuh wibawa mengetokkan palu sidang. Sidang telah dibuka! Jaksa dan Pembela yang sama-sama siap bertempur berada di posisi masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Mohon petugas melepas kepala Pesakitan… Maksud saya, melepas tutup kepala Pesakitan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Seorang petugas segera mendekati Susila. Petugas itu berdiri sebentar di depan Susila, kemudian segera memakai sarung tangan karet sebagaimana yang dipakai dokter ketika hendak melakukan operasi, kemudian begitu hati-hati membuka ikatan kepala dan mulut Susila. Begitu tutup mulut itu terbuka, Susila terlihat sangat lega. Petugas segera menyingkir, kembali berjaga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila memandangi Pembela, seperti ingin menyapa. Tapi Pembela segera melengos, pura-pura tidak mengenal Susila. Pembela terlihat gelisah, apalagi ketika Susila seperti hendak memangil nama Pembela…Untunglah Hakim segera memulai sidang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Saudara Pesakitan… Harap perhatikan kemari! Apakah benar, nama Saudara adalah Susila Parna?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Dalem, Pak Hakim…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Apakah Saudara Pesakitan dalam keadaan sehat?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Dalem, Pak Hakim… Syukur alhamdulillah, saya sehat jasmani dan rohani. Ya, cuman agak sedikit mengalami gangguan ejakulasi dini… Burung saya, Pak Hakim… (Bersin) Hachi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim dan semua yang hadir di ruang sidang itu langsung menutup hidung mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Burung saya… (Kembali bersin) Hachi… sedikit flu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Membentak, mengetuk palu keras) Saudara Pesakitan jangan berbelit-belit…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Kaget, dan latah) Eh silit.. eh sembelit… Iya, Pak Hakim… Silit saya sakit…. maksud saya berbelit-belit… Eh, silit kok berbelit-belit…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Membentak lebih keras) Mohon Saudara Pesakitan menjaga ucapan! Dilarang ngomong jorok di persidangan!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Makin kaget, makin latah) Eh jorok jorok keprok… Dalem, Pak Hakim… (bersin) Burung kok jorok… (bersin) Burung saya, eh, saya cuma pingin ngen…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Memotong) Cuk… (dan langsung bersin, seakan ketularan Susila) Haicih……</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Bukan ngencuk, Bapak Hakim tapi ngen…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Kembali memotong) Cuk… Haicih… Cuk…kup, masud saya. Cukup!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Latah) Eh iya cukup, cukup…Cukup ngencuknya, Bapak Hakim… Tapi saya tidak mau ngen…ngen…cuk, kok Bapak Hakim…Saya cuma mau ngen…ngen…tut…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lalu terdengar kentut yang panjang. Semua menutup hidung. Susila terlihat sangat lega.Hakim sibuk membersihkan hidungnya yang mendadak bersin-bersin… Dan selama Jaksa dan Pembela berbicara beikut ini, Hakim terus sibuk membersihkan hidungnya dengan sapu tangan atau tissue.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Lihat sendiri, Bapak Hakim… Kita benar-benar menghadapi Pesakitan yang tidak saja berbahaya, tapi juga tidak punya etika. Dia telah dengan sengaja mengganggu jalannya sidang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Klien saya hanya sedikit sakit perut, Bapak Hakim!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Saya tidak sakit perut kok… Cuma… (bersin) hacih… flu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Sama saja! Tidak penting sakit perut atau sakit flu, intinya adalah sakit. Klien saya sedang sakit! Maka sidang ini tidak bisa dilanjutkan!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Ee, tidak apa-apa kok, Nduk…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Langsung membentak cepat) Diam! (Lalu kepada Hakim) Klien saya mengatakan ia terkena flu… Dalam hal ini burungnya yang terkena flu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim menyodorkan tissue yang baru di pakainya kepada Jaksa, Jaksa menerima kemudian membuang tissue itu, sementara Pembela terus berbicara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Artinya, ia dan burungnya terkena serangan dari dua arah sekaligus. Seorang lelaki dan burungnya yang terkena flu, hampir sama artinya dengan seorang ibu dan bayi yang disusuinya terkena flu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim kembali menyodorkan tissue yang dipakainya kepada Jaksa, tapi kali ini Jaksa tidak membuangnya, namun tissue itu malah dipakainya buat membersihkan hidunynya sendiri, kemudian tissue itu dikembalikan laki kepada Hakim yang segera memakainya lagi buat membersihkan hidungnya yang gatal, sementara Pembela terus berbicara,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Artinya, ia dan burungnya tidak dalam keadaan sehat untuk mengikuti persidangan! Maksud saya mungkin burungnya yang telah membuatnya terkena flu. Kita tahu flu cepat menular, dan sudah pasti klien saya sedang terkena flu karena itu tidak mungkin meneruskan persidangan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Bertepuk tangan, bergaya memuji) Sungguh argumentasi hukum yang benar-benar luar biasa…bodoh!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kemudian mulai di sini, dialog ini dibawakan dengan gaya dinyanyikan, mungkin bergaya parikan seperti dalam ludrukan, mungkin dengan campuran irama blues atau ndangdutan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Saya harap, Sodara Pembela tidak mengaburkan persoalan. Terlalu sering alasan sakit digunakan untuk menghindari persidangan. Bagaimana pun sidang harus dilanjutkan, demi keadilan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Dinyanyikan) Tidak bisa! Justru demi keadilan sidang harus dihentikan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Dinyanyikan) Keadilan tak bisa dihentikan. Keadilan harus tetap ditegakkan. Karena itu tuntutan harus tetap dibacakan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Musik terus mengalun. Hakim mengetuk palu, sambil sibuk dengan hidungnya yang gatal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Baiklah. Sidang tetap diteruskan. Lanjut, Mang…!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Musik terus mengalun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Dinyanyikan) Terimakasih, Bapak Hakim… (Sambil bergaya membacakan dakwaaan, terus dinyanyikan) Sodara Pesakitan telah terbukti melanggar Undang-undang Susila. Ia melakukan perbuatan pornoaksi. Mempertontonkan susunya di muka umum…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Menyanyi, menimpali, sambil memegangi meremas-remas susunya) Oo, susuku yang malang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Dinyanyikan) Sebagaimana dalam Pasal 4 Undang-undang Susila. Dilarang mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual…atau yang dianggap sensual. Seperti alat kelamin, payudara, pusar, paha, pinggul, pantat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Menimpali, dengan nyanyian) Pundak lutut kaki lutut kaki, daun telinga mata hidung dan pipi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Dinyanyian) Karna itu pesakitan mesti dihukum seberat-beratnya. Karena dia telah mengganggu keamanan dan stabilitas moral bangsa…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Memotong, berteriak tinggi, bicara biasa) Keberatan, Bapak Hakim!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Musik dan nyanyian berhenti. Kembali dialog biasa. Sementara Pembela dan Jaksa berdebat, Susila terlihat mulai kepanasan, sumuk, dan mulai membuka kancing bajunya dan kipas-kipas dengan tangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Dalam penjelasan Pasal 4 tersebut dinyatakan bahwa bagian tubuh tertentu yang sensual adalah antara lain payudara perempuan. Terdakwa adalah seorang laki-laki. Bukan perempuan. Karena itu tuntutan Jaksa absurd dan tak berdasar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Hukum tidak berjenis kelamin, Sodara Pembela! Prinsip hukum itu seperti slogan Keluarga Berencana: laki-laki atau perempuan sama saja! Karena itulah semua orang harus diperlakukan sama di hadapan hukum… kecuali, tentu saja, Ketua Mahkamah Agung…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Harap Saudara Jaksa tidak keluar dari fakta-fakta persidangan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Persoalannya, Bapak Hakim… Saudara Jaksa memang tidak punya fakta-fakta yang mendukung semua dakwaannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Faktanya Pesakitan memang bersikap cabul dan amoral, karena mempertontonkan bagian tubuhnya yang sensual… Lihat saja sendiri kelakuannya… Saya yakin dia seorang eksibisionis…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim terlihat bergairah memandangi Susila yang kepanasan dan mulai membuka kancing-kancing bajunya… Hakim, menelan ludah memandangi payudara Susila.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Yang makin kelihatan kesumukan) Lha wong sumuk, je…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Jangan menjawab kalau tidak ditanya! (Kemudian kepada Hakim) Bahkan Pesakitan ini telah melanggar Undang-undang Susila secara berlapis-lapis, karena memperjualbelikan barang-barang yang mengandung unsur pornografi….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Sekali lagi saudara Jaksa menuduh tanpa bukti dan fakta!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Berteriak kepada petugas) Ambil barang bukti itu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Seorang Petugas segera membawa masuk barang dagangan Susila. Melihat itu Susila langsung bangkit, dan dengan riang menghambur ke arah dagangannya, seperti menyambut kekasih yang dirindukannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Daganganku… Oh, mainanku… Sayangku…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Semua langsung beringsut mundur menghindari Susila. Sementara Susila terus memeluk dan menciumi mainan-dagangan itu… Hakim segera mengatasi keadaan, memukulkan palu sidangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Saudara Pesakitan harap kembali duduk!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Mainanku… Oh mainanku….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Lebih keras) Duduk!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Kaget, latah) Eh kontol duduk… Welah kok kontol bisa duduk…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Du…duk!!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Dalem, Pak Hakim…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila pun kembali duduk…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Sodara Pesakitan, benarkah barang-barang ini milik saudara?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Dalem, Bu Jaksa… Iya… itu dagangan saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Jadi jelas, Pesakitan ini telah mengakui berdagang barang-barang porno ini!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Lho, itu mainan kok, Bu Jaksa… Mainan anak-anak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Mainan anak-anak hanyalah kamuflase untuk menutupi unsur-unsur pornografi dalam barang-barang ini.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Apanya yang porno? Masak mainan gitu dibilang porno…. (Berdiri dan mendekati dagangannya) Coba, mana yang porno? Mana? Apa mata Bu Jaksa picek, gini dibilang porno? (Mengambil dua balon) Apa yang kayak ini porno, Bu Jaksa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Itu barang cabul, Sodara Pesakitan! Coba Sodara taruh di dada Saudara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Dengan bingung dan tak ngerti, Susila menempelkan dua balon itu ke dadanya – hingga mirip payudara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Lihat saja sendiri fungsi pornografis barang itu, yang membuat orang akan berfikiran mesum karena mengingatkan pada payudara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Payudara tidaklah cabul. Sesuatu yang sensual dan indah tidak berarti cabul. Anak-anak yang masih polos bisa melihat keindahan payudara tanpa membuatnya jadi dosa. Kitalah, orang dewasa, yang membuat payudara menjadi cabul, baik dengan mengeksploitasinya habis-habisan, maupun dengan menutupinya habis-habisan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Menambahi) Plus selalu menghisapnya habis-habisan…Wong saya juga doyan kok…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Itu melanggar Undang-undang Susila!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Masa jualan balon melanggar susila? (Sambil masih menempelkan kedua balon itu di dadanya) Kalau balon kayak gini dianggap mirip payudara, lha ya payudaranya siapa? Payudaranya Dolly Parton saja nggak segede ini kok… Kalau gede kayak gini bukan payudara Bu Jaksa, tapi tumor… Aneh-aneh saja lho Bu Jaksa ini… Lalu gimana kalau balon ini saya letakkan di tempat lain? Apa ya masih porno? Misalnya begini…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila meletakkan dua balon itu di selangkangannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Gimana kalau begini… Apa begini ini kayak biji salaknya raksasa… Eh, maksud saya biji salak raksasa?! Lha kalau bijinya segede ini, lalu segede apa batangnya?… Batang pohonnya maksud saya… Apa ya begini porno? Kan tergantung pikiran orang yang melihat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila mengambil mainan lainnya, balon yang panjang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Apa ini juga porno?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila memperlihatkan pada yang hadir, tetapi selalu setiapkali Susila mendekat, mereka beringsut menjauhi Susila…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Mainan ini membuat anak-anak bisa berfantasi… Berkhayal… Tapi kan tergantung fantasinya. Tidak mesti yang saru-saru…. (Meletakkan balon panjang itu di atas kepalanya) dengan begini anak-anak berkhayal seperti rusa bertanduk… (Meletakkan balon itu di keningnya) Berkhayal jadi unicorn atau punya cula seperti badak… (Meletakkan balon itu di hidungnya) punya hidung mirip Pinokio… (Meletakkan balon itu di perutnya) Punya wudel bodong… (Meletakkan balon itu di selangkangannya) dan begini… punya ekor memanjang di bagian depan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila bisa mengembangkan mengambil mainan-mainan yang lain, kemudian mengolahnya. Setiap kali Susila mendekat, selalu yang didekati beringsut mundur…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Sampai akhirnya bertanya pada Pembela) Mainan kayak gini kan ya nggak porno toh, nduk? Bener kan nduk omongan saya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Maaf, Anda tak udah usah sok akrab pada saya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Lho piye toh kowe, nduk…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Saya membela Saudara hanya sebatas hubungan profesi! Dan itu bukan berarti saya setuju dengan moral saudara… (Langsung menghidar dengan berkata pada Hakim) Bapak Hakim, kita tak bisa mengatakan sesuatu porno hanya berdasarkan asumsi, seperti dikatakan Saudara Jaksa tadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Bagaimana mungkin Sodara Pembela mengatakan semua bukti ini hanya asumsi? Beruntung sekali kita berhasil menyita bukti-bukti ini! Bagaimana kalau barang-barang itu beredar luas? Anak-anak kita akan dijejali mainan-mainan porno! Mainan ini adalah cara untuk meracuni pikiran anak-anak kita, Sodara-sodara! Bagaimana nasib masa depan anak-anak kita, Sodara-sodara…bila sejak dini mereka telah dijejali dengan segala macam bentuk mainan pornografi, Sodara-sodara… Puji Tuhan! Ini tidak bisa kita biarkan, Sodara-sodara!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Bersamaan nada bicara Jaksa yang mulai meninggi, terdengar derap musik yang menggambarkan serombongan demonstran yang mendekat dan mulai menderap…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (memandang ke arah luar ruang sidang) Lihatlah sodara-sodara kita yang berbaris berbondong-bondong menghadiri sidang ini!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Musik makin meninggi, sementara sayup nyanyian mulai terdengar…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Anda lihat sendiri, Sodara Pembela… Semua rakyat berbaris dibelakang kita, agar kita bertindak tegas menghukum pesakitan ini… Mereka ingin penjahat moral ini dihukum seberat-beratnya… Hukum adalah suara rakyat… Suara rakyat adalah suara Tuhan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lalu terdengar teriakan dan yel-yel para demonstran yang makin mendekat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Dengarlah suara mereka… Suara Tuhan yang akan mengazab para pendosa yang tak bermoral!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kemudian teriakan-teriakan itu makin menjadi jelas, dan muncul serombongan demontran yang membawa poster yang ternyata berisi tunttutan agar Susila dibebaskan. Jaksa langsung bingung melihat situasi yang tak diduganya. Ia meyangka yang datang adalah demonstran yang mendukung Undang-Undang Susila. Ternyata mereka adalah gerombolan yang penentang Undang-undang Susila yang menuntut pembebasan Susila Parna. Para demosntran itu bernyanyi:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Jangan diam jangan mau dibungkam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kita bergerak untuk perjuangan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Keragaman jangan dimatikan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Proyek moral haruslah dilawan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Yang menindas suara kebenaran…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Bebaskan Susila… Bebaskan Pikiran</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Bebaskah Susila… Bebaskan kehidupan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Bebaskan Susila… Bebaskan Susila…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Bebaskan Susila… Bebaskan Susila…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Begitu seterusnya diulang-ulang “bebaskan Susila… bebaskan Susila…”. Kepanikan juga melanda Hakim. Pembela tampak bingung. Jaksa gemetar menahan amarah. Semua menatap barisan demosntran yang menderap keluar, exit.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Saat itulah muncul Petugas Kepala, panik dan gugup,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Maaf, Bapak Hakim… Ini benar-benar diluar perhitungan kita… Mereka menuntut pembebasan Pesakitan kita…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Teriakan dan nyanyian demonstran it uterus terdengar. Petugas Kepala dengan cepat segera mengamankan Hakim dan Jaksa. Beberapa Petugas langsung menggiring Susila di bawah ancaman senapan. Musik makin meninggi. Panggung menggelap. Terdengar teriakan-teriakan itu: “Bebaskan Susila!… Hidup Susila!….”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">DELAPAN</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Setelah musik mereda dan teriakan-teriakan mengendap, pada satu sisi panggung cahaya mulai menerang: terlihat Susila yang terkurung di balik selnya, sementara dua petugas tampak asik bermain catur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Pelan memangil petugas-petugas itu) Mas… Mas…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Dua petugas itu abai, terus asyik main catur…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 2: (Memainkan bidak) Ster!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Mas… (memukul-mukul jeruji)… Mas…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Bisa diam tidak!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Saya mau minta tolong…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 2: Sudah, nggak usah didengerin… Ayo jalan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 terlihat sibuk berfikir keras memandangi papar caturnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Mas… Mbok saya minta tulung…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 2: Minta tolong apa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Belikan mainan… Saya kangen sama mainan saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 2: (Kepada petugas satunya) Aneh banget kan permintaannya… Ini permintaan paling aneh selama saya jadi penjaga penjara. Biasanya tahanan itu minta dicarikan narkoba… Kamu kok malah minta mainan!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Ayo toh mas, beliin saya mainan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Sudah, sudah.! Aku jadi nggak bisa konsen!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Please deh, Mas… Cariin saya mainan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 2: (Kepada petugas satunya, yang terlihat berfikir memandangi papan catur) Ayo cepet jalan… Apa nyerah? Kamu itu tidak mungkin menang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 2 bergaya dan bersikap meremehkan, mengambil uang taruhan yang tergeletak di samping papan catur, kemudian Petugas 2 mengipas-gipaskan uang itu ke muka Petugas 1 yang masih terus serius mengamati papan catur, bingung memikirkan langkahnya. Susila dari dalam selnya ikut memerhatikan papan catur itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Begitu saja kok pusing…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS: Sudah jangan cerewet!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kudamu maju saja depan benteng.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 menatap Susila marah, tapi kemudian melihat lagi papan caturnya, dan melihat bahwa omongan Susila itu benar. Dia senang dan segera melangkahkan kudanya seperti yang dibilangin Susila.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 2 kaget, tapi segera memakan kuda itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Nah sekarang bentengmu langsung maju… Dua langkah pasti langsung mat!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 kelihatan di atas angin. Petugas 2 kelihatan jengkel. Setelah dua kali langkah, Petugas 2 benar-benar terkejut.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Skak!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 2: (Menatap Susila marah) Oo… bajigur!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: (Bernyanyi-nyanyi gembira karena menang) Sekak mati… Sekak mati…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 langsung meraih lembaran uang taruhan yang tadi dipegangi Petugas 2. Petugas 2 begitu marah pada Susila dan hendak memukul. Susila beringsut mundur menjauhi jeruji…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Ayo, main lagi tidak?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 2 dengang jengkel segera pergi, exit. Petugas 1 memandang kepergian Petugas 2, meyakinkan kalau rekannya itu memang benar-benar sudah pergi, lalu dengan hati-hati mendekati Susila…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Kamu pinter main catur ya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Keciiil…..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 melongok-longok keadaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Ajarin saya, ya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lalu Petugas 1 mendekatkan kursi panjang ke dekat sel.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Nanti kamu ketularan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Jangan gitu ah… Saya tahu sampeyan tidak berbahaya kok… Gimana, mau ya ngajari saya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lalu keduanya mulai menata bidak-bidak catur itu, dengan Susila tetap berada dalam sel. Hanya tangan Susila yang keluar dari sela jeruji ketika memainkan bidak-bidak catur… Selama percakapan berikut, keduanya terus bermain catur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Sebenarnya saya juga pernah beli mainan sama sampeyan lho… Waktu itu anak saya nangis terus… minta dibeliin mainan… Padahal uang saya kurang… Untung sampeyan mau ngutangi dulu…Ingat tidak?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Saya itu terlalu banyak diutangi orang, Mas… Sampe saya susah ngingat siapa saja yang utang sama saya… Apalagi tampang kayak sampeyan ini memang khas dan spesifik seperti tampang dunia ketiga yang suka ngutang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Ya sudah, ini saya bayar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 mengeluarkan uang yang tadi didapatnya karena menang main catur, dan menyodorkannya pada Susila.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Ndak usah…. Ndak usah…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 kembali hendak mengantongkan uang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Eeh…, nanti kamu beliin saya mainan saja ya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kemudian keduanya kembali main catur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Di sisi panggung yang lain, muncul Hakim dan Petugas Kepala, keduanya berjalan beriringan. Adegan antara Hakim dan Petugas Kepala ini, paralel dengan adegan Susila dan Petugas 1 yang sedang main catur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Kita tak bisa membiarkan kekacauan ini berkembang!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Saya akan segera membereskan semuanya, Bapak Hakim. Jangan khawatir…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Mengeluarkan poster bergambar wajah Susila yang memakai baret mirip Che Gouvara) Lihat poster ini! Dia rupanya telah jadi idola kaum pembangkang. Saya melihat poster ini ditempel memenuhi dinding kota!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Intelejen kita sudah mengetahui siapa dibelakang ini semua. Ada dua kekuatan ekstrem yang harus kita curigari, Bapak Hakim. Pertama kelompok yang menyebut dirinya GAM… Gerakan Anti Moral…Dan yang kedua adalah gerakan sparatis OPM… Organisasi Penggemar Maksiat… Mereka telah menjadikan Susila sebagai ikon perlawananan mereka. Merekalah yang menggalang perlawanan menentang diberlakukannya Undang-undang Susila.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila bicara kepada Petugas 1 sambil terus main catur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Kenapa sih sampeyan tidak menyerah saja.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Mau menang begini kok menyerah…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Bukan menyerah main catur… Tapi menyerah mengakui kesalahan sampeyan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim kepada Petugas Kepala, sambil berjalan beriringan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Kamu harus membuatnya menyerah. Lakukan segala cara, yang penting dia mau mengaku salah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Sambil terus main catur, Susila kepada petugas itu,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kalau saya salah, nggak usah dipaksa juga saya akan ngaku salah. Lha, tapi ini saya nggak merasa salah apa-apa kok…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim dan Petugas kepala, sambil berjalan beriringan,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Saya telah mengatur seorang petugas untuk membujuknya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila dan Petugas 1, sambil terus bermain catur,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Kalau sampeyan mengaku salah, kan sampeyan bisa diampuni.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Diampuni gimana? Lha sidangnya saja belum rampung, kok diampuni… Orang itu harus disidang dulu, dibuktikan kesalahannya. Baru diampuni…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim dan Petugas Kepala, sambil berjalan beriringan,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Apakah kita benar-benar akan mengampuni pesakitan ini?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Tentu saja tidak. Kita hanya bujuk dia dengan menjajikan ampunan, biar mau mengaku salah. Kalau dia sudah mengaku salah, berarti dia secara sah telah bersalah. Itu kesempatan kita menggoroknya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila dan Petugas 1, sambil terus bermain catur,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Posisi kamu ini sekarang lagi susah. Kamu bersalah atau tidak bersalah, bukan ditentukan apakah kamu memang benar-benar bersalah atau benar-benar tidak bersalah… (Memainkan caturnya) Skak! Kamu salah atau tidak salah, tetap akan diputuskan salah…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim dan Petugas Kepala, sambil berjalan beriringan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Yang penting saya memperoleh dukungan penuh kalau mesti mengambil tindakan-tindakan darurat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Proyek moralitas dibenarkan sepanjang itu menguntungkan… Apapun yang kamu lakukan untuk kepentingan proyek Syariat Moral ini, kamu pasti memperoleh dukungan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila dan Petugas 1, sambil terus bermain catur,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Atau jangan-jangan kamu merasa untung di penjara begini? Kamu senang karena sekarang banyak yang memuja kamu… Kamu diam-diam menikmati kan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Gundulmu! Ditahan begini kok menikmati…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Justru karena ditahan begini, kamu jadi dianggap pahlawan oleh banyak orang. Kamu dijadikan poster. Namamu diteriakkan para demosntran… Lalu kamu merasa ngetop? Kamu rupanya telah mengindap sindrom orang yang merasa dirinya pahlawan. Kamu memperoleh kepuasan ketika orang di sekelilingmu begitu memujamu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Prek!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Apa kamu nggak sadar, orang-orang itu sebenarnya tidak memujamu, tapi memanfaatkanmu… Kamu hanya dijadikan tumbal perlawanan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim kepada Petugas Kepala,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Menyerahkan selembar cek) Ini cek untuk kebutuhan dana taktis…Ini bukan berarti saya memanfaatkan aparat macam kamu lho, ya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Tak usah sungkan-sungkan… Saya tak merasa diperalat kok… Karena aparat seperti saya ini memang sudah terbiasa ikhlas diperalat…Kalau lama tak diperalat, ayan saya malah kumat… Saya kira ini juga akan menstimulus militansi anak buah saya…Bapak Hakim tahu, belakangan ini anak buah saya lebih suka menangkapi para pelanggar susila, ketimbang menangkapi pelanggar lalu lintas…Karena inkam-nya jauh lebih menguntungkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Sementara Susila yang terlihat marah ngambek, kepada Petugas 1,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kamu kira saya merasa untung dengan ditahan begini?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Maaf… Saya ngomong seperti tadi karena saya tidak ingin kamu celaka…Saya tahu sampeyan tidak melanggar… Sampeyan hanya korban. Sengaja dikorbankan… Nama sampeyan dijelek-jelekkan…. Dianggap bahaya laten… Kalau ada yang tahu saya ngobrol sama sampeyan begini, pasti saya langsung dipecat. Keluarga saya pasti dihabisi…. Dianggap tidak bersih susila.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Lalu kenapa kamu menuduh saya justru menikmati semua itu?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Saya khawatir saja kok… Khawatir karena saya denger malam ini sampenyan mau dieksekusi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila jadi terlihat gelisah, raut wajahnya seperti dipenuhi bayangan kematian…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim kepada Petugas Kepala,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Saya hanya khawatir kalau petugas itu justru tergoda…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Saya berani menjamin loyalitas para anak buah saya, Bapak Hakim…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 berbicara kepada Susila,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Makanya, cepat pergi… Pergi… Kamu lihat, pintu sel sengaja tak saya kunci… Kamu bisa pergi sebelum tengah malam nanti…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Sementara itu Hakim dan Petugas Kepala berhenti, dan langsung memandang ke arah Petugas 1 yang sedang membujuk Susila… Petugas 1 tak menyadari kemunculan Hakim dan Petugas kepala…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Pergilah… pergilah… Saya nggak ingin melihat kamu dihukum mati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim dan Petugas Kepala yang sudah berdiri di belakang Petugas 1 itu langsung menghardik,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Menghardik) Kamu yang pantas dihukum mati!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas 1 begitu kaget, ia berbalik dan melihat Petugas Kepala dan Hakim yang sudah berdiri menatapnya. Langsung Petugas 1 mengemasi bidak-bidak catur, memdekap papan catur itu dengan gemetar…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Kepada Petugas Kepala) Sekarang saya tahu loyalitas anak buah kamu! Saya kira kamu cukup cerdas untuk membuktikan loyalitasmu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim menatap tajam Petugas Kepala, kemudian langsung bergegas pergi, exit. Tinggal Petugas Kepala menatap penuh amarah pada Petugas 1, membuat petugas satu menggil ketakutan, lalu berlahan-lahan duduk bersimpuh sembari mendekap papan catur,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: Ampun…..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lalu perlahan Petugas 1 itu merangkak, mendekati Petugas Kepala yang terus berdiri mematung penuh kemarahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS 1: (Sambil terus merangkak) Ampun….. Maafkan saya, Pak….. Ampun… Ampun…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila memandangi semua itu dari dalam selnya. Ia juga terlihat ketakutan, bingung. Sampai kemudian Petugas 1 itu bersimpuh di bawah kaki Petugas Kepala, memegangi kakinya, terus memohon ampun. Suara tangis dan ampunan Petugas itu kemudian seperti tercekat dikerongkongannya, ketika dengan tenang Petugas Kepala mengeluarkan pistolnya. Petugas kepala itu mengarahkan pistolnya tepat di kepala Petugas 1. Susila ngeri menyaksikan itu, dan menutup wajahnya. Lalu terdengar letusan senjata. Gelap seketika.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Musik transisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SEMBILAN</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pembela berjalan tergegas terburu-buru, melintas panggung. Tapi mendadak muncul Jaksa, seperti menghadang. Melihat itu Pembela langsung berbalik, berusaha menghindar, dan segera kembali bergegas. Tapi mendadak muncul Hakim, menghadang jalan di depannya,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Kenapa terburu-buru…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Maaf, saya mesti bertemu wartawan… (bergaya sibuk dengan berkas-berkas yang dibawanya)… Saya mesti meluruskan beberapa pemberitaan yang cukup mengganggu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lalu Pembela segera berbalik, mencoba menghidari hadangan Hakim,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Dengan santun menghadang Pembela) Sudah lama kita tak makan siang bersama…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Dengan santun dan halus) Mungkin lain waktu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Bukankah dulu kamu selalu mengatakan ngobrol makan siang selalu lebih menyenangkan dari pada di ruang siding.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Tapi ini bukan saat yang menyenangkan untuk itu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pembela menghindari Jaksa, berbalik bergerak menjauh, tetapi kembali di hadang Hakim,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Bernada membentak mengancam) Menyenangkan atau tidak. Kamu punya waktu atau tidak… Yang jelas kita mesti bicara! Saya tak terbiasa basa-basi!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Ciri hakim yang baik memang tak suka basa-basi… terutama kalau minta sogokan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Bernada marah, kepada Jaksa) Lihatlah caranya bicara! Gayanya persis pejuang yang minta perhatian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Menenangkan suasana) Biarlah saya yang bicara… (Kepada Pembela, penuh pengertian) Saya bangga dengan kegigihanmu membela pesakitan itu. Tapi marilah kita pikirkan hal yang lebih besar. Situasi makin membahayakan keamanan Negara. Pesakitan itu makin tak terkedali. Kau pasti sudah dengar: pesakitan itu sudah membunuh seorang petugas!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Bukan seperti itu yang saya dengar… Karena itulah saya berkewajiban meluruskan berita soal itu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Menyodorkan map) Laporan kronologi peristiwanya ada di sini! Semua tertulis detail terperinci… Pesakitan itu menyerang petugas itu dengan membabi buta, membunuhnya… kemudian memperkosa mayatnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Sambil mengamati membaca kertas-kertas dalam map itu) Saya rasa, laporan ini hanya merupakan fantasi orang yang menuliskannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Satu petugas terbunuh! Itu bukan fanasi, anak muda! Bayangkan kalau pesakitan itu bisa meloloskan diri. Dan dia memang selalu berusaha melarikan diri dari selnya. Bayangkan orang seperti itu berkeliaran di jalan-jalan. Ia pasti akan menyergap anak-anak kecil yang masih manis. Mencekik mereka, kemudian memperkosanya. Seorang maniak seks seperti dia tak akan puas hanya memperkosa satu dua kali… Bayangkan: berapa anak-anak yatim dan janda-janda – yanag seharusnya dipelihara oleh negara – akan diperkosa oleh pesakitan itu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Saya hanya minta kerjasamamu seperti biasanya. Saya tahu, kasus ini peluang bagi kariermu sebagai pembela. Inilah kesempatanmu masuh dalam deretan sejarah orang-orang yang dengan gigih memperjuangkan keadilan. Tapi buat apa? Buat apa keadilan kalau itu hanya akan menghasilkan ketakutan dan kengerian bagi yang lain…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Bernada penuh ancaman) Dan bukan tidak mungkin kengerian itu akan menimpamu sendiri, anak muda!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Itu nasehat ataukah ancaman?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Jaksa dengan halus mencoba melerai dan menuntun Pembela menjauhi Hakim. Sementara pada saat bersamaan Jaksa itu juga memberi isyarat kempada Hakim akan bisa menahan diri (seakan-akan mengatakan, biarlah ia yang bicara dengan Pembela). Dari sinilah akan makin terasa betapa ada hubungan khusus antara Jaksa dan Pembela.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Kamu jangan salah faham. Kami sama sekali tak mengancammu. Lagi pula, siapakah sesungguhnya yang mengancam? Dan siapa yang paling merasa terancam? Sumber ancaman jelas, ditebarkan oleh pesakitan itu. Ia tidak sendirian. Ingatlah orang-orang yang kini telah memujanya, yang menganggapnya pahlawan perlawanan. Mesiah yang akan membebaskan! Yang kita hadapi adalah keyakinan! Pemujaan! Sekte! Aliran sesat yang memuja kebebasan! Karena itulah, yang kita hadapi bukan cuma seorang pesakitan. Kita sedang berhadap-hadapan dengan sebuah gagasan yang memuja kebebasan. Gagasan yang mengatasnamakan keberagaman! Bayangkan bila gagasan ini meracuni seluruh rakyat kita?! Seluruh persendian moal yang telah kita bangun akan runtuh! Karna itu yang sedang kia perjuangkan bukan semata Undang-undang. Kita memperjuangkan keyakian. Prinsip moral. Bahwa bangsa ini harus memiliki sistem moral yang kuat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Sistem moral yang kuat, ataukah sebuah upaya untuk memonopoli kebenaran!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Sssstt… Jangan membantah dulu. Kamu masih muda… (Membelai Pembela dengan mesra)… Masa depanmu masih ranum. Dan kami bisa memilihkan masa depan yang akan menyenangkan buat kariermu. Saya bangga kamu jadi pembela moral yang gigih… Tapi ingatlah, kita ini hanya sekadar menjalankan peran… Sistem ini hanya berjalan kalau kita bisa menjalankan peran kita masing-masing dengan baik dan penuh saling pengertian…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pembela tampak gelisah dengan sikap mesra Jaksa kepadanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Karna itulah saya mencoba menjalankan peran konstitusional saya dengan sebaik-baiknya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Jalanilah dengan baik…, tapi jangan naif… Apa kamu kira kamu bisa serta-merta jadi pembala dalam kasus ini, bila kami tak menginginkannya? Kami yang memilihmu jadi pembela… Aku sendriri yang merekomendasikan agar kamu diberi kesempatan untuk ikut mengambil bagian dalam peran ini… (Bersikap sangat mesra) Karna aku tahu kamu… kemampuanmu… impianmu… Tapi jangan kecewakan aku…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Saya harus membelanya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (Tegas penuh sindiran) Memang sudah menjadi kewajiban, seorang keponakan membela pamannya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pembela langsung gugup dan kaget.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Apa kamu pikir kami tak tahu kekerabatanmu dengan pesakitan ini. Saya punya informasi lengkap tenang kamu. (Melihat-lihat catatan dalam map, dan membacanya) Nama: Utami… Lulus fakultas Hukum lima tahun lalu… Suma cum laude … Jadi aktivis pers mahasiswa… Hobi menulis sastra… Pernah menerbitkan novel yang dituduh penuh adegan porno…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Saya menulis sastra, bukan novel porno!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Terserah… saya tak perduli apakah sastra atau porno! Yang jelas itu sasstra jenis SMS… Sastra Mazhab selangkangan! Saya bisa menangkap kamu karna menulis novel itu!… (Kembali membaca data di map) … Pernah kost di Utan Kayu… Berkencan… dan punya hubungan sejenis dengan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: (Gugup cepat memotong) Bukankah soal yang itu kita sudah sepakat akan mengabaikannya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Oh ya, ya… (Mencoret kertas di map)…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Terimakasih…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Tapi fakta bahwa ia punya hubungan darah dengan pesakitan itu, saya kira tidak bisa kita abaikan… (kepada Pembela) Itu artinya, kamu tidak bersih lingkungan… Lebih-lebih, dalam arsip ini, kamu disebut-sebut bersama Ulil ikut dalam Jaringan Moralis Liberal…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pembela terpojok dan tak berdaya, ia menatap Jaksa, seakan-akan minta perlindungan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Kamu masih punya kesempatan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Jaksa bersikap mesra pada Pembela, dan Pembela seperti tak berdaya menolak pelukan mesra itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Saya yakin kamu cukup bijak menentunkan… Kamu punya kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih cerah… Bayangkan… Kamu tak hanya jadi pembela, tapi punya posisi yang strategis… Mungkin kamu bisa dipromosikan menjabat ketua Komite Indipenden Pemantau Moral.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Terimakasih…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Atau bahkan kamu bisa menjadi ketua MA…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Gembira) Mahkamah Agung?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Bukan… Mahkamah A-moral.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Jaksa makin menatap penuh kasih sayang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Sekarang pergilah…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pembela pergi… Jaksa memandanginya kepergian Pembela dengan tatapan penuh mesra… Sampai terkejut ketika Hakim bersuara</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Kamu menatapnya seperti menatap kenangan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Setiap kita punya kenangan, Bapak Hakim… Kenangan yang ingin kita simpan … Kenangan yang jadi rahasia… Bukankah setiap orang juga punya rahasia, Bapak Hakim?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim tersenyum penuh pengertian. Jaksa mengulurkan tangan, semacam isyarat penuh godaan. Lalu Hakim mendekati Jaksa, meraih tangannya, mencium telapak tangan Jaksa dengan lembut. Kemudian Hakim membimbing Jaksa dengan mesra.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Keduanya berjalan ke satu sudut, dimana kemudian keduanya menjadi bayangan. Mereka berpelekan. Bergairah dan bercumbu liar. Hakim tampak mengikat kedua tangan Jaksa terentang. Kemudian dengan penh gairah mencambuki tubuh Jaksa dengan penuh berahi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Sayu-sayup terdengar suara orang menembang, penuh kepedihan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SEPULUH</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Tembang itu terus mengalun…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila, dalam selnya, tergeragap mendengar suara tembang itu. Ia sperti terkenang akan tembang itu. Tembang itu bagai mengingatkannya pada hari-harinya yang tenang. Dalam keremangan, terlihat sesesok perempuan yang sedang menembang itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Siapa itu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Sesosok perempuan itu beringsut mendekat dalam kegelapan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Aku… Mira…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Mira? Mira siapa? Mirasantika? Mira Diarsi? Mira Lesmana? Atau Miranda Goeltom?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Tembang berhenti. Sunyi sejenak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Tak ada jawaban. Sunyi membuat Susila gelisah. Tiba-tiba terdengar seperti suara pintu dibanting, keras.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: (Kaget, latah) Eh, kontol copot…copot..copot… (memandang mencari-cari sesuatu di lantai) Mana…mana… (Lalu melihat dalam sarungnya, kemudian tersenyum) Eh, masih…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Kamu masih di situ?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Eh iya, masih…(sambil terus memandangi ke dalam sarungnya)… masih utuh…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Lalu perlahan-lahan muncul Mira, bagai keluar dari dalam lobang persembunyian… Susila terkejut dan segera mengenalinya,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kamu… Kamu penari tayub itu, kan? Kamu kok bisa kemari? Apa penjaga-penjaga itu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Nggak usah khawatir… Aku sudah memuaskan penjaga-penjaga itu dengan goyangan… Kawan-kawan menyuruhku menemuimu… Karna kami harus yakin bahwa kamu tetap setia pada perjuangan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila tampak kebingungan,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Perjuangan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Beberapa kawan mulai curiga kamu akan menyerah… Mereka takut kamu akan membocorkan rahasia kita!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Rahasia apa? Wahh, saya nggak mudeng…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Berhentilah main-main, Susila! Atau kamu tak mempercayaiku?! Sengar, Susila.. aku kemari karena ingin menyelamatkanmu! Saat melihatmu tayuban dulu, aku sudah merasa, kamu memang pejuang sejati…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kamu itu ngomong apa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Aku yang harusnya bertanya, kamu sudah ngomong apa saja pada petugas-petugas itu? Apa kamu cerita kalau rombongan tayub kami sesungguhnya para gerilyawan moral yang sedang menyusup ke kota? Jawab, Susila!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Eh, jawab jawab… Jawab apa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Berapa nama yang sudah kamu sebut?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Nama apa? Saya nggak ngerti…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Jadi benar?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Apanya yang benar?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Kamu sudah membocorkan rahasia perjuangan kita….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Perjuangan apa? Kita siapa? Aku nggak mudeng…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Kamu kok aneh begitu? Kamu memang sudah berubah… Kamu pasti lelah. Tapi aku yakin kamu mampu bertahan. Meski banyak kawan-kawan seperjuangan meragukan keteguhanmu. Makanya mereka mengirimku ke mari… Mereka ingin aku membunuhmu… Karena mereka tahu aku diam-diam menyintai kamu… Sejak pertama melihatmu di tayuban dulu, aku memang sudah jatuh cinta sama kamu… Ah, cinta pada pandangan pertama… Sejak kamu ditahan, aku selalu mencemaskanmu, Sus… Dan kawan-kawan seperjuangan bisa merasa perasaan cintaku padamu bisa menjadi awal petaka…Mereka lalu menuntut keteguhanku: memilihmu atau memilih perjuangan… Tapi saya tak mau membunuhmu, Susila…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Tolong saya… Sekarang kamu lari… (menyerahkan kunci) Ini kuncinya… Larilah… kamu bisa menghilang ke mana saja…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila menatap kunci yang disodorkan Mira, tapi tak menerimanya, malah ketakutan,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Tidak… Tidak… kalau kabur pasti saya diburu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Ini demi keselamatanmu, Susila… Atau kamu memang sudah betah di penjara ini?… Begitu? Aku mendengar desas-desus kalau kamu memang diperlakukan baik di sini. Kami justru merasa nyaman dalam penjara. Penjara membuatmu merasa makmur!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Oo uedan tenan! Di penjara kok makmur!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Kalau kamu nggak senang, larilah… Semakin lama kamu dipenjara, kawan-kawan malah semangkin cemas. Kamu akan tergoda. Lalu kamu membocorkan rahasia kita. Saya ingin kamu selamat. Tapi aku juga ingin semua kawan-kawan seperjuangan kita selamat….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Mbuh, mbuh… Saya nggak mudeng. Nggak mudeng!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Ingat, Sus… Orang-orang di luar begitu berharap padamu. Kamulah satu-satunya harapan kita. Diam-diam banyak rakyat yang memujamu. Kalau kamu sampai menyerah, habislah seluruh perjuangan kita… Sampai saat ini aku terus bergerilya menyamar jadi penari tayub.. Kamu pikir, apa yang membuat saya tahan melakukan semua itu? Kamu, Sus… Kamu… Kamu-lah yang membuat aku yakin bahwa apa yang kini aku jalani dan yakini tidak akan sia-sia…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila terbengong-bengon, bingung dan hanya terdiam di dalam sel. Mira berusaha mengulurkan tangannya menyentuh Susila, mengelus-elus Susila dengan ujung jari-jarinya,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Ayo, Sus… Kamu harus keluar dari sini…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila tiba-tiba langsung beringsut menjauh, dan nampak malu,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Lha ini… baru disentuh kamu saja sudah keluar…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Ayolah, Sus… Larilah… Aku tak ingin kamu mati konyol…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUSILA: Kamu yakin kalau saya lari saya tak akan mati? Di penjara ini saya bisa mati… Kabur pun saya pasti mati… Saya nggak ngerti… Jaman apakah ini… Jaman harta? Jaman susila? ….Dulu zaman Suharto, zaman nyari harta. Sekarang kan zaman Susila. Zaman menegakkan susila. Su-sila…, dasar yang baik. Setelah dapat harta, lantas nyari susila…. Tapi saya? Sudah nggak dapat harta, eh malah kesandung susila… Apalagi yang bisa saya percaya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Percayalah sama saya… Kamu hanya lelah…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Terdengar suara kemerontang, seperti ada yang dating. Mira segera bangkit, melihat keadaan. Lalu buru-buru menyodorkan lagi kunci ke arah Susila.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Ini kuncinya… Kunci hidup matimu!!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila hanya memandang, bergeming. Suara seperti pinu sel di dorong kembali terdengar. Mira buru-buru melempar kunci tu ke dalam sel Susila, hingga jatuh tak jauh dari kaki Susila yang terus bergeming.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kemudian Mira segera menyelinap pergi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila tanpak bingung. Ia memandangi kunci itu. Ia bergerak hendak memungutnya. Tetapi kemudian tak jadi. Ia terlihat begitu bingung. Ragu memandangi kunci itu…Sampai kemudian ia tiba-tiba begegas mengambil kunci itu. Tangannya gemetar membuka selnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Susila kabur…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Terdengar sirene meraung-raung!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SEBELAS</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Operasi Moral besar-besaran digelar untuk memburu Susila. Sepasukan Polisi Moral terlehat menyebar. Mereka bergerak, seperti sepasukan tentara elit memakai seragam hitam-hitam dengan jaket rompi anti peluru. Di punggung mereka terlihat tulisan DESTASEMEN MORAL. Sebagian memakai topeng penutup, topi baja dengan lampu sorot di bagian depannya. Senjata mereka terarah siap menembak, dengan sinar infra merah terus berkelebatan dalam gelap.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Musik Mission Imposible mengiringi gerakan para Polisi Moral yang terus menyebar hingga ke penonton. Mereka menggeledah setiap penonton. Mengarahkan lampu sorot, membidikkan senapan berinfra merah itu tepat ke dada atau kening penonton…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Di ataa panggung, dalam ketinggian komando, terlihat Petugas Kepala berdiri menjulang memberi perintah dengan megaphone…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Perhatian! Perhatian!…. Ini darurat Moral! Atas nama Undang-undang Susila saya perintahkan semua menyerah… Tembak ditempat semua yang mencurigakan!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Sementara para pasukan menyebar mendatangi para penonton, menggeledah para penonton…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Ini jam malam moral. Jangan sampai kelamin Anda berkeliaran malam-malam…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Dari satu arah seorang Pasukan berteriak, sambil mengarahkan senapannya ke sebuah sudut..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS: Pak! Ada kelamin sembunyi di selokan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Tembak!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas itu segera memberondongkan senapan. Serentetan tembakan menggelegar…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: (Dengan megaphonenya) Sekali lagi, bagi saudara-saudara yang tidak bisa menjaga kelaminnya, harap segera menyerahkan kelaminnya ke pos-pos kemanan terdekat!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-family:Tahoma;"> petugas it uterus memeriksa para penonton, menggeledah. Para petugas tersebut bisa improve melaporkan apa yang ditemukan (seorang petugas misalnya berteriak ke arah Petugas Kepala kalau ia menemukan kondom nyangku di atas pohon, menemukan dua pil Viagra, dst…)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS: Terus geledah setiap rumah! Cari buronan itu! Cari sampai ketemu. Bahkan bila ia kembali sembunyi di rahim ibunya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-family:Tahoma;"> pasukan bergerak sigap dan cepat. Sirene pencarian terus meraung-raung menggetarkan udara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">DUA BELAS</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Sirene masih sayup terdengar menjauh dan derap pasukan yang melakukan operasi masih terdengar menyebar ketika dari satu pojok muncul Mira. Petugas kepala tampak hendak bergerak, ketika terdengar suara Mira yang dengan hati-hati memanggil…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Kelabang satu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas kepala menoleh, mencari suara itu. Ia tampak kaget.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: (Kembali berteriak, hati-hati, memanggil) Kelabang satu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: (Sambil melihat-lihat keadaan) Sebutkan kodemu?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Agen 36-B…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Mendengar itu, Petugas Kepala makin tampak makin kaget, gelisah, tapi mencoba menguasai keadaan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Mira tampak keluar dari pojok persembunyiannya, tapi Petugas Kepala langsung membentaknya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Tetap di situ!! (Kembali melihat sekeliling) Kamu yakin tak ada yang mengikutimu? (Sambil terus menyembunyikan diri dalam keremangan) terlalu beresiko kamu menemui saya langsung…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Tampak benar kalau Petugas Kepala selalu mencoba menjaga jarak, dengan berdiri di keremangan, hingga sosoknya tampak samar ketika berbicara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Maaf…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA:Kamu telah melanggar perintah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Saya hanya mau minta kepastian…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Apa yang yang pasti dalam situasi seperti ini! Semua sudah diluar kendali! Dan saya pun hanya pelaksana!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Tapi kita telah sepakat: Susila tidak akan dibunuh… Karna itulah saya mau membujuknya supaya kabur…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Sekarang ini bukan saatnya kamu melibatkan perasaan! Kamu telah gagal, karena kamu melibatkan perasaan kamu. Kalau saja saat itu Susila langsung kamu bunuh, tak perlu ada operasi besar-besaran ini…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Saya pikir, membiarkan Susila kabur dan bersembunyi lebih menguntungkan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Pikirkan saja nasib kamu! Tak perlu memikirkan Susila. Apakah dia akan dibunuh atau tidak, itu hanya soal kepentingan. Mana yang lebih menguntungkan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Saya mohon…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Terlambat!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Terdengar serentetan tembakan di kejahuan. Mira dan Petugas Kepala saling menatap tajam…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Apa itu Susila?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Entahlah… Kamu bisa cari informasi sendiri! Sekarang kamu mesti kembali!…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Seperti ada yang datang, dan Petugas Kepala melihat keadaan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Cepat! (memperhatikan satu arah, merasa kalau ada seseorang yang datang mendekat) Kamu yakin tak ada yang mengikutimu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Mira diam, memperhatikan sekeliling juga. Ia juga mendengar ada yang berjalan mendekat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS KEPALA: Cepat! Sekarang kamu pergi! Saya ingin daftar nama-nama itu secepatnya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Petugas Kepala tampak makin ingin buru-uru pergi, melihat ke satu arah, melihat ada yang datang, dan Petugas kepala pun segera berkelebat menghilang, sementara Mira kembali sembunyi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Muncul Pembela, tampak berjalan bergegas. Mira memperhatikan Pembela yang melintas itu, lalu memanggilnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Utami!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pembela kaget, berhenti dan menoleh. menatap penuh selidih kekapa Mira.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Saya Mira… Kawan Susila…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Oo.. Mira? Atau Agen 36 B? Kawan Susila? Atau yang mengkhianati Susila?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Beri kesempatan saya untuk menjelaskan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Kamu mau memberikan penjelasan atau mau memberikan informasi yang menyesatkan? Dalam situasi seperti ini, siapa yang bisa kita percaya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Susila percaya sama saya. Dia mau mendengar omongan saya….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Dan karena mendengar omonganmu lah maka sekarang nasibnya menjadi tidak jelas. Dia buron, dan sewaktu-waktu bisa mati ditembak! Atau jangan-jangan sekarang ia sudah mati tertembak! Kalau saja ia masih di dalam penjara, setidaknya saya masih bisa menjamin keselamatannya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Saya tahu persis: penjara akan menjadi tempat kematiannya. Karena itulah saya menyuruhnya pergi… Tolonglah… Jangan biarkan saya terus disiksa perasaan bersalah begini. Saya bisa bantu kamu. Sayu bisa hubungkan kamu dengan orang-orang gerakan… (Mengeluarkan seberkas kertas dari balik pakaiannya) Semua informasi ini mungkin berguna sebagai bukti di sidang nanti…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Dengan halus menolak) Apa untungnya buat saya? Kamu melakukan ini bukan karena ingin membantu saya, kan?! Kamu hanya ingin Susila selamat. Kamu mencintai Susila, dan karna itu kamu mau melakukan apa saja asal Susila selamat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">MIRA: Saya melakukan ini karena saya yakin kamu pun ingin Susila selamat… Bagaimana pun dia Pakdemu… Kamu mesti menolong Pakdemu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Bagaimana saya mesti menolong dia? Menolong diri sendiri saja saya tak mampu… (Menatap sinis pada Mira) Maaf, saya mesti buru-buru menghadiri sidang!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Dengan cepat Pembela segera meninggalkan Mira. Mira pun berdiri gamang. Terisak. Ia gelisah dengan seluruh perasaan bersalah. Ia mengeluarkan berkas kertas yang tadi hendak diberikan pada Pembela. Menatap dan mengamati berkas kertas itu dengan gemetar. Tiba-tiba Mira menyobek-nyobek berkas kertas itu, seperti ingin melampiarkan seluruh kegundahannya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Pada saat itulah, terdengar teriakan orang-orang: ”Itu dia! pengkhianat! Tangkap! Tangkap!” Mira kaget, tetapi ia dengan cekatan langsung menyelematkan diri. Teriakan-teriakan itu terus terdengar mengejar: ”Tangkap! Kejar! tangkap!! kejaarr!!”….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">TIGA BELAS</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim, Jaksa dan pembela muncul terburu-buru. Hakim langsung menuju meja sidang dan langsung mengetokkan palu berkali-kali.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (suara sudah langsung meninggi) Sidang mulai!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBALA: (Ragu dan tak seyakin dulu) Ee.. Maaf, Bapak hakim.., klien saya belum ditemukan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: (mengabaikan, dan langsung memotong omongan Pembela dengan mengetukkan palu keras-keras dan makin tegas) Kalau begitu sidang dilangsungkan secara in absentia! Apa pun yang bisa mewakili kehadiran terdakwa harap segera dibawa ke ruang sidang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim kembali mengetukkan palu memerintahkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Terdengar teriakan seorang petugas: “Terdakwa segera memasuki ruangan!”… Suasana kemudian hening, khidmad. Musik mengiringi suasana bagai permulaan prosesi upacara yang sakral dan kudus. Semua berdiri menunggu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kemudian muncul para petugas yang mengusung sebuah closet yang ditandu dengan langkah-langkah upacara. Seperti parade kehormatan. Khidmad dan agung. Kemudian dengan penuh kehati-hatian, kloset yang ditandu itu kemudian diletakkan di tengah-tengah ruang sidang. Para petugas yang menandu pergi dengan sikap parade militer…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Harap petugas memastikan keotentikan status terdakwa!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Seorang petugas medis, segera mendekati closet itu. Ia segera menyeprotkan cairan pendeteksi sidik jari ke kloset itu, kemudian mengeliuarkan selembar tissue dan dengan hati-hati mengelap ke bekas semprotan itu. Lalu ia memeriksa closet itu dengan semacam alat pendeteksi dan dengan cermat dan seksama kertas itu diterawangkan ke cahaya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PETUGAS MEDIS: Kami tak berhasil mengidentifikasi sidik jari terdakwa… Tapi kami berhasil menemukan sidik tai terdakwa… Dan berdasarkan sidik tai yang kami miliki, kloset ini memang pernah diduduki terdakwa!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Berdasarkan Undang-undang Susila, maka sidang bisa dianggap sah dan memenuhi kuorum… Saudara Jaksa dan Saudara Pembela, silakan mulai…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Hakim mengetukkan palu. Jaksa dan Pembela serentak mendekati kloset itu, dan langsung menghunjamkan bermacam pertanyaan, kata-kata, cercaan, sambil menuding dan menunjuk-nunjuk kloset itu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Apa yang dilakukan pesakitan ini sudah tidak bisa kita maafkam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Hukum seberat-beratnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Ia terbukti secara meyakinkan berusaha menggulingkan moral negara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: (Bertanya kepada kloset itu) Bukankah begitu, saudara terdakwa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Pesakitan, saudara Pembela!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Ya, pesakitan! Pesakitan ini adalah contoh buruk dari peradilan kita!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Contoh buruk dari moral, saudra Pembela!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Ya, inilah contoh moral yang buruk!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Lihatlah Bapak Hakim… (menuding ke kloset) Inilah bentuk komunisnme gaya baru!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Harus kita waspadai!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Harus kita ganyang! Inilah sumber penyakit kelamin. Sumber demoralitas Negara!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Itu terlalu berlebih-lebihan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Tak ada yang berlebih-lebihan, saudara Pembela…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Ya, maaf, Bapak Hakim… tidak berlebihan bila pesakitan dihukum seberat-beratnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Pesakitan ini jelas sangat pantas dihukum rajam!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Potong kelaminnya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Hidup kelamin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Saudara Jaksa!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Maaf, Bapak Hakim… Maksud saya, hidup kelamin yang bermoral!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Sudah menjadi kewajiban kita mendidik agar setiap kelamin memiliki moral, Saudara Jaksa…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Tapi kelamin pesakitan ini tidak bermoral!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">HAKIM: Saya suka dengan nada bicamu yang heroik, Pembela! Good…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Teteknya juga tidak bermoral!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Otaknya tak bermoral!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Buah pelirnya tak bermoral!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Telinganya tidak bermoral!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">JAKSA: Dengkulnya tidak bermoral!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">PEMBELA: Kutilnya tidak bermoral!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Begitu seterusnya, Jaksa dan Pembela seperti saling berlomba melontarkan kata-kata ke arah kloset itu, menuding-nuding, meludahi, bahkan mengentuti kloset itu. Keduanya terus mendakwa dengan bermacam-macam kata cercaan dan bermacam-macam tuduhan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Kemudian semua yang hadir ikut-ikutan menghujat: “Jarinya tidak bermoral! Alisnya tidak bermoral! Tumitnya tidak bermoral! Kukulnya tidak bermoral!… dst…” Hingga suasanya menjadi hiruk pikuk oleh hujatan yang makin meninggi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Sementara lampu perlahan lahan mengarah dan fukus pada kloset itu. Bersamaan itu, suara Jaksa dan Pembela yang terus melontarkan kata-kata perlahan juga merendah dan sayup-sayup…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Sekitar panggung menggelap, dan hanya ada cahaya yang menyorot ke arah kloset. Suara Jaksa dan Pembela makin sayup-sayup.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">Dan bersamaan dengan itu kemudian terdengar suara yang keluar dari pengeras suara, suara Hakim yang tengah mengumumkan,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM DI PENGERAS SUARA: Sidang Susila dengan ini memutuskan bahwa pesakitan akan menerima hukuman seberat-beratnya. Dan untuk menghindari hal-hal yang bisa berkembang dikemudian hari, maka Sidang Susila ini juga menetapkan, bahwa segala macam kata-kata, ucapan, tulisan, gambar, rekaman dan semua bentuk kelamin yang ada di muka bumi ini harus segera dihapuskan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Tahoma;">S E L E S A I</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/32/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/32/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/32/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=32&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-sidang-susila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Naskah : Sarimin</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-sarimin/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-sarimin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 05:24:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Monolog S A R I M I N Karya Agus Noor 1. Tampak panggung pertunjukan, mengingatkan pada pentas kampung… Para pemusik muncul, nyante, seakan-akan mereka hendak melakukan persiapan. Ada yang mumcul masih membawa minuman. Ngobrol dengan sesama pemusik. Kemudian &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-sarimin/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=29&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sebuah Monolog</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<h1><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">S A R I M I N</span></h1>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Karya Agus Noor </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">1.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tampak panggung pertunjukan, mengingatkan pada pentas kampung…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> pemusik muncul, nyante, seakan-akan mereka hendak melakukan persiapan. Ada yang mumcul masih membawa minuman. Ngobrol dengan sesama pemusik. Kemudian mengecek peralatan musik. Mencoba menabuhnya. Suasana seperti persiapan pentas. Tak terlihat batas awal pertunjukan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">pemusik-opening.jpg</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sesekali pemusik menyampaikan pengumunan soal-soal yang sepele: Memanggil penonton yang ditunggu saudaranya di luar gedung, karena anaknya mau melahirkan; menyuruh pemilik kendaraan untuk memindahkan parkir mobilnya, atau mengumumkan bahwa Presiden tidak bisa datang menyaksikan pertunjukan malam ini karena memang tidak diundang; pengumuman-pengumuman yang remeh-remeh dan bergaya jenaka… Atau menyapa penonton yang dikenalnya, bercanda, say hello, sembari sesekali menyetem peralatannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kemudian mereka menyanyikan lagu tetabuhan, yang mengingatkan pada musik topeng monyet. Para pemusik bernyanyi dan berceloteh jenaka. Sementara ruang pertunjukan masih terang. Tertengar lagu tetabuhan yang riang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu muncullah aktor pemeran monolog ini atau Tukang Cerita. Terlihat jenaka menari-nari mengikuti irama. Hingga musik tetabuhan berhenti, dan Tukang Cerita mulai menyapa penonton dengan penuh semangat bak rocker,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TUKANG CERITA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Selamat malam semuanya! Yeah!…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Wah, gayanya seperti rocker, tapi nafasnya megap-megap. Rocker tuek…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">tukang-cerita-bag-awal.jpg</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nah, salah satu ciri penonton berbudaya itu kalau nonton pertunjukan, selalu mematikan handphone. Ayo sekarang, silakan men-non atifkan-kan HP Anda, sambil berimajinasi seakan-akan Anda itu Presiden yang sedang men-non aktif-kan menteri Anda. Atau kalau selama ini Saudara punya bakat dan naluri membunuh, silakan diekspresikan bakat membunuh Saudara dengan cara membunuh handphone masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nanti, selama pertunjukan, juga dilarang memotret pakai lampu kilat. Nanti ndak jantung saya kaget. Di dalam gedung ini juga dilarang makan, minum atau merokok…. kecuali pemainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Malam ini, saya akan bercerita tentang Sarimin. Perlu Anda ketahui, nama Sarimin ini bukanlah nama asli. Tapi nama paraban. Nama panggilan. Nama aslinya sendiri sebenarnya cukup keren: Butet Kartaredjasa..1 Mungkin nama ini kurang membawa berkah. Meski pun ada juga lho orang yang memakai nama Butet Kartaredjasa, lah kok nasibnya malah mujur: tersesat jadi Raja Monolog. Atau istilah yang lebih populisnya: pengecer jasa cangkem.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nah, dia dipanggil Sarimin, karena berprofesi sebagai tukang topeng monyet keliling. Agak aneh juga sebenarnya, kenapa nama Sarimin itu identik dengan topeng menyet. Begitu mendengar nama Sarimin, langsung ingatan kita… tuinggg… melayang ke topeng monyet.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Memang sih ada nama-nama yang identik dengan sesuatu. Yah, misalnya sepertu nama Pleki. Begitu mendengar nama Pleki, kita pasti langsung teringat pada… (sambil menunjuk ke arah pemusik).. anjing kampung. Atau nama Munir, misalnya. Nama munir selalu mengingatkan kita pada aktivis hak asasi yang mendapat berkah diracuni arsenik. Memang kebangeten kok yang ngracun itu, kok ya ndak merasa bersalah… Kita juga kenal Baharudin Lopa, yang identik dengan sosok yang jujur dalam hukum. Nama Gesang… identik dengan Bengawan Solo. Suharto… yang identik selalu mendadak sakit kalau dipanggil pengadilan. Atau Sumanto… Begitu mendengar nama Sumanto, kita langsung teringat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Celetukan pemusik: “Kanibalisme…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TUKANG CERITA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Itu terlalu keren… Bukan kanibalisme, tapi ciak kempol! Atau yang sekarang lagi popular: Bondan Winarno… Begitu mendengar nama Bondan Winarno, langung ingat wisata kuliner… mak yuss…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Musik memberi tekanan dan membangun suasana…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TUKANG CERITA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sebagai tukang topeng monyet keliling, Sarimin lumanyan konsisten menekuni kariernya. Lebih kurang 47 tahun dia jadi tukang topeng monyet. Sekarang dia sudah berumur 54 tahun. Jadi kalau dihitung-hitung, dia sudah menjadi tukang topeng monyet sejak umur 7 tahun. Ini profesi yang diwarisi Sarimin dari Bapaknya yang sudah almarhum.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mungkin Saudara pernah bertemu Sarimin. Atau pernah melihat Sarimin melintas di jalanan yang macet. Kemacetan yang sepertinya sengaja diselenggarakan oleh Gubernurnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Atau mungkin suatu hari Anda pernah secara sengaja berpapasan dengan Sarimin. Mungkin malah Anda sempat ngobrol sebentar berbasa-basi denganya… Tapi Anda tak lagi mengingatnya. Tampang dan nasib Sarimin memang membuat orang malas mengingatnya. Saking leceknya. Bajunya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tukang Cerita itu mengambil baju dari kotak pikulan topeng monyet yang ada di dekatnya. tukang-cer-jadi-sarimin.jpgDan mulai di sini, pelan-pelan, Tukang Cerita itu mengubah dirinya menjadi tokoh Sarimin. Sambil terus bicara ia mengganti baju Tukang Cerita dengan pakaian Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TUKANG CERITA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lihat saja bajunya… Setahun sekali kena sabun saja sudah lumayan… (Kepada para pemusik) Coba cium…, baunya… hmmm, mak brengg… Belum lagi celananya…Coba lihat… (sambil memakai celana itu). Selalu cingkrang…. Tapi ini cingkrang yang tidak menakutkan lho ya… Karena meski celananya cingkrang, tidak jenggotan.. Tidak suka merusak kafe-kafe atau tempat hiburan malam…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sembari terus berubah menjadi Sarimin, menempelkan bermacam “asesoris” penyakit kulit di tubuhnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TUKANG CERITA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tubuh Sarimin juga full asesoris… Penuh tato emping, alias panu. Dia juga punya bisul yang nggak sembuh-sembuh. Ada kutil di lehernya… Kurap ada. Kadas, kudis, jerawat, koreng, kutu air…. Pokoknya segala macam jenis penyakit kulit tersedia lengkap di badannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dengan segala macam anugerah penyakit yang dimilikinya itu, sudah barang tentu Sarimin bukanlah sosok yang menarik untuk Anda ingat. Sarimin bukanlah orang yang cocok untuk dijadikan monument ingatan. Makanya, saya pun akan maklum, apabila setelah menyaksikan pertunjukan ini Anda pun tetap tak akan mengingat Sarimin… Sekarang ini, yang paling sulit memang mengingat. Karena kita sudah terlalu l ama dididik keadaan untuk gampang lupa!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Musik menghentak, memberi tekanan perubahan suasana dan karakter. Kini aktor itu sudah sepenuhnya berperan menjadi Sarimin. Sementara musik tetabuhan topeng monyet berbunyi,sarimin-jalan2.jpg Sarimin mulai mengambil peralatan topeng monyetnya, kemudian mulai berjalan memikul peralatan topeng monyetnya, seolah mulai berjalan keliling menyusuri jalanan… Suasana makin meriah dengan teriakan suitan para pemusik yang mencelotehi tingkah Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sampai kemudin Sarimin mendadak berhenti, memandang ke bawah, ke dekat kakinya. Seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Segera Sarimin memungut sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan itu. Sebuah KTP. Sarimin dengan ragu-ragu memungut KTP itu. Memeganginya, memandanginya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pada saat inilah, lampu di bagian penonton meredup dan menggelap. Dan cahaya di panggung mulai mengarah pada Sarimin yang memegangi dan mengamati KTP yang ditemukannya itu: bergaya membaca nama di KTP itu, padahal ia tak bisa membaca… Baru kemudian ia menunjukkan KTP yang ditemukannya itu kepada para pemusik…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ini KTP siapa, ya? Ada yang merasa kehilangan KTP tidak? Coba cek dulu mungkin dompet sampeyan jatuh.. Atau kecopetan… Gimana, ada yang merasa kehilangan KTP?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> pemusik berceloteh menangapi, merasa tak kehilangan dompet atau KTP. Lalu Sarimin mencoba bertanya kepada para penonton…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, Bu… Pak… Ada yang merasa kehilangan KTP ndak ya? Ini tadi saya nemu…. Nanti kalau sampeyan ndak ada KTP kena razia Operasi Justisia lho… Bisa-bisa dianggap penduduk gelap… Ini KTP sampeyan bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Celoteh Pemusik: “Mas, tanyanya yang sopan… yang halus…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu Sarimin pun bersikap sopan yang dilebih-lebihkan, bertanya pada para penonton sekali lagi,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, Bapak-bapak… Ibu-ibu… Apakah dari pada Bapak Ibu ada yang merasa kehilangan dari pada KTP? Tidak? Bener, dari pada Bapak Ibu ndak ada yang merasa kehilangan KTP?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seorang Pemusik menyuruh Sarimin untuk membacakan nama di KTP itu, “Kamu kan bisa baca, di situ ada namanya…, nanti kan tahu itu KTP siapa?!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin bergaya membaca tulisan di KTP itu, tetapi hanya bibirnya yang komat-kamit…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Eee, anu, mata saya ini rada aneh kok… Kalau buat mbaca langsung mendadak rabun… Lha ini, tulisannya mendadak ndak jelas… Gini ajah, gimana kalau sampeyan yang bacain…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Para Pemusik meledek Sarimin: “Allahh.., bilang saja nggak bisa baca. Nggak bisa baca ajah kok nggaya!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lho, siapa yang nggaya? Siapa yang ndak bisa baca? Mbok jangan menghina begitu. Sukanya kok ya menyepelekan. Jangan meledek orang yang ndak bisa baca… Banyak juga kok orang yang tidak bisa baca tapi ya sukses… Malah ada orang ndak bisa baca tapi jadi pemimpin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Celoteh Pemusik: “Lho emangnya ada pemimpin yang nggak bisa baca?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ya ada… Gini saja kok ya ndak tahu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Celoteh Pemusik: “Coba sebutkan, siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pokoknya ada… Ndak usah saya sebutkan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Celoteh Pemusik: “Bilang saja takut…. Hayo, coba sebutkan, siapa?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin tampak bingung, terpojok karena terus didesak, mencoba menutupi ketakutannya. Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Ayo, coba sebutkan kalau berani…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Melihat-lihat ke arah penonton, masih ketakutan dan hati-hati) Ada Pasukan Berani Mati yang nonton ndak ya… (Sarimin tampak nggak berani menyebut)… Ya, pokoknya ada!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Iya, siapa? Sebutkan!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Berpikir sejenak, lalu menjawab) Prabu Destarata… Itu, pemimpin Hastina! Dia kan tidak bisa baca… Kalian mau memancing saya kan, biar saya menjawab Gus Dur… Ya ndak mungkinlah saya berani menyebut Gus Dur… Boleh kan pemain teater juga takut. Nanti kalau ada apa-apa ya kalian paling cuman bisa nyukurin… Bikin slametan begitu saya dipenjara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin kembali menimang-nimang dan memandangi KTP itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">sarimin-nemu-ktp2.jpg</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bener, ini bukan KTP sampeyan?… (Bingung menimbang-nimbang KTP itu) Ya, sudah, nanti sekalian saya pulang, saya tak mapir ke Kantor Pulisi… Dari pada repot, kan mendingan KTP ini dititipkan ke Pak Pulisi… Ya ndak? Nanti biar Pak Pulisi yang nganter ke pemiliknya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dan Sarimin pun kembali memikul kotak topeng monyetnya. Musik tetabuhan mengiringi perjalanan sarimin. “Sarimin pergi ke Kantor Pulisi…” teriak para pemusik riang bagai pertunjukan topeng monyet.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tampak Sarimin berjalan menuju kantor pulisi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Musik terus mengiringi perjalannan Sarimin. Pada saat inilah, aktor juga mulai menata setting untuk perpindahan adegan. Menggeser beberapa dekorasi hingga terjadi pergantian ruang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">2.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ahhirnya, Sarimin pun sampai di Kantor Pulisi. Ia tampak kelelahan dan capai setelah berjalan jauh. Sarimin memperhatikan Kantor Pulisi itu, tanpak sepi. Tak ada Petugas Jaga. Ia sejenak clingukan, agak ragu memasuki halaman Kantor Pulisi itu. Ia berjalan pelan dan sopan mendekat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Permisi, Pak Pulisi….Asalamualaikum, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mendadak nongol sosok Pulisi, yang langsung sibuk mengetik begitu mengetahui kedatangan Sarimin. Maka Pulisi itu pun tampak terus sibuk mengetik…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">sarimin-ketemu-polisi.jpg</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Wah…, Pak Pulisinya ternyata lagi sibuk… Sibuk kok ya mendadak ya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pulisi itu terus mengetik, mengabaikan Sarimin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ya sudah…, biar saya tunggu saja…(Lalu menjauhi Pulisi itu, sementara suara mesin ketik terus terdengar, membangun suasana) Yah, lumayan…, sambil nunggu bisa numpang istirahat… (Sembari memijit-mijit kakinya yang terasa pegal-pegal atau sesekali meregangkan badan atau mengeluk pinggangnya) Lagi pula saya juga lagi males keliling… Udah dari pagi keluar masuk kampung, tapi nggak ada yang nanggap. Capek juga kan seharian keliling tapi ndak dapet duit…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin mengeluarkan sebiji pisang dan mengupasnya. Kemudian terdengar suara monyet, yang nangkring di kotak topeng monyet itu. Monyet itu merajuk minta pisang yang dimakan Sarimin itu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Bicara pada monyet itu) Apa? Pingin?… Iya, iya…, nanti saya bagi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin mengambil monyetnya dengan penuh perhatian, memangku monyet itu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil mengelus-elus monyetnya, bicara kepada penonton) Oh ya, kalian belum kenal toh sama monyet saya ini… Lah ya ini yang namanya Sarimin… Kalau saya dipanggil Sarimin ya cuman karna kena efeknya saja… Itu disebut The Sarimin Effect…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Monyet saya ini bukan monyet sembarangan lho… Kalau ditelusuri garis keturunannya, dia itu keturunan monyetnya Si Badra Mandrawata…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> pemusik heran: “Siapa itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Si Buta dari Gua Hantu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara monyet itu terdengar senang, seperti meloncat-loncat. Sarimin mulai menyuapi monyet itu dengan pisangnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">sarimin-nyante-di-kanpol.jpg</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nih, kamu separo…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tampak pisang yang dibaginya itu lebih kecil. Monyetnya tampak senang. Tetapi, begitu mau menyuapkan pisang itu ke monyetnya, pisang itu malah dimakan Sarimin sendiri. Hingga monyet itu berterak-teriak. Tapi Sarimin terus mengunyah pisang itu buat dirinya sendiri…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Melihat itu, Para Pemusik pun berkomentar: “Was, Mase ini, sama monyetnya sendiri kok pelit! Medit!”… “Sudah persis kayak monyet lho Mase ini kalau makan pisang gitu!”…”Ngirit, ya Mas?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalian itu jangan salah faham. Ini bukan ngirit! Saya makan pisang begini ini karna saya lagi nglakoni ngelmu munyuk!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tahu ngelmu munyuk, ndak? Ngelmu munyuk itu ya ilmu kebajikan yang bersumber dari munyuk. Ada kitabnya! Namanya Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin segera mengambil sebuah buku tua dari kotak topeng monyetnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nah ini kitabnya… Ilmu soal permonyetan ada di sini semua. Kenapa manusia disebut keturunan monyet, ada penjelasannya di sini. Juga soal Jaman Monyet… Nih… (membaca halman kitab itu) hamenangi jaman monyet. Sing ora dadi monyet ora keduman. Sak begja-begjane wong sing dadi monyet, isih luwih begja wong sing koyo monyet nanging kuoso…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seorang Pemusik memotong: “Lho, kok mendadak situ bisa baca? Tadi katanya nggak bisa baca. Nggak konsisten!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ini aksara Jawa. Honocoroko. Kalau huruf Jawa saya bisa baca…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Gimana, mau tahu soal ngelmu munyuk, ndak?… Lihat nih, halaman 79… (membaca) Living English Structure… Lho, kok malah bahasa Inggris. Maaf, maklum saya belinya di loakan. Ini buku bajakan, jadi halamannya kecampur-campur. Nah, ini… halaman 67… Di sini dijelaskan, kenapa monyet suka pisang… Ini ada filosofinya. Ada maknanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pisang itu buah yang murah. Artinya kita harus pemurah. Mau berbagi. Maksudnya, hidup kita itu seyogyanya ya seperti pohon pisang. Anda tahu kan pohon pisang? Setiap bagian dari pohon pisang itu semuanya berguna. Tangkai daunnya bisa ditekuk-tekut, dibuat mainan kuda-kudaan. Batang pohonnyanya buat nancepin wayang. Antok-nya, jantungnya, bisa dibikin sayur yang enak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Celoteh Pemusik: “Kalau pelepahnya, Mas?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pelepahnya? Ya bisa buat mainan plesetan…. Daunnya bisa dipakai buat mbungkus… Atau bisa juga di pakai buat payungan kalau hujan. Bisa buat berteduh….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Berdasarkan ngelmu munyuk ini, pohon pisang sebenarnya mengajarkan kita agar tidak egois. Karena pohon pisang memang bukan pohon yang mementingkan dirinya sendiri. Pohon pisang itu beda dengan… pohon beringin, misalnya. Ini misalnya lho ya… Kalau Pohon beringin itu kan cuman mementingkan dirinya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalian lihat sendiri kan, pohon beringin itu tumbuh besar, tinggi menjulang, rimbun, tetapi ia menyedot kesuburan pohon-pohon di sekelilingnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Celoteh Pemusik: “Ya, tapi kan Pohon Beringin bisa buat berteduh. Kan bayak itu kere-kere yang suka berteduh di bawah Pohon Beringin…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalau yang suka berteduh sih bukan cuman kere… Tapi juga keple… lonte…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Makanya, kalau orang yang pinter, pasti ndak mau lagi berteduh di bawah Pohon Beringin. Seperti para Jenderal itu… Kan sekarang banyak Jenderal yang memilih membikin dan membesarkan pohon sendiri… Lebih senang membesarkan Pohon Gelombang Cinta… Seolah-olah mereka merasa masih dicintai rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nah, kalau sampai ada Jenderal yang terus ngotot ikut berteduh di bawah Pohon Beringin, pasti agak diragukan kredibilitasnya: ini Jenderal apa lonte…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Membuka-buka halaman kitab itu dengan serius…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Makanya kalian mesti belajar ngelmu pisang. Pohon pisang itu selalu membiarkan anak-anaknya tumbuh besar. Sampeyan tahu, pohon pisang itu juga baru mati kalau sudah berbuah. Artinya, hidup kita itu berbuah. Mesti membuahkan kebaikan. Jangan sampai kita mati tapi belum sempat berbuat baik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Celoteh Pemusik, agak meledek: “Kata siapa…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lah ya menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk ini… Kalau kalian baca kitab ini, pasti kalian ngerti ilmu sejati. Ini ilmu tidak main-main. Ilmu filsafat tingkat tinggi. Tidak sembarang orang bisa mempelajari. Otak anak-anak Jurusan Filsafat saja mungkin ndak nyampe kalau mempelajari ini. Frans Magnis Suseno, Mudji Sutrisno, Pak Damardjati Supajar juga ndak level ama ilmu ini. Makanya mesti hati-hati. Karna bisa-bisa nanti kebablasen: begitu mempelajari ilmu sejati ini, langsung ngaku-ngaku jadi Nabi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ngelmu munyuk itu ilmu ketauladanan. Mangsud-nya, banyak ketauladanan yang bisa kita pelajari dari monyet. Karena kalau monyet suka pisang, sesungguhnya monyet itu sedang memberi kita tauladan hidup. Makanya, kalau sekarang ini ndak ada tokoh atau pemimpin bangsa yang bisa kita tauladani, kenapa kita ndak meneladani monyet saja? Ya, ndak?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sementara itu terdengar suara ngorok…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sudah ah, nanti saja lagi saya kasih tahu soal ngelmu munyuk-nya… (Seperti tersadar kalau sudah lama menunggu)… Dari tadi kok ya belum dipanggil-panggil ya….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara ngorok itu makin keras terdengar, ternyata datang dari Kantor Pulisi. Tampak ruangan kantor itu sepi, hanya terdengar suara orang tertidur ngorok…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Welah, Pulisinya malah ngorok…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu Sarimin menuju meja jaga pulisi itu. Tak tampak pulisi. Hanya terdengar suaranya yang mendengkur keras…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, Pak Pulisi… Saya cuman mau nyerahkan KTP ini kok, Pak… Soalnya saya mesti pulang… Sudah sore….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mendadak Pulisi itu bangkit, dan langsung sibuk mengetik. Terdengar suara mesik ketik yang langsung sibuk…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(SUARA) POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Membentak, sambil terus mengetik) Tunggu saja dulu! Apa tidak liat saya lagi sibuk!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">I..ya, Pak… Iya… Sibuk kok mendadak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pulisi terus terus mengetik, terus sibuk. Sementara Sarimin hanya bisa memandangi dengan tatapan tak berdaya. Merasa marah disepelekan, tetapi tak bisa apa-apa, hanya ngedumel…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ama orang kecil kok ya selalu menyepelekan… Coba kalau ndak pakai seragam, sudah saya plinteng matane…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin hanya bisa menunggu. Tapi kemudian ia seperti sudah tak bisa menahan untuk kencing…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Kepada penonton) Ee, tolong, nanti kalau Pak Pulisinya nyari, bilang saya kencing dulu ya… Ke toilet bentar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin kemudian bergegas hendak ke toilet, tetapi mendadak terdengar bentakan:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(SUARA) POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hai! Mau mana?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mau ke belakang, Pak…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(SUARA) POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tunggu saja di situ!… Nanti saya panggil!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dengan terbungkuk-bungkuk sopan Sarimin akhirnya kembali duduk, tetapi tampak jengkel juga…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Gimana sih! Dari tadi cuman nyuruh tungga-tunggu… Mau kencing bentar ajah ndak boleh… Sok kuasa! Sok merasa dibutuhkan! Seneng kalau melihat orang menderita. Begitu kok ngakunya sahabat rakyat…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin tampak gelisah menahan keinginannya untuk kencing. Pada saat itu terdengar suara monyet yang menjerit-jerit, membuat sarimin gugup dan panik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Menenangkan monyetnya yang mulai rewel) Sstt! Jangan ribut, toh… Pak Pulisinya kayak buto galak. Nanti kamu dimarahin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Monyet itu malah bertambah rewel, terus memekik-mekik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Terus berusaha menenangkan monyetnya) Apa? Haus? Pingin mimi, ya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mengambil botol air mineral dari kotak pikulannya, tetapi botol itu ternyata sudah kosong…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Wah, habis… Sabar, ya… Ntar minum di rumah saja ya… Cup cup cup… Bentar lagi kita pulang kok…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi monyet itu makin rewel dan ribut…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Jadi monyet itu mbok yang sabar… Lama-lama kamu itu ketularan manusia lho! Ndak bisa nahan sabar! Dasar monyet asu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Monyet itu terus memekik-mekik minta minum. Sarimin bingung. Ia melihat kepada Pulisi yang tampak sudah kembali tertidur bersandar di depan mesin tiknya. Melihat Pulisi yang lelap itu, maka Sarimin pun hati-hati menegendap-endap menuju toilet di bagian belakang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tampak silhuet Sarimin yang kencing, dan menadahi air kencingnya dengan botol.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin kembali muncul dan segera ia mendatangi monyetnya yang masih rewel. Dengan tenang Sarimin meminumkan isi botol itu ke monyetnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nih minum… Enak, kan? Dijamin fresh from the batangan. Lagi ndak? Manis, kan? Lah wong saya kecing manis kok… Kalau gini ada untungnya juga lho kena diabet…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin terus meminumkan isi botol itu pada monyetnya, sampai kemudian monyet itu tampak tenang dan senang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Monyet saya memang rada manja. Kalau sudah kepingin ndak mau ditunda. Paling repot ya kalu pas dia lagi birahi pingin kawin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seorang Pemusik nyeletuk bertanya: “Memangnya itu monyet jantan apa betina?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Monyet jantang dong…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pemusik: “Memangnya gimana sih caranya membedakan monyet jantan dan monyet betina?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Tampak sebel dengan pertanyaan itu) Ya gampang… Tinggal kamu kawinin. Kalau hamil, berarti monyet itu betina. Gitu saja kok repot! Mas, mbok kalau nanya itu yang cerdas, biar ndak bikin tambah jengkel… Maaf lho ya kalau saya jadi ketus… Kamu kan lihat sendiri, dari tadi saya sebel nunggu, lah kok malah ditanyain yang ndak mutu gitu! Sebel! Sebel! Sebelll!!! Makanya kalian jangan nambahin sebel saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Melihat Sarimin marah begitu, para pemusik langsung diam. Suasana jadi tidak enak. Sarimin hanya diam, gelisah, bingung nggak tahu mesti berbuat apa. Sampai kemudian Sarimin mengeluarkan beberapa alat atrasksi topeng monyetnya. Memain-mainkan payung kecil, gerobak kecil, dan lainnya. Mencoba membunuh kegelisahannya. Mencoba menyibukkan diri. Tetapi ia tetap merasa gelisah karena terus menunggu. Lalu ia melihat papan catur di atas kotak peralatannya. Ia mengambil papan catur itu, lalu mengajak para pemusik itu untuk menemaninya main catur…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Main catur yuk… Dari pada cuman bengong…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi Para Pemusik tak menanggapi ajakan itu: “Ndak”… “ Mase nesuan, sih!”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kemudian Sarimin membawa papan catur itu, mencoba mengajak para penonton untuk main catur dengannya,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ayo, main catur yok… Masa segini banyak ndak ada yang pinter main catur? Ada yang jadi penyair, ndak? Biasanya kalau penyair itu pinter main catur… Soalnya job-nya dikit… Jadi banyak waktu luang buat main catur. Ayo, main catur…. Nemenin saya… Mungkin ibu-ibu atau mba-mba… Ayo, Mba…Main catur bareng saya…, dijamin tidak terjadi kehamilan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bener nih ndak ada yang mau main catur? Ya sudah kalau ndak mau… Biar saya main sama monyet saya saja…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu Sarimin menata bidak catur itu, berhadap-hadapan dengan monyetnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Monyet saya ini lumayan cerdas juga kok kalau main catur…. Saya sudah melatihnya main catur sejak dia masih kenyung, masik kecil, masih balibul…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seorang Pemusik bertanya: “Apa itu balibul?”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bawah lima bulan… Kalau saja saya punya duit, pasti sudah saya sekolahkan di sekolah catur… Biar jadi Grand Master… Ayo, Min, sini, Min…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kemudian Sarimin pun bermain catur dengan monyetnya. Suara monyet yang riang membuat Sarimin sedikit terhibur. Ia tampak senang bisa bermain catur dengan monyetnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ayo cepet jalan…. Kamu duluan… Eh, eh… bentar… kamu putih apa hitam? Ya dah, kamu putih ya… Tapi aku jalan duluan lho ya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu Sarimin dan monyetnya segera main. Sarimin yang menjalankan bidak catur. Kemudian tampak bidak yang bergerak sendiri, seakan-akan tengah dimainkan oleh monyet itu. Keduanya tampak asyik dan serius.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Eeh, lho, kok mentrinya kok kamu makan… Ndak boleh… Monyet dilarang makan mentri… Yang boleh ciak menteri itu cuman mandatarisnya rakyat! Jangan sembrono lho kamu… Ayo ulang… Eh, tapi jangan ngeper gitu dong! Kamu ini kok sukanya ngawur gitu sih!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin kelihatan jengkel…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Curang! Curang kamu! Bubar! Bubar!…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara monyet menjerit-jerit sementara Sarimin dengan jengkel menutup papan catur itu dan menaruhnya kembali ke kotak pikulannya. Monyet itu menjerit-jerit marah…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sudah, diam toh! Kok malah kamu yang marah. Mestinya saya jengkel. Sudah malem begini ndak dipanggil-panggil. Ngapain ajah sih tuh Pulisi! (Menengok ke arah Pulisi, yang tampak lelap tertidur) Allaahh, kok ya malah micek!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin mencoba mendekati Pulisi itu. Begitu sarimin sudah dekat dan hendak menyodorkan KTP, mendadak Pulisi itu bangun dan langsung sibuk mengetik. Suara mesin ketik yang sibuk membuat Sarimin hanya bisa neraik nafas jengkel.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu Sarimin menjahui Pulisi itu. Dan begitu Sarimin sudah jauh, perlahan-lahan Pulisi itu pun kembali tidur, menyandarkan kepelanya ke meja mesin ketik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin menengok ke belakang, melihat Pulisi yang kembali tidur. Maka Sarimin pun berbalik kembali mendekati Pulisi itu. Baru saja Sarimin mau mendekat, Pulisi itu langsung jenggirat bangun dan menyibukkan diri dengan mesin ketiknya. Melihat Pulisi itu kembali sibuk mengetik, maka Sarimin kembali merasa jengkel, tak berdaya, dan mencoba kembali menunggu. Dan begitu Sarimin menjauh, tampak Pulisi itu dengan penuh kemenangan tidur kembali…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Begitu seterusnya, setiap kali Sarimin mendekat, langsung saja Pulisi itu langsung bangun sibuk mengetik…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sampai kemudian Sarimin tampak pasrah menunggu. Ia kini terlihat mengantuk. Menguap. Meregangkan badannya yang pegel karena lama duduk… Sarimin bangkit, hendak mendekati kembali Pulisi itu, tetapi Puisi itu langsung bangun dan membentak:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(SUARA) POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tunggu saja di situ!! Nanti saya panggil!!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin, yang lelah dan tak tahu mesti berbuat apa, segera kembali duduk menunggu. Ia merebahkan tubuhnya di kursi tunggu itu. Mencoba tidur. Saat itulah sebentang kain perlahan turun, seperti langit malam yang menebarkan kegelapan. Terlihat silhuet Sarimin yang tertidur. Tampak cahaya bulan, malam dengan segala kesedihannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nampak Sarimin yang bangkit, dan dengan setengah mengantuk mendekati Pulisi jaga itu. Tapi kembali Pulisi itu langsung membentak:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(SUARA) POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tunggu saja di situ!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dengan lunglai Sarimin kembali masuk ke balik tirai, kembali merebahkan tubuhnya. Tampak bayangan Sarimin yang tertidur di bawah redup rembulan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kemudian pagi datang, terdengar kokok ayam. Matahari yang cerah bangkit. Sarimin terbangun dari tidurnya, kaget…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">` Astaga, sudah hari ke 192… Belum dipanggil juga….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu malam kembali datang. Rembulan mengapung kesepian. Sarimin kembali tidur… Musik kesunyian seperti menghantar perubahan hari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dan ketika ayam kembali berkokok, matahari muncul, Sarimin pun langsung tergeragap bangun, dan mendapati dirinya masih menunggu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hari ke 347….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Karena tak juga dipanggil, sarimin pun kembali tidur. Musik yang galau bagai menggambarkan perasaan Sarimin yang gelisah. Cahaya menggelap. 2 Lalu Waktu bagai terus berputar. Di bagian layar belakang, muncul gambaran waktu berabd-abad…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sementara waktu berubah, Sarimin terus menunggu, memandangi KTP yang entah milik siapa itu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">3.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mendadak Tukang Cerita muncul dari sisi lain panggung. Pada saat yang bersamaan, silhuet Sarimin pada tirai itu lenyap.3</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TUKANG CERITA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Begitulah, Sarimin dibiarkan menunggu bertahun-tahun…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">kembali-jd-tuk-cer.jpg</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sebagai Tukang Cerita saya perlu sedikit mengingatkan, agar Anda jangan terlalu menyalahkan para petugas itu. Jangan sampai Anda punya anggapan: seakan-akan para polisi itu menyepelekan Sarimin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sebagai warga negara yang baik dan yang percaya pada integritas dan profesionalitas polisi, kita harus maklum akan banyaknya urusan yang harus diselesaikan para polisi itu. Cobalah sesekali Anda datang ke kantor Polisi. Pasti Anda akan melihat betapa setiap hari polisi-polisi itu selalu tampak sibuk. Sibuk SMS-an… Sibuk ngobrol… Sibuk iseng ngisi TTS… Sibuk menginterogasi penjahat…. Sibuk menangkap bandar narkoba, sekaligus sibuk membagi-bagi barang buktinya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Apalagi belakangan ini kesibukan Polisi itu makin bertambah… Karena para Polisi itu lumayan repot menahan para koruptor. Asal Anda tahu saja, menangkap koruptor itu pekerjakaan yang paling merepotkan. Karna begitu ada koruptor tertangkap, maka para polisi itu jadi punya kesibukan tambahan: sibuk menyiapkan karpet merah untuk menyambut koruptor itu… Sibuk menyiapkan sel tahanan dengan fasilitas VVIP… Dan yang terpenting: sibuk menegosiasikan pasal-pasal tuntutan yang saling menguntungkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dengan segala macam kesibukan yang bertumpuk-tumpuk seperti itulah, menjadi wajar kalau Sarimin agak sedikit diabaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi untunglah… Untunglah, nasib baik agak sedikit berfihak pada Sarimin. Suatu pagi, ada petugas yang sedang bersih-bersih kantor polisi itu, dan secara tak sengaja melihat Saridin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Musik tetabuhan transisi mengiringi perubahan Tukang Cerita itu menjadi Polisi. Aktor itu mulai mengenakan kostum untuk peran Polisi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dengan iringan musik, Polisi itu menata setting, untuk pergantian adegan. Menata meja kursi, seakan tengah berberes-beres. Musik mengiringi terus mengiringi adegan pergantian ini. Sampai kemudian Polisi itu menarik tirai yang menutupi kursi di mana Sarimin menunggu, seakan-akan ia tengah menarik tirai jendela. Saat tirai itu terangkat, Polisi itu kaget melihat Sarimin di kursi tunggu itu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Astaga! Ini kok ada kere di sini!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">muncul-polisi-dan-boneka-sarimin.jpg</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di kursi itu kini tampak boneka Sarimin, boneka yang secara visual mengingatkan pada sosok Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hai, ngapain kamu di sini?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN: 4</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil menyodorkan amplop) Aa…nu, Pak.. Mau ngasih ini, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Polisi itu memandang heran pada amplop di tangan Sarimin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Apa itu? Ooo, kamu mau nyuap saya? Iya?! Oooo, hapa kamu pikir semua Polisi bisa disuap, begitu? (Penuh gaya) Huah ha haha… Maaf ya, Polisi seperti saya pantang menerima suap…. Tidak mungkin. Tidak mungkin… Polisi tidak mungkin mau menerima suap…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mendadak dengan clingukan Polisi itu tengok kanan kiri melihat-lihat keadaan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi ya kalau nggak ada yang liat sih ya nggak papa… Berapa tuh isinya?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ini bukan uang kok , Pak Pulisi… Isinya cuman KTP… Saya mau titip…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Jengkel) Cuman KTP kok ya dikasihkan saya! Apa kamu nggak ngeliat saya banyak kerjaan… Kok malah ngrepotin mau titip KTP segala!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dengan ngedumel jengkel Polisi itu akhirnya menerima amplop yang disodorkan Sarimin. Dengan tak terlalu suka Polisi itu memeriksa isi amplop itu. Benar. Isinya KTP. Mula-mula Polisi itu tak terlalu serius membaca KTP itu. Tetapi kemudian tampak tiba-tiba ekspresi Polisi itu langsung kaget. Ia membaca nama di KTP itu dengan teliti.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Astaga! Ini kan KTP Bapak Hakim Agung! Harataya…. Mbelgedes! Kok bisa KTP Bapak Hakim Agung sama kamu? Pasti kamu curi, ya?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ti…tidak, Pak Pulisi! Saya nemu di jalan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nemu di jalan mana?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di jalan Taman Lawang, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Edan! Oooo… Ini keterlaluan! Masa KTP Hakim Agung bisa jatuh di Taman Lawang… Tidak mungkin, tidak mungkin! Emangnya Hakim Agung suka keluyuran ke sana! Oooo, apa kamu kira Hakim Agung itu jenis mahasiswa yang nggak bisa bayar…, lalu ninggal KTP! Ooo jelas kamu mau mencemarkan nama baik Hakim Agung!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ooo ini bener-bener keterlaluan. Tidak bisa dibiarkan! Ayo ikut saya ke kantor!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Musik menghentak, black out. Tembang kecemasan terdengar. Kemudian ketika lampu menerangi panggung, tampak Polisi yang sudah berdiri di dekat meja interogasi, memandang Sarimin yang duduk di kursi, hingga Polisi dan Sarimin berhadap-hadapan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nggak usah gemeter begitu! Jawab yang jujur! Nggak usah berbelit-belit! Ngerti?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Polisi itu (seakan-akan) memasang berkas kertas ke mesin tik di atas meja…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nama?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ee… saya biasa dipanggil Sarimin, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil mengetik) Sa-ri-min… (Lalu kembali menatap tajam Sarimin) Umur?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lima</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> puluh empat, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil mengetik) Li-ma-pu-luh-em-pat… Hmmm… Pekerjaan?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tukang topeng monyet keliling, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil mengetik) Tu-ka-ng… to-pe-ng… mo-nyet… ke-li-li-ng… Sekarang coba kamu jelaskan, bagaimana kamu mencuri KTP ini…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya tidak mencuri, Pak Pulisi… Saya nemu KTP itu di jalan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya tanya bagaimana kamu mencuri KTP ini, bukan bagimana kamu nemu KTP ini!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lho tapi saya memang nemu KTP itu kok… Sumpah! Saya tidak mencuri!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tidak usah pakai sumpah-sumpahan segala! Saya tahu kok modus operandi orang macam kamu! Pura-pura nemu KTP. Padahal dompetnya kamu copet! Iya tidak?! Pura-pura berbaik hati hendak mengembalikan KTP, padahal minta uang. Mau memeras! Kamu bisa kena pasal…. Sebentar… (mengambil buku KUHP dari sakunya) Hmmm… halaman berapa, ya… Oh ini… Kamu bisa kena pasal 362 dan 368! Pencurian dan pemerasan! Itu berate kamu bisa kena sepuluh tahun! Ngerti!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin tampak mengangguk-angguk…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ngerti tidak! Jangan cuman manggut-manggut begitu! Nah, sekali lagi saya tanya baik-baik: kamu nyuri KTP ini kan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sumpah, Pak Pulisi… saya nemu di jalan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Polisi itu mengambil pentungan, memain-mainkannya, memprovosasi Sarimin, sambil terus mencecar,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nyuri apa nemu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Melihat itu Sarimin agak jiper juga) Ne..nemu, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Polisi makin mencecar Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nemu apa nyuri?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ne…ne..mu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Membentak keras, sambil seakan mau menggebug Sarimin) Nemu apa nyuri?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">I..iya.. Pak, Polisi.. Mungkin ada orang lain yang nyuri… Tapi saya cuman nemu kok, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Oooo begitu ya…. Jadi ternyata kamu tidak sendirian. Orang lain yang nyuri. Dan kamu yang pura-pura nemu. Hoo ho hooo…, lumayan cerdik juga kamu, ya! Ho ho ho…kamu ketahuan, nyolong KTP!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Berarti kamu sudah merencanakan semua ini dengan komplotanmu, kan?! Ini kejahatan berkelompok dan terencana. Kamu dan komplotanmu hendak memeras Bapak Hakim Agung, begitu kan? Ooo… Ini namanya kejahatan berkelompok dan terencana!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sumpah, Pak Pulisi… Saya tidak tahu kalau itu KTP Bapak Hakim Agung…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mau mungkir, ya! Kamu kan bisa membaca nama di KTP ini…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sa..ya ti..tidak bisa membaca, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Astaga! OO ho hoho… Kamu bener-bener keterlaluan. Itu namanya menghina pemerintah! Kamu menghina pemerintah! Kamu mau menjelek-jelekkan pemerintah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sudah sejak tahun 74 pemerintah memberantas buta huruf! Sudah jelas-jelas pemerintah mengatakan kalau sekarang ini sudah bebas buta huruf! Lho kok kamu berani-beraninya ngaku buta huruf?! Apa kamu mau membuat malu pemerintah?! Mau mengatakan kalau pemerintah bohong, karena masih ada orang yang buta huruf macam kamu! Ooo… kamu bisa kena pasal… (memebuka-buka lagi buku KUHP-nya) Pasal berapa, ya… Kamu maunya kena pasal berapa?! Ooo… ini.., pasal137… Penghinaan pada pemerintah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lho, tapi saya memang ndak bisa baca kok, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sudah, nggak usah berbohong! Saya sudah terlalu sering ngadepin bandit kecil tapi licik macam kamu! Pura-pura kelihatan lugu. Pura-pura bodoh. Pura-pura tidak bisa membaca. Tampangnya sengaja disedih-sedihkan, biar saya kasihan. Biar saya iba, lalu saya bebaskan… (Kepada para pemusik, yang seakan-akan kini adalah juga polisi) Ooo dia kira Polisi macam kita bisa dikibulin… Tukang kibul kok mau dikibulin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Orang lugu macam kami inilah penjahat yang berbahaya! Karena selalu memakai keluguan sebagai kedok kejahatan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kejahatan tetap saja kejahatan. Tidak perduli kamu bisa baca atau tidak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Polisi itu memperhatikan KTP itu pada Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lihat KTP ini sampai lecek begini, pasti sudah kamu simpan lama ya! Kamu pasti sengaja tidak cepat-cepat mengembalikan! Pasti KTP ini kamu pamerin ke temen-temen copetmu kamu! Pasti statusmu jadi naik di kalangan pencopet karena berhasil mencopet KTP Hakim Agung! Setidaknya kamu ingin dianggap hebat karenasarimin-diinterogasi2.jpg punya KTP Hakim Agung! Biar kamu disangka saudaranya Hakim Agung… Iya, kan?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tidak, Pak Pulisi… Sumpah… Wong begitu saya nemu KTP itu, saya langsung lapor ke sini kok… Tapi saya malah disuruh nunggu terus…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mendengar jawaban itu Polisi langsung marah, dan mau memukul…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kurang ajar! Apa kamu pingin saya gebugin kayak praja IPDN!…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Para Pemusik mencoba menengangan: “Sabar….sabar….”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hati-hati kalau bicara! Kamu bisa kena pasal penghinaan pada aparat! Menuduh Polisi tidak cepat tanggap!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalau kamu memang bener-bener datang melaporkan soal KTP ini, pasti petugas jaga akan langsung menanggapi. Ooo ho ho… tidak mungkin, tidak mungkin polisi menyepelakan rakyat… Karna Polisi itu sahabat masyarakat!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Polisi itu di mana-mana selalu melindungi rakyat! Yah paling-paling ya ada polisi yang kesasar salah nembak rakyat… Tapi itu kan ya hanya insiden… Insiden yang kadang direncanakan….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Polisi kemudian mengambil berkas kertas di meja mesin tik, sambil menatap tajam pada Sarimin yang terdiam…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sebagai Polisi, sudah barang tentu, saya pun harus melindungi kamu… Ngerti tidak? Makanya, kamu juga mesti pengertian… Ini, lihat (menyodorkan berkas kerast itu ke hadapan wajah Sarimin)…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kesalahanmu sudah bertumpuk-tumpuk… Kalau berkas ini saya bawa ke pengadilan, kamu bisa dihukum lebih dari 20 tahun penjara… Bahkan mungkin lebih. Karna kamu mesti berhadapan dengan jaksa dan hakim, yang pasti tidak ssuka dengan kamu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Asal kamu tahu saja, ya! Jaksa-jaksa itu selalu minta bayaran lebih banyak. Juga hakim-hakim. Sulit sekarang menemukan hakim yang baik. Kalau kamu nggak ada duit, pasti dengan enteng hakim itu kan menjebloskanmu ke penjara!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu nggak ingin masuk penjara, kan? Makanya, kamu nurut sama saya saja. Nanti laporannya saya bikin yang baik-baik. Faham maksud saya?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi ya kamu tahu sendiri, itu perlu biaya. Ooo ho ho ho…. ini bukannya saya mau minta duit lho ya… Tidak! Saya tidak minta! Saya cuman menyarankan….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> pemusik ikutan membujuk: “Iya, Min… Sudahlah, Min… Selesaikan saja secata adat ketimuran, Min…”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi ya terserah kamu. Sebagai Polisi yang mengerti perasaat rakyat, ya saya hanya bisa membantu semampu saya. Saya ngerti, kamu tidak terlalu punya duit. Makanya cukup 5 juta saja.. Kalau kamu setuju, bekas ini langsung saya kip, dan kamu boleh pulang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Terpana tak percaya) Lima juta?… Saya ya tidak punya uang segitu, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tampak Polisi itu mencoba sabar dan pengertian,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ya sudah… Karena kamu punya itikad baik, ya bisa dikurangilah. Tiga juta, gimana?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, Pak Pulisi… Segitu saya juga ndak punya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ooo ho ho ho… Ya, ya sudah…, jangan sedih begitu. Saya kan hanya menawarkan. Kalau kamu masih keberatan ya bisa disesuaikan semampu kamulah… Ngerti kamu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">I..i..iya, Pak Pulisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nah, gimana kalau dua juta!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalau satu juta ..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, Pak Pulisi… Saya ndak punya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya diskon lagi, deh Mumpung masih suasana Lebaran, jadi bisa diobral… Gimana kalau lima ratus ribu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, Pak Pulisi… Saya bener-bener ndak punya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seratus ribu deh…Ya, ya, seratus ribu! Hitung-hitung buat uang rokok. Oke?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, Pak Pulisi… Segitu juga saya ndak punya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kesabaran Polisi itu rupanya sudah sampai pada batasnya, dan ia langsung meledak marah,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Brengsek! Kamu bener-bener melecehkan saya! Dimana saya taruh harga diri saya alau segitu saja masih kamu tolak!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Memang susah kalau urusan sama orang miskin! Cuman dapat kesel Kalau kamu lebih suka ke pengadilan, silakan! Kamu bisa membusuk di penjara 50 tahun!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Takjub dan heran tetapi juga tak berdaya) Cuman karna nemu KTP saya dihukum 50 tahun?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Polisi itu berdiri, dingin, tegas dan formal:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hukum tetap hukum, Saudara Sarimin! Atas nama hukum dan undang-undang, Saudara Sarimin ditahan!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Musik menghentak. Dan lampu langsung menggelap seketika…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">4.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mengalun tembang sedih yang menyayat hati…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu di layar bagian belakang perlahan muncul bayangan jeruji sel penjara. Lalu tampak bayangan Sarimin di balik jeruji sel penjara itu. Sarimin tampak termenung, tak berdaya. Tembang kesedihan terus menyayat kesunyian…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Apa salah saya, Gusti?… Apa salah saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu mendadak muncul bayangan monyet Sarimin. Seperti muncul dari dalam mimpi Sarimin, seakan-akan itu ada dalam pikiran Sarimin. Terdengar suara monyet yang memekik-mekik…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Min? Sarimin… Itu kamu ya, Min? Lapar, Min?… Prihatin dulu, ya, Min…Banyak berdoa ya, Min… Biar saya cepet bebas. Doa monyet miskin dan teraniaya macam kamu kan biasanya didengar Tuhan, Min…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bayangan monyet itu terus menjerit-jerit. Dalam bayangan itu pula, sesekali Sarimin mencoba mengusap dan menyentuh monyetnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lagu kesedihan, yang juga terkesan agung menggaung, menjadi latar belakang adegan itu…5</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pak Hakim dan Pak Jaksa</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kapan saya akan di sidang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sudah tiga bulan lamanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Belum juga ada panggilan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya ingin cepat pulang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">5.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu di penghujung lagu itu, musik berubah menghentak, bergaya hip-hop. Pada saat musik hip hop ini berlangsung, setting pun perlahan-lahan berubah. Bayangan Sarimin di balik jeruji penjara lenyap. Sementara di bagian lain panggung, segera tampak ruang tempat Pengacara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Muncul Pengacara, tampak riang, dengan gaya genit cosmopolitan yang penuh gaya. Pengacara itu langsung menyuruh musik berhenti:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">jadi-bensar-1.jpg</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hai, stop! Stop! Bah, kalian ini bener-benar tidak punya rasa keadilan! Ada orang dihukum malah hip-hop hip-hopan begitu! Cem mana pula kalian ini! Tunjukanlah simpati dikit!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sembari bicara, pengacara itu merapikan diri, mengatur penampilannya. Memakai kalung emas dengan bandul initial namanya yang besar. Merapikan pakaiannya, merapikan gaya rambutnya, menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya… Sehingga tampak kalau ia lebih sibuk dengan dirinya ketimbang dengan apa yang dikatakannya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalian itu mestinya prihatin, kenapa di negara hukum begini kok ada orang diperlakuan tidak adil! Ah, emang benar-benar sewenang-wenang Pak Polisi itu. Sebagai pengacara yang punya hati nurani, sudah tentulah aku tak bisa berdiam diri!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pengacara terus sibuk merapikan diri, sampai kemudian ia seperti tersadar, dan segera bicara kepada penonton:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sebentar…Kalian pasti merasa heran, kenapa pengacara kondang…, pengacara infotaimen macam aku ini, tiba-tiba nongol di lakon beginian.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seharusnya tadi, Si Tukang Cerita itu, yang memperkenalkan aku lebih dulu. Menjelaskan, apa peran aku dalam lakon ini. Begitulah semestinya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi kupikir-pikir, kalau si Tukang Cerita itu yang memperkenalkan, nanti diledek-ledeknya pulalah aku ini. Mangkanya, kupikir-pikir lebih baik aku muncul saja langsung. Biar aku sendiri yang memperkenalkan diri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dengan penuh gaya menyemprotkan parfum ke lehernya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nama saya Bensar… Aku yakin kalian sudah tahu, dari mana aku ini. Tapi tak usahlah aku kasih tahu marga aku… Nanti aku kena somasi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Aku di sini terpanggil karena ingin membela Sarimin. Kasihan kali orang itu. Kemarin aku sudah ketemu dia. Aku langsung jatuh iba. Tergerak hati nuraniku untuk membelanya habis-habisan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Begitu Abang Bensar datang, Sarimin langsung tenang. Aku sudah jelaskan duduk perkaranya, dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa menyelamatkannya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Aku bilang pada Sarimin, ”Sarimin, seharusnya kau ini malah merasa beruntung bisa masuk penjara. Susah lho ini masuk penjara… Coba itu kau lihat, banyak kali koruptor yang bermimpi bisa masuk penjara, tapi tak bisa-bisa masuk… makanya kubilang, kau ini benar-benar beruntung. Tidak berbuat salah, tapi masuk penjara. Itu prestasi luar biasa… Makanya Sarimin, tak usahlah kau takut! Ketaktan itu cumian soal pikiran. Kalau pikiranmu takut, maka takutlah kau. Makanya jangan kau berpikir hukum itu menakutkan. Hukum itu menyenangkan. Happy!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kemudian Pengacara Bensar langsung merapikan bawaannya: tas golf beserta isinya. Ia Tampak riang bernyanyi-nyanyi gaya hip hop:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Happy happy</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hukum itu happy</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hukum itu menyenangkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hukum menguntungkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Karna dengan hukum</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Semua kesalahan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bisa dinegosiasikan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hapy happy…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hukum itu happy…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sambil terus bernyanyi pengacara itu bergerak sambil mengubah setting panggung. Tampak kemudian sel penjara, di mana seakan-akan Pengacara itu berjalan dari rumah menuju ke sel penjara, tempat Sarimin di tahan. Dan Pengacara itu pun sampai di dekat sel Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Masih terus menyanyi) Happy happy…. Semua bisa Happy…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sampai kemudian nyanyian berhenti. Dengan gayanya yang khas, Pengacara Bensar kembali menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bagimana Sarimin, apakah kamu merasa happy hari ini? Tenanglah, ini Abang Bensar sudah datang. Abang akan negosiasikan semua perkara kau.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mengerti kau negosiasi?! Ah, sudahlah, tak usah kau berpikir yang berat-berat. Biar aku yang pikir saja gimana baiknya. Percayalah sama Abang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Apa sih perkara yang tidak bisa abang selesaikan? Artis yang mau cerai…, begitu Abang tangani, dijamin langsung cerai. Terdakwa ilegal logging…, begitu Abang tangani, dijamin bisa langsung bebas kabur ke luar negeri…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Makanya, kau tenang saja di situ… Biar aku urus sebentar sama Pak Polisi. Biar lancar semuanya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu Pengacara berjalan ke arah belakang, seakan mendekati Polisi yang ada di pengacara-dan-wayang-polisi2.jpgbelakang. Dan Pengacara bensar pun berbicara dengan Polisi, yang tampak bayangannya, berupa wayang…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ah, Apa kabar, Pak… Wah, tambah ganteng saja nih… Mungkin Bapak bisa tolong belikan makan atau minum buat klien saya… Nanti kembaliannya buat Bapak….</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(SUARA ) WAYANG POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, dilarang membawa makanan dalam penjara!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ah, aneh kali ini Pak Polisi… Kenapa makanan dak boleh masuk penjara? Narkoba saja bisa dibawa masuk ke penjara. Kimbek kali! Ingatlah Pak Polisi…, klien aku itu masih berstatus tersangka. Masih tahanan sementara. Jadi mesti kau hargai hak-hak pidananya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(SUARA ) WAYANG POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Semua ada tata tertibnya. Ada peraturannya. Ada etikanya! Sebagai Pengacara, Saudara mestinya tahu itu!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Betul-betul aneh ini Polisi! Baru kali ini ada polisi mengajak bertengkar pengacara. Biasanya polisi macam kalian itu kan bertengkarnya sama tentara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tampak Pengacara Bensar kesal, dan segera meninggalkan Polisi itu. Ia segera kembali ke dekat sel penjara Sarimin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Kepada Sarimin) Biarlan nanti aku atur sama komandannya. Polisi emang suka berlagak begitu. Suka akting. Lagaknya kayak Politron… Polisi Sinetron…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sekarang kau dengar… Biar semua gampang dan cepet beres, aku sarankan agar kau akui saja semuanya. Ini akan jadi kredit point yang bagus, karna kamu akomodatif. Artinya kamu dianggap bersikap baik Kalau kau bersikap baik, pasti nanti hakim akan member kau keringanan hukuman. Jadi, yang penting sekarang ini kau harus mengaku salah…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mengaku salah bagaimana? Memangnya saya salah apa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Aduuh! Kan tadi aku sudah bilang, tak perlulah kau membantah. Apa kau pikir kalau kau melawan kau akan menang. Jangankan orang kecil macam kau, majalah Time yang besar saja bisa divonis kalah kok! Makanya aku bilang, peluang terbaikmu adalah mengaku salah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Iya… tapi salah saya apa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Salah kau ya karna kau tidak mengerti kau berbuat salah! Bodoh betul kau ini ya… Kau pikir kau berbuat benar. Padahal kau berbuat salah. Kebenaran itu kadang menyesatkan, Sarimin. Kau bukannya benar, tetapi hanya merasa benar. Orang yang merasa benar itu belum tentu benar. Makanya ketika kau merasa benar, kau justru bisa bersalah. Karna benar, maka kamu salah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kau harus fahami betul itu. Makanya aku membantu kau, agar kau tidak tersesat di jalan yang kamu anggap benar itu! Kau mestinya beruntung aku mau jadi pembela kau.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mendadak terdengar suara bunyi handphone, dengan nada dering yang norak… Pengecara Bensar dengan penuh gaya langsung mengambil handphone dari sakunya,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Bicara di handphone-nya) Hallo sayang…Abang lagi sibuk nih. Lagi ketemu klien.. Sudahlah, kamu chek in dulu lah. Nanti Abang susul, ya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu mematikan handphone-nya, dan masih dengan penuh gaya bicara kembali pada Sarimin di balik selnya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, bukannya gaya… Tapi ada klien lain yang mesti aku urus. Yah, maklumlah pengacara laris. Sudah pastilah orang miskin macam kau tak mampu membayar aku. Makanya kau mesti bersyukur, aku mau membela kau!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Aku tahu, banyak suara-suara miring di luar sana. Menganggap akupengacara mata duitan. Malah oleh kolega-koleganya saya sering distilahkan dengan pengacara begundal. Taik kucinglah semua! Pukima!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sekarang aku mau buktikan, kalau aku juga punya perasaan keadilan. Aku juga mau membela orang lemah macam kau, Sarimin! Aku akan berjuang habis-habisan buat kau! Kalau perlu, nanti akan aku bentuk TPS… Tim Pembela Sarimin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Memperlihatkan koran pada Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kau lihat ini… Kamu jadi berita di koran-koran., karna kau dianggap korban ketidakadilan..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terlihat koran dengan berita Sarimin yang jadi headline itu kepada para pemusik. Pada saat bersamaan para pemusik segera bernyanyi, menghentak, dengan gaya hip hop yang rampak:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sarimin jadi berita</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di koran-koran mendadak ia</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Jadi ternama</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Simbol korban ketidakadilan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seolah-olah hukum adalah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Alat menindas orang yang lemah…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Seolah-olah tak ada lagi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">keadilan di negri ini</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Brengsek! Brengsek!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hukum kita brengsek</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Brengsek! Brengsek!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Semua orang bilang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hukum kita brengsek!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nyanyian berhenti. Pengacara itu kaget.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Apa kau bilang? Hukum kita kita brengsek?? Tidak betul itu! Hukum di negeri ini tidak brengsek… tapi luar biasa brengsek!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kembali mendekati dan bicara pada Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi kita tak bolehlah putus asa… Aku yakin aku masih bisa membantumu, Sarimin. Aku jamin, kamu akan mendapat bagian keadilan. Memang kau tak akan menang. Tapi kau akan bangga, karena namamu akan dikenang. Kau akan jadi simbol dari perjuangan menegakkan keadilan. Ini peluang bagus buat kamu, Min… Artinya kalau kau nanti mati, kau tidak akan mati sia-sia!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya sudah tua… mati juga tidak apa-apa…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Eee, janganlah kau mati begitu saja. Nanti sia-sia aku membela kau!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dengar ya, Min… Syarat untuk jadi simbol perjuangan, kau harus mati secara dramatis. Pejuang terkadang dikenang bukan karna apa yang telah dilakukannya, tetapi pada bagaimana cara matinya. Semangkin dramatis kematiannya, semangkin hebatlah dia…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nah, makanya, nati biar aku aturlah sama Polisi itu, bagaimana baiknya cara kau mati. Aku sih kau mati dengan cara yang heroik. Mungkin diracun arsenik. Tapi aku kira itu bukan cara mati yang kreatif. Mesti lebih dramtis dikitlah. Mungkin kau disiksa lebih dulu. Di cabut sati persatu jari kau, lalu dicongkel mata kau… wah, itu kematian yang dramatis, Min! Gimana? Kamu mau kan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalau kau mati dengan cara seperti itu, maka kematian kau itu akan dikenang sebagai korban kekejaman hukum. Namamu akan dijadikan monumen abadi… Itu berarti kau untung, dan aku pun untung. Itu primsip keadilan dalam hukum, Min! Kau untung jadi simbol ketidakadilan, aku pun untung karena jadi pembela korban ketidakadilan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pengacara itu nampak begitiu bahagia, memeluk tas golf-nya, mengambil kaca rias dan mengamati wajahnya, merapikan sisiran rambutnya, bahkan ia memupur pipinya dan mengoleskan lips gloss pada bibirnya, sambil terus berbicara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bayangkan, Min… Aku akan bisa mensejajarkan namaku di barisan para pejuang hukum. Pejuang keadilan! Ini peluang baik buat karier kepengacaraanku. Siapa tahu nanti aku bisa dapat Yap Tiap Him Award…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Makanya, Min, kau harus mengaku salah! Itu namanya kamu dapat karunia kesalahan! Kamu telah dipilih oleh Tuhan untuk menjadi orang yang salah…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Begitu memelas) Saya ndak ngerti… Omongan sampeyan malah bikin saya bingung…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Jangankan kamu, saya sendiri kadang bingung dengan omongan saya kok… Maklumlah, Min, omongan pengacara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya berbuat baik, kok malah disuruh ngaku salah… Menurut Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk, berbuat baik itu ndak salah kok…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Eee, jangan ngacau kau. Bertahun-tahun aku belajar hukum, tidak ada itu…apa kau bilang tadi? Apa? Kitab Bantur Jambul Tangkur Munyuk… Ahh, tidak ada itu kitab hukum macam itu! Ngaco kali kau!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sudahlah! Kau ngaku salah apa susahnya sih! Bagaimana mungkin aku bisa membela kau kalau kau tidak bersalah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lagi pula Pak Polisi itu sudah bilang kau bersalah. Bagaimana mungkin kau masih saja merasa tidak bersalah, kalau Polisi sudang bilang kau bersalah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Jadi saya harus ngaku salah?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mendadak terdengar suara bentakan Polisi, bersama menculnya bayangan wayang Polisi…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sudah ngaku saja salah. Sudah dibela masih saja ngeyel tak bersalah! PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tuh, dengar apa kata Pak Polisi… Aku mau membela kau kalau kau mau ngaku bersalah, Min! Pengacara macam aku ini sudah terbiasa membela orang yang salah, nanti aku malah bingung kalau membela orang tidak bersalah. Makanya, kamu mengaku salah saja ya, Min…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar suara wayang Polisi, membentak Sarimin,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalau kamu ngaku salah, nanti saya atur sama Mas Pengacara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Orang salah ngaku salah itu sudah biasa. orang yang bener tapi mau ngaku salah, itu baru mulia! Makanya kalau kau ngaku salah, kau akan jadi orang mulia!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kembali suara wayang Polisi, membentak Sarimin,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu tak punya pilihan, Sarimin! Kamu tidak bisa melawan hukum! Hukum telah menganggapmu bersalah!.. Bersalah!… Bersalah! Bersalah!…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara Polisi yang meninggi itu kemudian menjadi gema: “Bersalah! Bersalah! Bersalah!” Makin lama gema suara itu makin membahana, seperti mengepung dan mengurung Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bersamaan dengan itu, lampu perlahan-lahan meredup, menggelap. Hingga yang terdengar hanya gema suara Polisi dan Pengacara yang saling bersahut-sahutan, berulang-ulang, saling tumpuk, dan terus mengepung menggema:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">GEMA SUARA PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kau mesti beruntung karena menjadi orang yang terhukum, Sarimin!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">GEMA SUARA POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">GEMA SUARA PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">GEMA SUARA POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bersamaan dengan gema suara-suara itu, di bagian belakang layar muncul bayangan-bayangan yang berlesetan. Bayang-bayang wayang Polisi dan Pengacara, bayang-bayang yang bertumpuk-tumpuk, berkelebatan, kadang bayang-bayang itu membesar dan seakan siap menerkam, bersamaan dengan gema suara yang tumpang tindih dan berulang-ulang:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">GEMA SUARA PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kau harus merasa beruntung karena kau menjadi orang yang terhukum!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">GEMA SUARA POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu telah menghina Bapak Hakim Agung!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">GEMA SUARA PENGACARA:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu telah dipilih Tuhan untuk menjadi orang yang bersalah!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">GEMA SUARA POLISI:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu berbahaya karena bersikeras merasa benar!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di antara gema suara yang terus bersahut-sahutan itu terdengar rintihan Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ampun… Ampun…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu suara-suara yang bergema itu perlahan menghilang. Ada kesunyian yang membentang. Lalu cahaya yang pucat dan layu bagai membelah kepedihan. Cahya itu menyorot ke Sarimin, yang tampak tak berdaya di balik jeruji sel penjara. Kesunyian yang menekan tampak bagai jaring yang meringkus Sarimin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pada layar di bagian belakang, muncul bayangan yang samar, simbolis, semacam Dewi Keadilan, sosok yang menggambarkan kehadiran Hakim Agung…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maafkan saya, Bapak Hakim Agung…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar sosok Hakim Agung di bayangan layar itu berbicara pada Sarimin. Suara dingin dan datar:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM AGUNG:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalau saja saya bisa memaafkanmu, Sarimin…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maafkan saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM AGUNG:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi hukum tidak bisa ditegakkan dengan maaf, Sarimin..</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Menghiba) Maafkan saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM AGUNG:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu jangan salah faham, Sarimin… Bukan saya yang menghukum kamu. Hukumlah yang menghukummu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Makin menghiba) Ampuni saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM AGUNG:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hukum punya jalan keadilan sendiri, Sarimin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Makin lama Sarimin makin menghiba dan mulai merangkak-rangkak, bersujud di bawak sel penjara…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Makin menghiba tak berdaya) Ampuni saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM AGUNG:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tak ada gunanya kamu merasa benar kalau hukum mengganggpmu tidak benar…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM AGUNG:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Biarlah hukum yang menentukan, Min… Bukan saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di bagian layar itu pula, muncul bayangan monyet, yang menjerit-jerit, muncul di sela-sela gema suara Hakim Agung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM AGUNG:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bukan kamu… Hanya hukum yang benar…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kembali terdengar suara monyet memekik-mekik…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM AGUNG:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bukan saya… Bukan kamu…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sementara Sarimin terus menghiba memohon ampunan…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya… Maafkan saya…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SUARA HAKIM AGUNG:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum…. (Terdengar suara monyet)… Ini Negara hukum… (Terdengar suara monyet)…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara Hakim Agung terus terdengar bertumpang tindih dengan suara pekikan monyet, sementara Sarimin terus merangkak-angkak, bersujud…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sampai kemudian Sariin merasa aneh dengan gema suara Hakim Agung dan suara monyet yang bagai mengepung menerornya itu. Sarimin jadi termangu, memandang bingung ke luar penjara saat gema semua suara itu melenyap. Segalanya bagai di ruang hampa…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SARIMIN:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Aneh… Tadi itu suara Hakim Agung atau suara monyet ya?!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Gelap menyergap seketika. Black out!!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">SELESAI.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Yogyakarta</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">, 2007</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Catatan-catatan tekhnis:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">1 Nama ini boleh diganti, dengan nama penonton yang hadir. Penonton yang dikenal sebagai public figure, yang familiar dengan audience.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">2 Di sinilah, secara tekhnis, aktor pembantu mulai menempatkan diri di balik tirai. Sementara aktor utama, pelakon monolog ini, bisa mempersiapkan diri mengganti kostum untuk adegan berikutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">3 Ini menjadi semacam trick pemanggungan: hingga muncul kejutan, seperti sulap, seakan aktor itu bisa berubah dalam sekejap. Padahal, yang di balik layar tadi adalah pemeran pengganti (yang secara postur dan bentuk tubuh, sama dengan aktor pemeran monolog ini)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">4 Pada saat dan selama dialog Sarimin, boneka itu ‘bergerak’ mengikuti dialog. Secara tehknis yang menggerakkan boneka itu bisa crew artistik atau yang membantu. Tapi akan lebih bagus bila yang menggerakkan boneka itu justru aktor pemeran monolog ini sendiri. Di sini, secara tekhnis suara Sarimin juga bisa disuarakan oleh aktor monolog ini secara langsung dengan intoneasi dan karakter suara yang berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">5 Di sini dipilih lagu dangdut “Tembok Derita”. Lagu ini dibawakan dengan gaya agung, bergaya Gregorian, hingga muncul semacam parody dari lagu dangdut itu, sekaligus menjadi gambaran suasana yang anomaly.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/KOMP6~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" alt="" width="378" height="252" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal">Monolog SARIMIN, Indonesian Art Summith 2007, Jakarta, Yogya dan Surabaya. Filsafat pisang, bukan beringin.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">monolog SARIMIN, Indonesian Art Summith 2007, Jakarta, Yogya dan Surabaya. Mau jujur malah ajur. Lapor polisi, malah lahir perkara baru. Pak Polisi menginterograsi Sarimin. Dan Kapolwil Surabaya, Pak Anang, naik pitam.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME~1/KOMP6~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" alt="" width="365" height="244" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=29&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-sarimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/KOMP6~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" medium="image" />

		<media:content url="/DOCUME~1/KOMP6~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Naskah : Matinya tukang kritik</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-matinya-tukang-kritik/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-matinya-tukang-kritik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 05:17:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[MATINYA TOEKANG KRITIK – Sebuah Teater Monolog – Karya Agus Noor Terdengar detak nafas waktu… Sebelum pertunjukan – sebelum dunia diciptakan – denyut waktu itu mengambang memenuhi ruang – semesta yang hampa. Seperti denyut jantung. Terdengar detak-detik waktu bergerak. Seperti &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-matinya-tukang-kritik/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=26&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&gt;--><br />
<strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">MATINYA TOEKANG KRITIK</span></strong></p>
<p><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">– Sebuah Teater Monolog –</span></em></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Karya Agus Noor</span></strong></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><a title="matinya-tk-kritik.JPG" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/04/matinya-tk-kritik.JPG"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/KOMP6~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" border="0" alt="matinya-tk-kritik.JPG" width="300" height="200" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar detak nafas waktu…</span></em></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sebelum pertunjukan – sebelum dunia diciptakan – denyut waktu itu mengambang memenuhi ruang – semesta yang hampa. Seperti denyut jantung. Terdengar detak-detik waktu bergerak. Seperti merembes dari balik dinding. Seperti muncul dan mengalir menyebar di antara kursi-kursi yang (masih) kosong…</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ketika para penonton mulai masuk ruang pertunjukan, mereka mendengar waktu yang terus berdedak berdenyut itu. Mereka mendengar suara detik jam yang terus berputar. Suara ddetak-detik waktu yang bagai mengepungnya dari mana-mana.<a name="_ftnref1"><sup>1</sup></a><a title="_ftnref1" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn1"></a> Sementara pada satu bagian panggung, mereka menyaksikan kursi goyang yang terus bergerak pelan seakan mengingatkan pada ayunan bandul jam. Bergoyang-goyang. Kursi itu temaram dalam cahaya. Terlihat selimut menutupi kursi itu, seperti ada orang yang tertidur abadi di atas kursi itu. Waktu berdenyut. Kursi terus bergoyangan.</span></p>
<p><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"><a title="matinya-tkg-kritik.JPG" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/files/2008/04/matinya-tkg-kritik.JPG"><span style="text-decoration:none;"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span><img src="/DOCUME~1/KOMP6~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" border="0" alt="matinya-tkg-kritik.JPG" width="128" height="85" /></span><!--[endif]--></span></a></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sesekali menggema dentang lonceng, terdengar berat dan tua<sup>2</sup>.<a name="_ftnref2"> Kemudian bermunculan orang-orang berjubah gelap<sup>3</sup>,</a><a name="_ftnref3"></a><a title="_ftnref3" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn3"></a><span> lamban berkelindan, seperti bayangan yang muncul dari rerimbun kabut waktu. Mereka bergerak menuju kursi goyang yang berayun-ayun pelan itu, berputaran mengepungnya, seperti para immortal yang tengah melakukan ritus purba<sup>4</sup>.<a name="_ftnref4"></a></span><a title="_ftnref4" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn4"></a><span> Dan cahaya bagai gugusan kabut yang berputaran. Sampai kemudian sosok-sosok berjubah menjauhi kursi goyang itu<sup>5</sup>.<a name="_ftnref5"></a></span><a title="_ftnref5" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn5"></a></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kini, di bawah cahaya yang kepucatan, di kursi itu terlihat Raden Mas Suhikayatno, tokoh dalam monolog ini. Dia terlihat terlelap, bagai tertidur di rahim waktu yang abadi. Tapi ia juga terlihat gelisah, seperti dikepung mimpi. Makin lama ia terlihat semakin resah. Dan ia tiba-tiba tersentak meledak, tepat ketika terdengar jerit waktu: dering jam weker terdengar dari semua sudut. Jutaan jam weker berdering serentak di seluruh dunia. Disertai dentang berualang-ulang. Gema lonceng gereja. Bermacam-macam suara. Tumpuk-menumpuk. Mengembang dan menyusut. Kelebatan gambar-gambar <sup>6</sup>.<a name="_ftnref6"></a></span></span><a title="_ftnref6" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn6"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Semua seperti muncul dan menggulung-gulung dalam ingatan Raden Mas Suhikayatno: Suara pesawat supersonik. Badai menggemuruh beergulung-gulung. Teriakan-teriakan. Suara perang. Suara-suara <em><span style="font-family:Tahoma;">kemerosak</span></em> gelombang radio. Di antara suara-suara itu terdengar suara Bung Karno membacakan Proklamasi<a name="_ftnref7"> <sup>7</sup></a></span></span><a title="_ftnref7" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn7"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> … lalu menghilang. Muncul suara lain, suara iklan yang lebih modern, lalu <em><span style="font-family:Tahoma;">kemerosak </span></em>gelombang radio lagi. Suara-suara dan gambar-gambar yang terus mengalir. Suara Bung Karno pidato berapi-api. Lenyap lagi. Dentang lonceng. Jam berdering. Suara Presiden Soeharto berpidato di depan MPR<sup>8</sup>.<a name="_ftnref8"></a></span></span><a title="_ftnref8" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn8"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Gambar-gambar masa silam<sup>9</sup>.<a name="_ftnref9"></a></span></span><a title="_ftnref9" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn9"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Gambar bertumpuk-tumpuk terus menerus. Kemudian perlahan menghilang…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dan kesenyapan perlahan menjalar. Hanya terdengar waktu yang terus berdeyut.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di kursi goyang itu. Raden Mas Suhikayatno terlihat begitu kelisah. Meracau kacau. Sampai kemudian dia terjaga, terengah-engah gelisah, kebingungan.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">RADEN MAS SUHIKAYATNO</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:<a name="_ftnref10"><sup>10</sup></a></span></span><a title="_ftnref10" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn10"></a><span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Mengigau risau)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Ini jam berapa?.. Tahun berapa?…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sunyi, hanya terdengar desah nafas waktu yang pelan…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Pelan-pelan terbangun, berteriak memanggil) </span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bambaaang.<a name="_ftnref11"></a></span></span><a title="_ftnref11" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn11"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Bammbanggg!!!<sup>11</sup> <em><span style="font-family:Tahoma;">(Jeda)</span></em> Di mana anak itu… (<em><span style="font-family:Tahoma;">Kembali berteriak, jengkel)</span></em> Bambaaaannggg!!… Ya, ampun, Mbang… Baru jadi pembantu saja sudah susah kalau dibutuhkan. Gimana nanti kalau jadi presiden! <em><span style="font-family:Tahoma;">(Kembali berteriak memanggil)</span></em> Mbaaanggg….. Bambanggg!!!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terus saja sunyi, hanya terdengar desah nafas waktu. Raden Mas Suhikayatno kemudian bersandar di kursi goyang. Terlihat begitu kesepian. Seperti mengeluh. Seperti mendesah…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ini kutukan… Ataukah kemuliaan….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar jam tua bertendang, kemudian ada ketukan-ketukan, seperti suara tik-tak jam berdetak.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Seakan hanyut oleh gema suara yang didengarnya, kemudian bertanya entah pada siapa)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Kalian dengar suara itu?… Tua dan purba. Kalian bisa merasakan? Begitu lembut… bersijengkat lembut mendatangimu.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara tik-ak itu pelan konstan, seirama bicara Raden Mas Suhikayatno.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara waktu! Berabab-abad aku mendengarnya… Terdengar di keretap hujan…, diantara kereta yang menderu… Dengung di sayap lebah… Desah di setiap pencintaa… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Menjadi melankolis dan merasa bahagia, seperti menghayati butiran-butiran waktu yang merembes ke dalam tubuhnya)</span></em> Ya, itu suara waktu…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tiba-tiba suara tik-tak itu berubah cepat – berdetak-detak dipukul-pukul jadi suara ketukan orang jualan siomay. Dan terdengar teriakan pedagang itu, “Maaayy…. Siomay…”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Jengkel, berteriak ke arah ‘pedagang siomay’ itu)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Brengsek! <em><span style="font-family:Tahoma;">(lalu ngomel sendiri)</span></em> Saya kira suara waktu!… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Tergeragap, seperti tersadar, ingat sesuatu)</span></em> Waduh… Jangan-jangan saya memang sudah ditinggalkan waktu. Terlambat! Ini ‘kan tanggal tujuh belas!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno cemas, gelisah…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Berteriak memannggil mencari-cari pembantunya)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Bambaaangg… cepet ambilkan jas saya! Mereka pasti sudah menunggu saya….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar celetukan dari para pemusik; “Hai, Mas… Gelisah begitu kenapa?…”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya mau ikut upacara tujuh belasan di Istana Negara…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar jawaban dan celotehan dari para pemusik: “Tujuh belasan apa!… Merdeka saja belum, kok!… Mas, ini masih jaman pra sejarah. <em><span style="font-family:Tahoma;">Homo sapien</span></em> saja belum ada… Adanya homoseks… dst”</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno jadi bingung, tak percaya. Linglung kembali duduk di kursi goyang…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Apa saya menderita amnesia, ya? <em><span style="font-family:Tahoma;">(Menunjuk kepalanya)</span></em> Waktu seperti ingatan yang bertumpuk-tumpuk. Saya mengira Minggu… ternyata Rabu. Sering saya mendapati diri saya berada di waktu yang salah.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bersamaan dengan itu terlihat lagi tumpukan gambar-gambar berbagai peristiwa, menyorot ke arah Raden Mas Suhikayatno, seperti ingatan-ingatan yang berpusaran dalam kepalanya…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ini tahun berapa sebenarnya… Ini tahun berapa…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sampai terlihat gambar orang-orang bersorban putih, berbaris berteriak.<a name="_ftnref12"><sup>12</sup></a></span></span><a title="_ftnref12" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn12"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Tapi bersa-maan itu terdengar suara derap dan ringkik kuda…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tiba-tiba terdengar suara,<a name="_ftnref13"></a></span></span><a title="_ftnref13" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn13"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> bernada menggema: “Ta-hun… 1.9.9.8…”<sup>13</sup></span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Bingung, tak percaya)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> 1998?? Yang bener!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara itu terdengar lagi, menegaskan: “Ta-hun… 1.9.9.8…”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bukannya ini tahun 1828?</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara itu kembali menegaskan dengan nada sama: “Ta-hun… 1.9.9.8…”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lha itu siapa…, orang-orang yang pakai seragam putih-putih itu…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara itu menjawab: “Mereka pasukan jihad.”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pasukan Jihad? <em><span style="font-family:Tahoma;">(Sadar berada di waktu yang salah, waktu yang tak sebagaimana dikiranya)</span></em> Saya kira pasukan Pangeran Diponegoro… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Bertanya meyakinkan)</span></em> Bener, ini bukan tahun 1828?!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara itu memotong tegas menggema: “In-i Ta-hun… 1.9.9.8… In-i Ta-hun… 1.9.9.8… In-i Ta-hun… 1.9.9.8…”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Jengkel)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Iya! Iya! Tapi ngomongmu nggak usah bergaya begitu dong! Malah kayak film hantu. Persis Uka-uka!<a name="_ftnref14"><sup>14</sup></a></span></span><a title="_ftnref14" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn14"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tiba-tiba suara itu menjawab dengan biasa, memaki: “Oo asu!”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Eeeh, malah memaki! Saya kutuk jadi Presiden Indonesia, mampus kamu! <em><span style="font-family:Tahoma;">(Seperti tiba-tiba sadar, dan mencoba menjelaskan, ke arah penonton)</span></em> Lho iya kan? Jadi Presiden Indonesia itu seperti dapat kutukan kok! Apa sih enaknya jadi Presiden Indonesia, coba? Di Indonesia, profesi presiden itu profesi yang sama sekali tidak menarik. Dari dulu kerjanya gitu-gituuuu melulu: selalu nyusahin rakyat. Kalau kalian termasuk golongan orang kreatif, tolong deh, nggak usah punya cita-cita jadi Presiden Indonesia. Malah nanti tidak kreatif.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tugas, kewajiban dan tanggung jawab Presiden Indonesia itu monoton <em><span style="font-family:Tahoma;">kok</span></em>. Dari tahun ke tahun, sia pun yang jadi presiden, ya tugasnya tetap sama: meningkatkan angka… pengangguran; menambah jumlah devi… apa? Devisit uang Negara…; mencari pijaman luar negeri, menaikan harga BBM… Sama sekali nggak kreatif kan. <em><span style="font-family:Tahoma;">Mbosenin</span></em>.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya ngomong gitu, bukan karena saya dengki nggak jadi presiden, lho. <em><span style="font-family:Tahoma;">(Seperti orang yang jijik pada sesuatu)</span></em> Hiiihhh…., saya nggak mau jadi presiden.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Jangankan Presiden Indonesia… ditawarin jadi raja Hastina saja saya tidak mau kok. <em><span style="font-family:Tahoma;">Emoh</span></em>! Padahal Romo Semar sendiri lho yang nawarin. Katanya, saya ini lebih pantas jadi raja Hastina, ketimbang Yusdhistira, si Pandawa paling tua itu.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya ingat betuk kok waktu itu… Itu jaman ketika belum ada kerajaan-kerajaan di Jawa. Tapi saya sudah ada. Sudah tua dan <em><span style="font-family:Tahoma;">imut </span></em>seperti ini.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Waktu itu terjadi krisis di Hastina, karena Pandawa kalah main dadu. Romo Semar langsung tergopoh-gopoh menemui saya. <em><span style="font-family:Tahoma;">(Bergaya wayang orang)</span></em> “Kakang Raden Mas Suhikayatno, kamu harus menyelamatkan Hastina. Kamu harus jadi raja Hastina!” <em><span style="font-family:Tahoma;">(Pause)</span></em> Dengan halus saya menjawab,<em><span style="font-family:Tahoma;"> (kembali bergaya wayang orang)</span></em> “Maaf, Dimas Semar…, maaf. Bukannya menolak, Dimas Semar. Tapi Maaf, Dimas Semar…, maaf. Saya sama sekali tidak punya cita-cita jadi raja di dunia wayang. Maaf lho, Dimas Semar…, maaf. Sekali lagi, maaf Dimas Semar… maaf…” <a name="_ftnref15"><sup>15</sup></a></span></span><a title="_ftnref15" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn15"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Itulah <em><span style="font-family:Tahoma;">track record</span></em> saya… Saya memilih konstinten sebagai Tukang Kritik yang martabat. Itu yang saya pegang teguh sejak dulu. Sejak zaman Musa, zaman Babilonia… Sejak zaman saya masih jadi pacar gelapnya Cleopatra. Saya menolak diagung-agungkan seperti Julius Caecar. Saya menolak jadi tangan kanan Napoleon…, karena dia kidal.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya ini terlalu <em><span style="font-family:Tahoma;">low profile</span></em> untuk dijadikan pemimpin…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Itulah sebabnya, dulu saya sempet berantem sama Gajah Mada – karena saya menolak membantunya. Padahal kami temen sepermainan sejak kecil. Temen<em><span style="font-family:Tahoma;"> gaul gitu loh</span></em>!<a name="_ftnref16"></a></span></span><a title="_ftnref16" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn16"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> <sup>16</sup>. Suka main gundu dan mencuri buah maja sama-sama.</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Kepada para pemusik)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Sssttt…, saya mau cerita…. Tapi ini rahasia lho ya… Jangan disebar-sebarin. Nanti penonton tahu… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Bergaya membisik, seolah berahasia, tapi bersuara keras hingga suara itu tetap saja sampai didengar penonton)</span></em> Dulu…, semasa remaja, si Gajah Mada itu hobinya ngintip lho!… Nggak nyangka ‘kan, orang yang doyan ngintip begitu, bisa menyatukan Nusantara</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> pemusik menaggapi, tak mempercayai.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dibilangin nggak percaya!! Saya ini sering diajak dia ngintip perempuan yang lagi mandi <em><span style="font-family:Tahoma;">(Sok gaya)</span></em> Saya, sebagai orang yang menghargai perempuan, ya jelas tidak mau… Tidak mau ketinggalan ikut ngintip.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nah, suatu senja…. <em><span style="font-family:Tahoma;">(Mulai bergaya mempraktekkan apa yang dikisahkannya) </span></em>si Gajah Mada mau ngintip nih… Ia mengendap-endap, sembunyi di balik belukar dan pepohonan. Persis Jaka Tarub ngintip bidadari mandi. Saya ngikut dibelakangnya, gemeteran… Takut ketahuan. Saya bilang, “Mad, Mad… Mada… kita pulang saja yuk…” Tapi dia tak mau. Dia malah naik ke pohon. <em><span style="font-family:Tahoma;">Welah</span></em>, sial! Di pohon itu ada sarang lebah, dan si Gajah Mada menyenggolnya. Langsung tawon-tawon itu menyerbu wajahnya…. <em><span style="font-family:Tahoma;">Wuuut…wuuut…</span></em> Itulah sebabnya, seperti pada gambar di buku sejarah yang sering kalian lihat: Gajah Mada bengkak wajahnya…<a name="_ftnref17"><sup>17</sup></a></span></span><a title="_ftnref17" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn17"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno berjalan ke arah meja yang di tempatkan sedemikian rupa menurut kebutuhan tata <em><span style="font-family:Tahoma;">setting</span></em> dan artistik. Meja itu bergaya kuno, dengan sepasang kursi yang juga tua. Mengingatkan pada perabot seorang priyayi Jawa. Ada cangkir dan gelas di atas meja itu. Juga majalah dan koran yang tak rapi. Raden Mas Suhikayatno yang kecapaian karena terus-terusan bercerita, segera duduk di kursi. Menikmati minuman. Tapi kaget tersedak…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Menyemburkan minuman dari mulutnya, ngomel dan mengeluh)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Astaga… Bambang! Ini kan teh dua hari lalu. <em><span style="font-family:Tahoma;">(Berdahak seperti mencoba mengeluarkan sesuatu dari kerongkongannya) </span></em>Saya sampai tersedak cicak! Bambanggg!!! Bambanggg….. <em><span style="font-family:Tahoma;">(Jeda)</span></em> Bener-bener punya bakat jadi presiden dia: kagak dengar meski sudah diteriakin… Alias budeg! Kata orang, budeg itu memang penyakit permanen presiden.</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Mengomel sambil mengambili majalah dan koran</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">) Meja sampai berantakan begini… (<em><span style="font-family:Tahoma;">Mencari-cari sesuatu di tumpukan koran dan majalah itu, sambil terus ngomel dan memanggil) </span></em>Mbang, apa ada surat buat saya?… Saya ‘kan sudah bilang, semua mesti rapi. Biar saya tidak bingung begini. Dibilangin dari dulu, eh tetap nggak didengerin. Apa sih susahnya <em><span style="font-family:Tahoma;">ndengerin</span></em>. Dibilangin baik-baik, eh malah ngata-ngatain, “Dasar Tukang Kritik sirik!”</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya ngritik bukan karna sirik. Saya ngritik karena saya ingin semuanya baik. Hingga hidup bertambah baik. ‘Kan enak kalau semua kelihatan baik. Saya nggak seneng kalau kamu jorok. Baju kotor. Jangan kayak seniman: celana dalem, lima minggu sekali baru ganti.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dikritik memang sakit… Itu tak seberapa. Sebab orang yang suka mengritik itu justru lebih merasa sakit, bila kritiknya nggak didengerin. <em><span style="font-family:Tahoma;">(Jeda)</span></em> Untung saya cukup sabar sebagai Tukang Kritik. Saya nggak pernah marah, meski disepelekan. Buat apa marah? Nggak ada gunanya…… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Lalu berteriak memanggil pembantunya lagi, pelan) </span></em>Mbang… Bambangg…. Orang itu mesti yang sabar…. Bambaaangg… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Lama-lama teriakannya makin tinggi dan bernada marah)</span></em> Diancuk! Mbang, mana surat itu!… Bambaaang!! <em><span style="font-family:Tahoma;">(ke arah penonton, masih mengeram marah) </span></em>Kalian lihat sendiri kan, dia selalu menyepelekan saya… tapi saya tetep sabar… <em><span style="font-family:Tahoma;">(kembali berteriak marah)</span></em> Kamu taruh mana surat itu?!</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sampai kemudian merasa disepelekan, dan mulai mengeluh kepada siapa pun yang mendengarnya, mengeluh ke arah penonton)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Sakiiittt <em><span style="font-family:Tahoma;">ati</span></em> saya. Sakit, sakit, sakitttttt kik kik kit…. Kadang saya pikir, buat apa saya teriak-teriak marah begitu. Buat apa saya terus-terusan mengritik… Kadang saya merasa lelah juga kok jadi Tukang Kritik. Saya pingin berhenti mengritik. Tapi kalau berhenti mengritik, saya sendiri yang malah sakit. Baru semenit tidak mengritik, mulut saya langsung pegel-pegel. Sehari tidak mengritik, langsung bisulan pantat saya.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Yaah, barangkali memang beginilah resiko jadi orang yang sudah terlanjur dicap sebagai Tukang Kritik. Saya cuma dianggap kutu pengganggu. Tapi saya menerima dengan lapang dada semua perlakuan itu. Saya sabar, sabaarrr… saya sabar… <em><span style="font-family:Tahoma;">(tapi kata ‘sabar’ itu diucapkan dengan intonasi mengeram tajam)</span></em> Meski kalian terus menyepelekan orang macam aku<a name="_ftnref18"></a></span></span><a title="_ftnref18" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn18"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">…<sup>18</sup> Orang yang kalian cibir sebagai Tukang Kritik!! Kalian hendak mengapusku dari ingatan zaman. Kalian menatapku dengan mata penuh penghinaan…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno tersengal kelelahan, kepayahan di puncak kemarahannya. Kemudian ia berjalan ke meja lagi. Marah. Mengeram. Kalap mencari-cari sesuatu di tumpukan koran dan majalah yang langsung diacak-acaknya hingga berhamburan kemana-mana.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalian memang mau melupakanku! Kalian mau melupakanku! Melupakanku!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kemudian teriakan dan kemarahan itu perlahan melemah. Raden Mas Suhikayatno terisak, terhuyung-huyung menuju kursi goyangnya. Ia duduk di kursi goyang itu dengan tubuh gemetar. Meraih selimut dan segera menutupi tubuhnya yang gemetaran…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Terdengar seperti menghiba, seperti suara orang yang bersikeras mempertahankan harga dirinya))</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Apa salah saya? Saya selalu tulus mengritik kalian… Tapi kenapa kalian memperlakukan saya begini?</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tak ada yang lebih menyakitkan, selain dilupakan…</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Mengagah-gagahkan diri, sikap seorang terhormat di hadapan kematian)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Penjarakan saya! Ayo! Bunuh saya!…. Itu jauh lebih terhormat bagi Tukang Kritik macam saya…</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Lalu kembali gemetaran)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Alangkah mengerikan dilupakan….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kemudian Raden Mas Suhikayatno memegangi dadanya. Ia dihantam nyeri yang sangat. Kemudian berteriak serak dengan sisa-sia tenaganya. Teriakan itu terdengar tertahan di kerongkoannya,</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bambaaaannggg…. Obat saya… Obat saya… Tolong… Air… Bam-banggg… Bammmmbaaannggg….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara Raden Mas Suhikayatno makin lama makin pelan, makin terdengar sebagai rerancauan. Cahaya di kursi goyang itu menggelap, ketika Raden Mas Suhikayatno sudah menutupi seluruh tubuhnya. Kursi itu hilang dalam gelap. Hanya terdengar suara Raden Mas Suhikayatno yang terus memanggili pembantunya: “Bambaaang…. Bambaaang…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Baaammmbaanngg…. dst…” <a name="_ftnref19"><sup>19</sup></a></span></span><a title="_ftnref19" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn19"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sementara itu, dari sebelah kiri kanan kursi, muncul sosok <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram</span></em> yang sama persis dengan Raden Mas Suhikayatno. Tubuh dan wajahnya. Pakaiannya. Persis. Kedua sosok <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram</span></em> itu memandang ke arah kursi goyang yang kini terlihat pucat di bawah cahaya yang menyorotnya, bergoyang-goyang, tertutup selimut – dimana seolah-olah ada Raden Mas Suhikayatno yang gemetaran di balik selimut itu. Untuk menegaskan itu, kursi goyang mestilah terus berayun-ayun pelan<sup>20</sup>,<a name="_ftnref20"></a></span></span><a title="_ftnref20" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn20"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> dan terus terdengar rintihan suara Raden Mas Suhikayatno yang sesekali meracau demam, sesekali memanggili pembantunya. Kedua <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram</span></em> itu mulai bicara. Sebut saja mereka dengan nama Hologram 1 dan Hologram 2<sup>21</sup>.<a name="_ftnref21"></a></span></span><a title="_ftnref21" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn21"></a><span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dia kelelahan…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 2</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dia berusaha bertahan…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nasibnya akan sama, seperti para Tukang Kritik lainnya… Pingsan di kursi kekuasaan!</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 2</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dia sedang menghimpun kekuatan…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sementara suara erang Raden Mas Suhikayatno terkadang masih mengambang terdengar di sela percakapan dua <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram </span></em>itu..</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dia sedang belajar menerima kekalahan…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 2 </span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Kepada hologram satunya)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Kau sinis karena tak percaya takdir!</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Aku tak menyerah pada takdir, karena tak ingin jadi kentir! Atau jadi kaum munafik sepertimu…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sementara suara erang Raden Mas Suhikayatno terkadang masih mengambang terdengar di sela percakapan dua <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram</span></em> itu..</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 2</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi aku tak menyerah… Seperti dia yang juga tak menyerah. Seperti semua Tukang Kritik yang hidup sepanjang sejarah…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Taik! Tukang kritik tak lebih cuma kaum munafik! Munafik! <em><span style="font-family:Tahoma;">(menuding dan menghardir, terus-menerus)</span></em> Munafik! Munafik….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Teriakan ‘munafik’ itu terus terdengar berulang-ulang, makin meninggi, dan dua sosok <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram</span></em> itu lenyap. Sementara kursi goyang berayun cepat, gelisah. Raden Mas Suhikayatno yang disergap suara-suara itu kian meracau. Memanggil-manggil nama pembantunya. Suara Raden Mas Suhikayatno, makin lama makin meninggi : “Tidak… Tolong…. Bambang…. Bambang…..” <a name="_ftnref22"><sup>22</sup></a></span></span><a title="_ftnref22" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn22"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sampai kemudian ‘teriakan-teriakan itu’ menghilang. Tetapi kursi goyang itu terus bergoyang-goyang gelisah…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Muncul Bambang,<a name="_ftnref23"><sup>23</sup></a></span></span><a title="_ftnref23" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn23"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> membawa sapu lidi, tergopoh-gopoh mendekati kursi goyang.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Iya, Tuan…. Ada apa, Tuan…. Maaf…… Ya, Tuan…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bambang bingung dan gugup memandangi kursi goyang itu, melihat majikannya yang meracau memanggil-manggil namanya: “Bambang… Baammbbaaangg…” Sampai kemudian suara itu berhenti. Raden Mas Suhikayatno tertidur lelap. Diam. Tak ada suara…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil membetulkan selimut, seakan-akan menyelimuti majikannya agar lebih tenang tidurnya)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Kasihan Tuan…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar suara, seakan ada benda jatuh atau sesuatu yang mengejutkan.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sssssttttt… Tolong, jangan berisik. Biar Tuan bisa istirahat… Kasihan dia. Akhir-akhir ini kelihatan gelisah. Bingung. <em><span style="font-family:Tahoma;">(Jeda)</span></em> Yaa, sebenarnya dari dulu sih Tuan saya itu orangnya membingunkan. Saking membi-ngungkannya, sampai-sampai saya juga ikut bingung.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tuan saya orangnya eksentrik. Kerjanya nyalahin orang. Ada ajah yang diomelin. Inilah, itulah. Saya dikatain ginilah, gitulah. Tiap hari kerjanya ngritiiiiikkkk melulu. Apa saja dikritiknya… Kalau Anda pakai kaos kuning, dan dia ngelihat, pasti langsung ngritik: “Ih kuning kayak tai…” Nanti kalau Anda ganti pakai kaos merah, tetep saja dikritik: “Ih, apa hebatnya kaos merah!”… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Begitu seterusnya)</span></em>.<sup>24</sup> <a name="_ftnref24"></a></span></span><a title="_ftnref24" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn24"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bambang kemudian melihat majalah dan koran yang berhamburan berantakan, dan segera memberesi.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil memeberi koran majalah itu)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Nanti kalau bangun, pasti ngomel-ngomel… <em><span style="font-family:Tahoma;">(seolah menirukan majikannya)</span></em> “Ngapain kamu berantakin! Dasar nggak becus jadi pembantu!” <em><span style="font-family:Tahoma;">(pause)</span></em> Saya memang nggak becus <em><span style="font-family:Tahoma;">atuh</span></em> jadi pembantu. Nama saya ajah Bambang. Mana <em><span style="font-family:Tahoma;">teh </span></em>ada pembantu namanya Bambang. Saya <em><span style="font-family:Tahoma;">mah</span></em> pantesdnya jadi presiden, <em><span style="font-family:Tahoma;">uiy</span></em>… Meski jerawatan gini!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Yang nyebelin, nanti kalau udah saya beresin, tetep ajah saya diomelin… <em><span style="font-family:Tahoma;">(kembali menirukan majikannya)</span></em> “Siapa yang suruh ngrapiin! Lihat, halamannya jadi sobek gini!” <em><span style="font-family:Tahoma;">(pause) </span></em>Begini salah, begitu salah. Begitulah Tuan saya. Di dunia ini nggak ada yang bener dimatanya.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bambang mau menaruh koran dan majalah itu di satu tempat, tetapi mendadak terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, setengah mengigau: “Jangan di situ…”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Kaget mendengar suara itu)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Gila kan…lagi tidur ajah masih tetep suka ngritik!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu membawa kembali koran-koran itu dan menaruh di ajah meja, agak dilempar begitu saja. Dan Langsung terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, meracau: “Yang bener… yang rapi…”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Gemes, jengkel)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Hhhhhmmm. Gemes aku! Sebel aku! Binguuuuuuuu-unngggg!!!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalian bisa bayangkan, bagaimana stressnya saya jadi pembantu Raden Mas Suhikayatno Purwokerto ini… Sejak kecil saya jadi pembantu di sini. Bapak saya juga jadi pembantu di sini. Kakek saya. Juga simbah buyut saya. Begitu juga simbahnya simbah, simbanhnya simbahnya simbah saya… semua jadi pembantu di sini. Turun temurun dikutuk jadi pembantu!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi Simbah saya pernah bilang, “Jadi pembantu seperti ini bukan kutukan, <em><span style="font-family:Tahoma;">Le</span></em>.<a name="_ftnref25"></a></span></span><a title="_ftnref25" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn25"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Tapi keberuntungan. Kita ini orang-orang pilihan, <em><span style="font-family:Tahoma;">Le</span></em>. ”<sup>25</sup></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Jadi, trah saya itu trah pembantu. Asli. Orisinil. Darah saya itu darah murni seorang pembantu. Kalau di dunia sihir, saya ini disebut penyihir murni. Bukan penyihir keturunan <em><span style="font-family:Tahoma;">mugle,</span></em> seperti Harry Potter.<a name="_ftnref26"><sup>26</sup></a></span></span><a title="_ftnref26" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn26"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Jadi darah pembantu yang mengalir di tubuh saya ini termasuk jenis darah yang ningrat. Jenis pembantu priyayi. Ini kasta tertinggi di tingkatan pembantu. Kalau kasta paling rendah ya kasta pembantu jenis TKI itu… Disiksaaaa melulu…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kadang saya ini merasa nggak jauh beda kok sama para priyayi raja-raja itu. Paling beda dikit lah. Mereka turun-temurun jadi raja, saya turun-temurun jadi pembantu. Kalau raja-raja itu punya gelar, sebenernya saya juga berhak menandang gelar… Mereka bergelar Amangkurat I. Karena pembantu, saya cukup bergelar Amongtamu I. Nanti, keturunan saya akan bernama Amongtamu II…, Amongtamu III, dan seterusnya. Atau bisa juga menyebut diri mereka sebagai Hamengkukusan atau Hamengkudapan. Pokoknya yang berbau-bau dapur lah. Karena sebagai trah pembantu, kami memang mesti <em><span style="font-family:Tahoma;">mawayu hayuning</span></em> dapur.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mengambil sapu lidi yang tadi dibawanya, kemudian mulai menyapu…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi ya ada senengnya juga kok jadi pembantunya Raden Mas Suhikayatno ini…. Beliau itu orang hebat. Dia itu….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mendadak terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, mengigau, seperti memanggil: “Mmbaaaang…. Bambanggg….”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Tergeragap)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Ehh… iya, Tuan…. <em><span style="font-family:Tahoma;">(kepada penonton)</span></em> Tuh ‘kan, apa saya bilang. Beliau itu orang hebat. Seperti wali. Kalau digunjingin langsung kerasa…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno terus meracau, dan Bambang buru-buru mendekat ke kursi goyang itu.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Iya, Tuan…. Saya cuma ngobrol. Ada tamu… Tidak, tidak ngantar surat… Cuma nonton… Surat? Dari tadi kok nyari-nyari surat terus?! Maksud Tuan surat apa? Surat gadai? Surat tagihan? Surat tilang? … Nggak ada surat apa pun, Tuan… WR. Suratman juga nggak ada… <em><span style="font-family:Tahoma;">(kemudian sadar kalau maji-kannya ternyata tertidur)</span></em>.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar bunyi dengkur…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Bernada ngedumel) </span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Wahhh, lama-lama Tuan ini mirip Gus Dur… diajak ngomong kok malah tidur.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu dengan pelan, takut membangunkan, Bambang berjalan menjahui kursi goyang itu. Kembali bicara kepada penonton.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tadi sampai mana?… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Mengingat-ingat)</span></em> Eemm. Oh, ya… hebat…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Dia itu terkenal banget sebagai Tukang Kritik nomor wahid. Banyak versi cerita seputar sosoknya. Kisah kelahirannya saja ada lebih 1.501 versi. Ada yang mengisahkan ia lahir dari <em><span style="font-family:Tahoma;">bonggol</span></em> pisang. Ada yang bilang ia muncul begitu saja dari kabut waktu. Tapi ada juga bilang: dia itu anak hasil kawin silang manusia dan genderuwo.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bambang menenggok ke arah kursi goyang, agak ketakutan. Takut kedengeran…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:<strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalau dilihat dari tampangnnya, ada benernya juga sih cerita itu… Serba tanggung. Cakep enggak, buruk iya. Setengah manusia, setengah makhkuk sengsara… Beda jauh ‘kan sama saya? <a name="_ftnref27"><sup>27</sup></a></span></span><a title="_ftnref27" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn27"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bahkan ada yang percaya: dia sudah ada sejak permulaan dunia. <em><span style="font-family:Tahoma;">(Bergaya menduga-duga)</span></em> Jangan-jangan dia itu sesungguhnya pacar pertama Hawa, sebelum Hawa akhirnya menikah sama Adam…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tiba-tiba gugup, dan langsung mendekat ke arah penonton…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sebentar…. Saya harus klarifikasi sebentar soal Adam dan Hawa dulu. Biar tak terjadi salah interpretasi. Biar tidak diprotes. Dianggap melecehkan. Adam di sini bukan Adam manusia pertama yang jadi nabi itu lho, tapi Adam Malik… Sedangkan Hawa…. <em><span style="font-family:Tahoma;">(bingung sendiri dan mikir mencari-cari)</span></em> hmmm.., kalau Hawa apa ya? Oh ya, Hawa itu maksudnya Hamid Hawaludin…<a name="_ftnref28"><sup>28</sup></a></span></span><a title="_ftnref28" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn28"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sejak saya di sini, Beliau ya begitu-gitu terus. Nggak tua-tua. Seperti nggak bisa mati. Dulu Kakek saya pernah bilang, <em><span style="font-family:Tahoma;">(Menirukan suara Kakeknya)</span></em> “Tukang Kritik sejati seperti dia nggak bakalan mati! Dia itu legenda setiap zaman. Tahu tidak, di zaman Yunani… dia mengubah namanya jadi Socrates.”</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Itu kata Kakek saya. Saya sih percaya-pecaya saja. Lagi pula, kalau dirunut secara etimologi, ada benernya juga kok: Socrates… ‘Sok-krates’… asal katanya ‘Sok’ dan ‘protes’. Sok-protes. Nah, Raden Mas Suhikayatno ini kan juga seneng protes. Jadi antara Socrates dan Suhikayatno, bisa jadi emang orang yang sama… Yah, minimal namanya sama-sama berawalan S.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Menurut sahibul hikayat, Raden Mas Suhikayatno ini memang dikenal memiliki banyak nama. Dia pernah dikenal sebagai Gallileo. Di Perancis dia dipanggil Voltaire. Tapi begitu di Jawa dipanggil Empu Gandring. Lalu jadi Gandhi waktu di India.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kata Kakek saya, <em><span style="font-family:Tahoma;">(kembali menirukan suara Kakeknya)</span></em> “Mereka memang berbeda nama… Tapi lihat, apa yang mereka lakukan… Mereka semua sesungguhnya orang yang sama.” <em><span style="font-family:Tahoma;">(Jeda. Ragu)</span></em> Iya juga sih… Tapi gimana nalarnya ya: dari Gandring kok jadi Gandhi? Aneh kan kalau nanti di tulis: Gandhi bin Gandring…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Nama Raden Mas Suhikayatno ini juga meragukan kok. Ini nama beneran, atau nama jadi-jadian.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Anda kau tahu, yang namanya legenda, pasti banyak nggak masuk akalnya. Apalagi ini legenda menyangkut seorang tokoh. Tahu sendirilah, <em><span style="font-family:Tahoma;">syndrome </span></em>para tokoh: suka membesar-besarkan peran mereka dalam sejarah. Saya kira, majikan saya ini pun mengindap <em><span style="font-family:Tahoma;">syndrom</span></em> macam itu…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bambang sejenak memandang ke arah kursi goyang, takut omongannya kedengaran Raden Mas Suhikayatno. Tapi langsung tenang ketika melihat tak ada reaksi dari arah kursi goyang.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya nggak menghinanya lho… Bagaimana pun saya hormat kok sama Beliau. Memang dia suka banget ngritik. Tapi pada dasarnya dia baik kok.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalau dirasa-rasa, terasa betul kok kebenaran dalam kritik-kritiknya. Kritikannya tulus. Jujur.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Soalnya orang yang suka mengritik itu kan banyak macamnya. Ada yang mengritik asal mengritik. Ada yang mengritik, supaya dianggap berani dan kritis. Ada yang selalu mengkritik, agar dapat perhatian. Ada yang terus-terusan mengkritik, karena sudah nggak sabar nunggu giliran duduk di kursi kekuasaan. Di luar pagar teriak-teriak, begitu udah di dalam malah tambah rusak.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tuan saya ini nggak silau kedudukan. Dari dulu ya di situ terus duduknya. Nggak pindah-pindah. Ditawari jadi Presiden Indonesia yang pertama juga nggak mau…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Untung juga ya dia nggak jadi Presiden Indonesia. Bisa berabe kalau yang jadi presiden pertama dia. Kalau Sukarno sih memang pantes. <em><span style="font-family:Tahoma;">(Mengeja dengan nada melodius)</span></em> Su-kar-no. Terdengar enak ditelinga.<em><span style="font-family:Tahoma;"> (Meniru suara pembawa acara upacara)</span></em> “Inilah presiden pertama kita: Sukarno…”. Gagah betul kan kedeengarannya… Lha kalau dia? <em><span style="font-family:Tahoma;">(Kembali meniru suara pembawa acara upacara)</span></em> “<em><span style="font-family:Tahoma;">Ladies and gentlement</span></em>, inilah presiden pertama Republik Indonesia: Su..ka..yat…yat…yat…yat.. no…no…” Diberi <em><span style="font-family:Tahoma;">echo</span></em> ajah tetep kagak enak. Su-ka-yat-no… Nama yang amat sangat tidak nasionalistis!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lagi pula nama Kayat kan berbau kekiri-kirian. Ka-yat. Kedengaran seperti “rak-yat”. Jenis nama-nama yang bisa membawa nasib buruk buat para pemiliknya. Contohnya: Mu-nir…<a name="_ftnref29"><sup>29</sup></a></span></span><a title="_ftnref29" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn29"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar suara erangan dari arah kursi goyang: “Bambaaangggg… Bambaanggg…. Jam berapa…”</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Cepat-cepat Bambang pura-pura sibuk menyapu.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar suara Raden Mas suhikayatno bertanya: “Ini jam berapa…. Ini Tahun berapa…”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil terus pura-pura sibuk menyapu)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Jam 4… Tahun 2011…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno terus mengigau memanggil nama “Bambang” sesekali-kali. Bambang tetap sibuk menyapu. Sampai kemudian suara igauan Raden Mas Suhikayatno berhenti…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Melihat sebentar ke arah kursi goyang itu, lalu segera ke arah penonton)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Ngegosip<em><span style="font-family:Tahoma;"> </span></em>lagi aahhh…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya ingat. Empat tahun lalu. Tepatnya tahun 2008. Ya. Tahun 2008. Kira-kira 8 bulan sebelum penyenggaraan Pemilu. Raden Mas Suhikayatno diminta jadi pimpinan KPU. Tapi dia nggak mau. Takut terlibat karupsi berjamaah seperti KPU periode sebelumnya…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saat Pemilihan Presiden tahun 2009, Beliau juga diminta jadi wakil SBY. Soalnya Jusuf Kala maju sendiri jadi Capres didukung Partai Golkar.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Waktu itu memang banyak pengamat yang bilang, kalau majikan saya dan SBY itu pasangan ideal. Lebih cocok, begitu. Ya, setidaknya dibanding wakil SBY sebelumnya, yang dianggap terlalu kreatif, dan terlalu banyak inisiatif.<sup>30</sup> <a name="_ftnref30"></a></span></span><a title="_ftnref30" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn30"></a><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Saya sih nggak terlalu ngerti politik. Nggak tahulah, gimana kelanjutannya. Yang jelas, pada Pemilihan Presiden tahun 2009 itu pemenangnya adalah calon yang didukung Partai Panji Tengkorak. Yakni, Butet Kertaredjasa.<a name="_ftnref31"><sup>31</sup></a></span></span><a title="_ftnref31" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn31"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Inilah pertama kalinya, seorang seniman berhasil menjadi presiden di Indonesia…. Gimana seniman ngatur Negara ya? Ngurus hidupnya sendiri saja ruwet…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tahu, apa program pertama Butet Kertaredjasa sebagai presiden? Mengganti nama-nama jalan. Nama jalan yang tadinya dipenuhi nama tentara, diganti dengan nama para seniman. Jalan Gatot Subroto diganti menjadi Jalan Sapardi Djoko Damono. Jalan S. Parman diganti Jalan S. Bagio. Pokoknnya semua jalan diberi nama seniman. Dari jalan tol, jalan tembus, sampai jalan buntu. Bahkan Jalan Taman Lawang<a name="_ftnref32"><sup>32</sup></a></span></span><a title="_ftnref32" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn32"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> juga diganti menjadi Jalan Djaduk Ferianto<sup>33</sup>. <a name="_ftnref33"></a></span></span><a title="_ftnref33" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn33"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Hanya satu nama jalan yang tidak di ganti. Yakni Jalan Gajah Mada. Karena Gajah Mada itu teman sepermainan majikan saya.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sampai kemudian, terdengar suara Raden Mas Suhikayatno, meracau memanggil: “Bambangggg… Pukul berapa sekarang…..”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Tergopoh mendekati kursi goyang)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Iya Tuan…. Jam 8 malam… Mau air panas sekarang?</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara Raden Mas Suhikayatno datar: “Capek… Ini tahun berapa?”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sudah duduk bersimpuh di dekat kursi goyang itu</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">) Tahun 2011, Tuan… Saya pijit ya…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar: “Kamu yakin… Bukan tahun 3050?…”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil seakan-akan memijiti kaki Raden Mas Suhikayatno</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">) Wah, kejauhan loncatnya, Tuan… Nggak ada itu di naskah…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar: “Saya yakin ini tahun 3050… Samar-samar saya melihat bayangan bertumpuk-tumpuk….”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Sambil terus memijat, tapi juga melihat ke arah kejauhan</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">) Ooo, itu Borobudur dibikin jadi tingkat lima, Tuan…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara Raden Mas Suhikayatno masih lelah datar: “Apa surat itu sudah datang?.. Siapkan pakaian saya…”</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bambang segera bergegas mengambi baju majikannya.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Menyerahkan baju yang diambilnya ke arah kursi goyang itu)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Yang ini kan…<em><span style="font-family:Tahoma;"> (Lalu membentangkannya di selimut) </span></em>Saya pijit ya, Tuan..<em><span style="font-family:Tahoma;"> (Ia kemudian kembali memijiti kaki Raden Mas Suhikayatno – terdengar desah nafasnya yang keenakan dipijit – terus ke atas, tiba tiba ia melonjak kaget, sementara tangannya terbenam masuk selimut seakan dicengkeram majikannya)</span></em> Enak Tuan… Aduh, Maaf Tuan… Sumpah nggak sengaja mijit yang itu. Saya kira tangan Tuan… Tapi kok lembek…. Aduuhhh… Sakit, Tuan… Aduhhhh….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tangan Bambang terpiting, ia kesakitan berdiri. Lalu pelan-pela ia mengubah diri menjadi Raden Mas Suhikayatno. Perubahan ini terjadi dengan perubahan situasi: dari Bambang yang dipuntir tanggannya, menjadi Raden Mas Suhikayatno yang memuntir tangan Bambang.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kini Raden Mas Suhikayatno memakai selimut di pundak dan menutupi tubuhnya hingga seperti berjubahkan selimut itu, berdiri dari kursi goyang, memegangi tangan pembantunya….</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kurang ajar! Bener-bener tidak punya tata karma. Barang keramat milik majikan kok dimain-mainin… Enak tau! Kamu mau apa kok <em><span style="font-family:Tahoma;">grayang-grayang</span></em> begitu…</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PAUSE</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">: berubah jadi Bambang (melepas selimut itu), bersembah ketakutan di depan kursi goyang itu….</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ampun, Tuan… Saya cuma mau ngetes… onderdil tuan masih tokcer tidak…</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PAUSE</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">: berubah jadi Raden Mas Suhikayatno (kembali memakai selimut), berdiri memandangi ke arah pembantunya yang bersimpuh dekat kakinya.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Eee…menghina <em><span style="font-family:Tahoma;">ndoromu</span></em> ini ya?! Biar prostat sering kumat, tetap saja masih kuat… Dari Ken Dedes sampai Ken Norton, sudah membuktikan ‘keampuhan’ saya… (<em><span style="font-family:Tahoma;">menggeliat, menguap</span></em>) Tolong air putih… <em><span style="font-family:Tahoma;">(seakan ke arah pembantunya yang beringsung pergi)</span></em> Eh, sekalian tusuk gigi… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Jeda sejenak, terus mengeliat dan olahraga kecil melemaskan otot. Sampai kemudian seolah-olah menerima gelas, berkumur, menyembur-nyemberkan air kumur ke samping kursi, kemudian memakai tusuk gigi)</span></em></span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PAUSE</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">: berubah jadi Bambang, bersembah ketakutan di depan kursi goyang itu….</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">BAMBANG</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sekarang Tuan mau mandi dulu, apa langsung sarapan?…Sikat gigi? Sikat gigi sudah saya siapin. Odol masih ada… Kalau tusuk gigi sudah habis, yang Tuan pakai itu ajah bekas yang kemarin..</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PAUSE</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">: berubah cepat jadi Raden Mas Suhikayatno,</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Membentak marah sambil sekan membuang tusuk gigi yang tadi dipakainya, dan bergerak mau memukul)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Bajigur! <em><span style="font-family:Tahoma;">(Seolah pembantunya lari ketakutan</span></em>) Sial benar saya punya pembantu macam kamu. Awas kamu, ya! <em><span style="font-family:Tahoma;">(Mengambil baju yang tadi dibawakan pembantunya dan mulai memakainya, sambil berteriak ke arah tadi pembantunya menghilang)</span></em> Hai, sini!… Ngapain kamu malah naik genting begitu. Sudah, nggak usah alasan mau benerin atap. Ayo, turun! Disuruh turun kok malah mendelik. Kamu itu bener-benar keterlaluan kok. Ayo turun! Cepet turun! Bambang, kamu dibilangin kok <em><span style="font-family:Tahoma;">ngeyel</span></em> <em><span style="font-family:Tahoma;">buanget</span></em> sih! Sudah nggak becus, ngeyel lagi… Ayo toh turun, Mbang! Turun!</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Kepada penonton)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Jangan salah faham ya… Saya ini nyuruh turun Bambang pembantu saya. Bukan Bambang yang lain…</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Kembali seakan ke arah pembantunya itu, mulai sabar</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">) Bambang… Ayo toh turun… Sekarang kamu lihat di kotak surat, ada surat buat saya tidak. Nggak ada? Coba kamu cari di bawah keset, mungkin nyelip di situ… Nggak ada juga? Ya sudah, sekarang kamu nunggu saja di halaman. Iya! Siapa tahu tukang pos itu lewat…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno berbicara di atas sembari juga meneliti tupukan koran dan majalah di atas meja, mencari-cari sesuatu. Memeriksa, membacanya…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:<strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Tampak kecewa, ketika tahu tidak menemukan surat yang diharapkannya) </span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pasti mereka lupa mengirimkannya! <em><span style="font-family:Tahoma;">(Menimbang, menduga, mengira-kira)</span></em> Lupa mengirimkan, apa tidak mau mengirim-kan? Mereka anggap saya ini siapa?</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Maaf, saya bukannya mau mengungkit-ungkit. Tapi hargai dong sejarah saya. Apa dikira Tukang Kritik macam saya nggak menyumbangkan apa-apa? Bagaimana jadinya bangsa ini kalau nggak ada orang macam saya. Sayalah yang memulai sejarah. Orang macam sayalah yang menggerakkan sejarah. Orang-orang yang berani menyampaikan kritik.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Waktu negeri ini masih dijajah Kumpeni…, kalian pikir siapa yang berani sama Kumpeni? <em><span style="font-family:Tahoma;">(bisa ke arah pemusik, yang merespon suasana, bisa ke arah penonton)</span></em> Siapa coba yang berani melawan Kumpeni?!… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Dijawab sendiri)</span></em> Si Pitung.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kalian terlalu meremehkan peran saya. Apa kalian pikir saya tidak kenal Ki Hadjardewantara, Cokroaminoto, Agus Salim, Sjahrir dan Hatta? Saya sangat kenal mereka…, meski mereka tidak kenal saya. Mereka semua itu sahabat-sahabat saya. Saya selalu menemani mereka berdiskusi hingga dini hari. Ketika mereka diskusi.., saya menemani membikinkan kopi.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ini sejarah, Bung! Kebenaran paling kecil pun harus ditulis. Saya tak ingin sejarah kita penuh kebohongan. Meski banyak yang bilang: sejarah sesungguhnya tidak lebih dari berbagai macam versi kebohongan!</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Mengambil albun foto di atas meja, dan seolah menunjukkan pada setiap oranag)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Coba kalian lihat lagi foto-foto sejrah bangsa ini. Yang ini! Yang ini! Lihat foto pembacaan Proklamasi….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di layar terlihat foto Pembacaan Proklamasi itu.<a name="_ftnref34"><sup>34</sup></a></span></span><a title="_ftnref34" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn34"></a><span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Perhatikan dengan cermat. Itu, di sebelah kanan… Kalian pasti tidak melihat saya. Hanya bidang kosong hitam. Disitulah mestinya saya berdiri. Tapi kalian telah menghitamkannya…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Selama ini saya diam. Kalian menulis para pendiri bangsa berjumlah 68. Saya rela nama saya tak disebutkan. Sebab, ditambah nama saya, berarti jadi 69. Angka 69 kan bisa sitarsirkan macam-macam…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi kenapa kalian hanya menyebut para Bapak bangsa?! Dimana para ibu yang melahirkan mereka? Ibu-ibu Bangsa yang merawat dan membesarkan sejarah bangsa ini?</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sungguh…, saya tak menuntut apa-apa….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tidakkah kalian ingat di tahun 1995, lebih limabelas tahun lampau, di zaman Soeharto… Ketika semua bungkam… Tukang Kritik seperti sayalah yang mempertaruhkan nyawa. Ketika koran dan majalah di <em><span style="font-family:Tahoma;">breidel</span></em>… Ketika kalian masih takut bicara demokrasi… Tidakkah kalian ingat saya…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bagaimana mungkin, kini kalian perlahan-lahan mengapus saya dari ingatan…</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Meninggi)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Sayalah yang selalu mengritik! Karena saya punya suara… Siapa yang bisa membunuh suara? Suara bisa kamu bungkam. Tapi tidak mungkin kamu bunuh. Kamu tak mungkin bisa membunuh saya…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di puncak kemarahan, Raden Mas Suhikayatno terhuyung… Bersandar di kursi goyang, kelelahan. Dadanya sakit. Ia memanggil-manggil pembantunya….</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bambaaang…. Toloooonggg…. obat saya…. <em><span style="font-family:Tahoma;">(lalu meracau)</span></em> Kalian tidak bisa membunuh saya… Saya suara zaman… Gema yang terus berpan-tulan…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara racauan Raden Mas Suhikayatno terus terdengar, makin pelan dan tenggelam, tak jelas. Pada Saat itulah, pelan-pelan muncul suara nyanyian. Seperti angin yang muncul dari pusaran waktu. Pada saat ini video menggambarkan waktu yang berdenyut, semesta yang mengembang dan mengerut. Gerigi mesin waktu yang bergemeretak bergerak. Gambar-gambar itu tumpah pecah ke seluruh panggung. Nyanyian itu, kau dengarkah nyanyian itu?</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Yang berdiam di rahim waktu</span></em></span><span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Engkau siapakah itu?</span></em></span><span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kami mendengar di desau hujan</span></em></span><span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Keluhmu pelan tertahan</span></em></span><span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kami melihat ada yang berkelat</span></em></span><span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Engkaukah itu berbaring lelap</span></em></span><span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di pusaran waktu</span></em></span><span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di rahim waktu</span></em></span><span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Siapakah itu?</span></em></span><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bersamaan gema lagu yang meredup, muncul dua <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram</span></em> itu lagi. Memandangi Raden Mas Suhikayatno yang mengerang gelisah dalam tidurnya.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lihatlah dia yang selalu tertidur tapi setiap saat merasa terjaga… Ia menderita disiksa mimpi-mimpi yang ia kira kenyataan hidupnya</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 2</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bangun… Ini sudah tahun 2028.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ia masih tersesat di abad silam…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar genta waktu menggema.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 2 </span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tahun 2045</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar lagi genta waktu menggema</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tahun 2066</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 2</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kau dengarkah yang berdenyut di jantungmu. Suara-suara yang menge-pungmu.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sementara itu Raden Mas Suhikayatno terbangun, antara tidur dan jaga, memangdangi sekililing yang bagai tak dikenalinya</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Di mana saya…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu ada di mana kamu merasa ada…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> 2:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu tak ada di mana-mana…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno kebingungan menatap sosok bayang-bayang itu…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Siapa kamu!</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Aku Tukang Kritik yang berjalan melintasi waktu… Akulah kamu yang selalu menyebunyikan wajahmu… Mereka yang membanggakan diri jadi Tukang Kritik, padahal bermuslihat pura-pura baik.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tidak….Tidak….</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 2</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kamu marah karena kamu dilupakan. Kamu selalu menunggu surat itu datang. Surat yang akan mencatat namamu di barisan para pahlawan…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Berteriak-teriak memanggil pembantunya)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Bambanggg!!! Bambanggg!!!<strong><span style="font-family:Tahoma;"> </span></strong></span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">HOLOGRAM 1</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lihat sekelilingmu… Ini tahun 2070… Kamu terselip dipojokan sejarah. Tak ada lagi yang mengingatmu. Tak ada lagi yang membutuhkanmu.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Terus berteriak-teriak )</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Bambanggg..!!! Bambanggg!!!….</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar genta waktu menggema, berulangkali. Sementara Raden Mas Suhikayatno terus berteriak memanggil pembantunya. Memegangi kepalanya yang kesakitan. Gelombang waktu berpusaran dalam kepalanya.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Terdengar terompet pergantian tahun. Dua sosok <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram </span></em>itu perlahan menghilang. Hanya tinggal terdengar suaranya di sela pekik keramaian dan sorak-sorai menyambut pergantian tahun… Cahaya kembang api meledak warna-warni!</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TERDENGAR SUARA MEKANIS </span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tahun 3001.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TERDENGAR SUARA MEKANIS </span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tahun 3002.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Gerigi mesin waktu berderak-derak bersama lengking terompet pergantian tahun dan pijar kembang api warna-warni, berpijar di langit kota modern…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TERDENGAR SUARA MEKANIN </span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tahun 3003.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TERDENGAR SUARA MEKANIS </span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tahun 3004.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">TERDENGAR SUARA MEKANIS </span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">: </span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tahun 3005.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS </span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Menjerit keras melengking panjang</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">) Baambbbaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa-aaaaaaannnnnnggggggggggggggg……..</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Cahaya tiba-tiba benderang dan semua keriuhan dan suara seketika berhenti. Sepi. Panggung seperti ruang steril hampa udara. Pucat perak…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno tersandar di kursi goyang diterangi cahaya terang monokrom. Raden Mas Suhikayatno memandang bingung sekeliling…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Video-multimedia menghadirkan gambar-gambar gedung menjulang, siluet kota-kota ultra modern. Jalan-jalan layang metalik, mobil-mobil terbang. Kota futuristik. Raden Mas Suhikayatno jadi terlihat terpencil dan kecil dibawah semua bayang-bayang gedung-gedung menjulang itu. Ia hanya memandangi semua itu seperti orang bingung…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Pernahkan kalian merasa begitu kesepian seperti yang kini saya rasakan?… Kesepian karena kehilangan peran… Mau apa saya… Semua sudah serba rapi. Tertib. Terkomputerisasi. Tak ada lagi yang bisa dikritik…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno menggerak-gerakkan kepalanya, memain-mainkan tangannya seperti kanak-kanak yang bermain menciptakan bayang-bayang. Tapi Ia kemudian segera bosan. Apa pun yang ia lakukan, ia segera merasa bosan.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Makan sudah… Baca sudah… Tidur sudah… Masturbasi sudah… Apa lagi ya?</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Muncul Robot pembantu rumah tangga.<a name="_ftnref35"></a></span></span><a title="_ftnref35" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn35"></a><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Dibalut pakaian ketat perak. Mekanis. Robotik. Robot itu membawakan minuman dalam gelas bening….</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">ROBOT</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> :</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Good morning… Good morning…</span></em></span><span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Robot itu memberikan minuman kepada Raden Mas Suhikayatno, yang segera menimun isi gelas itu<em><span style="font-family:Tahoma;">…</span></em></span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Setelah meminum)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Bahkan minuman pun sudah pas betul… Saya tidak bisa mengritik kurang pahit atau kurang manis… Bahkan yang namanya bau, panas, dingin… semua sudah sesuai dengan keinginan setiap orang! Ternyata negeri adil makmur tentram karta raharja bukanlah utopia…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikaatno lalu dengan males menyerahkan gelas itu lagi kepada robot itu…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">ROBOT</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Thank you</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">… <em><span style="font-family:Tahoma;">thank you</span></em>… <em><span style="font-family:Tahoma;">Kamsiah</span></em>…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu Robot pergi…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Itu tadi hasil <em><span style="font-family:Tahoma;">cloning</span></em> Bambang… pembantu saya yang sudah mati tahun 2022 lalu. Dia keturunannya yang ke 4. Bergelar Raden Mas Bambang Mangkukulkas XI. Dengan kode mesin: PRT 3005 GX …</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Cahaya datar. Monokrom. Raden Mas Suhikayatno kembali merasa bingung. Kesepian. Ia tak tahu harus berbuat apa. Duduk tak betah. Berdiri tak betah. Berjalan tak betah. Ia tak tahu harus bagaimana.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sampai para pemusik berkomentar: “Kenapa, Mas?… Kok bingung begitu?”</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Bingung mau ngritik apa… Punya pembantu saja robot. Nggak bisa disiksa pakai setrika… Zaman macam apa ini, kok semua serba tertib! Serba teratur.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Raden Mas Suhikayatno duduk bingung. Membuka-buka majalah. Koran. Tabloid sepintas lalu. Bosan…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Semua berita baik… Nggak ada pembunuhan. Nggak ada gossip artis kawin cerai… Bosen!</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Lalu kembali kepada para pemusik.</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Ayo dong kalian bikin keributan… Apa saja deh! Merkosa kambing juga boleh… Mau ya? Ya? Apa kalian seneng hidup tertib begini. Sekali-kali bikin masalah ‘kan ya nggak papa. Gini saja, kalian saya bayar… Kita demonstrasi ramai-ramai…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Para</span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> pemusik menanggapi. Tanpa ekspresi. Kompak. Menggeleng serempak. Mengang-guk serempak. Mekanik.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Karena tak memperoleh tanggapan sebagaimana yang diharapkan, Raden Mas Suhikayatno segera menuju ke kursi goyang. Duduk di sana. Kembali kesepian…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Memandang sekeliling)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Inilah jaman di mana bahkan nabi pun sudah tidak lagi diperlukan…<em><span style="font-family:Tahoma;">(Kembali memain-mainkan tangan,, seperti orang menghitung berulang-ulang)</span></em> Makan sudah…tidur sudah… mandi sudah… makan sudah… tidur sudah… mandi sudah… makan sudah….. tidur sudah… mandi sudah… <em><span style="font-family:Tahoma;">(gerakan tangan dan tubuhnya makin lama makin seperti orang yang menderita autis)</span></em></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Suara Raden Mas Suhikayatno terdengar seperti bandul yang berayun-ayun monoton. Terdengar juga detak waktu yang menyertai nada suara Raden Mas Suhikayatno itu.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Mendadak seperti terdengar suara letusan yang mengagetkan. Raden Mas Suhikayatno meloncat kaget, gembira…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Begitu bahagia, mengepalkan tangan senang) Yes! Cihuuiiyyy! </span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Akhirnya ada mahasiswa yang mati tertembak! … Alhamdulillah… Akhirnya ada yang bisa dikritik… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Bersemangat)</span></em> Ayo, kita protes! Ayo… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Jeda)</span></em> Apa? <em><span style="font-family:Tahoma;">(mendadak loyo)</span></em> Bukan mati tertembak? Cuma mati bahagia… Kok tidak heroik ya matinya…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kembali duduk kecewa. Kembali ke kursi goyang…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">DENMAS</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">(Kembali memain-mankan tangan,, seperti orang mengitung berulang-ulang)</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;"> Makan sudah…tidur sudah… mandi sudah… makan sudah… tidur sudah… mandi sudah… makan sudah….. tidur sudah… mandi sudah… <em><span style="font-family:Tahoma;">(Gerakan tangan dan tubuhnya kembali makin lama makin seperti orang yang menderita autis)</span></em></span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Sampai kemudia suara Raden Mas Suhikayatno perlahan melemah, dan menghilang…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kini yang terdengar hanya detak waktu yang monoton. Bersamaan itu cahaya yang monokrom dan datar itu perlahan menyurut. Kursi goyang itu terlihat tenang di bawah sorot cahaya yang kuat pucat. Waktu mendengung panjang. Menggelisahkan.</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Kemudian mucul Robot itu. Berjalan mekanik mendekati kursi goyang. Tangan Robot itu terulur kaku ke depan, membawa selembar surat…</span></span></p>
<p><span><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">ROBOT</span></strong></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">:</span></span></p>
<p><span><em><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Good morning</span></em></span><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">…. <em><span style="font-family:Tahoma;">Good morning</span></em>… Bangun, Tuan… <em><span style="font-family:Tahoma;">Wake up</span></em>… <em><span style="font-family:Tahoma;">Wake up</span></em>… Bangun, Tuan… Ada surat… Ada surat… Bangun, Tuan… Bangun, Tuan… Ada surat… Ada surat…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Tapi Raden Mas Suhikayatno tak bergerak. Kursi goyang itu tetap tenang. Robot itu terus memanggil-manggil mekanik. Sampai semua cahaya perlahan meredup. Tinggal menyorot ke arah kursi goyang yang tetap tenang itu. Suara robot itu terus-menerus terdengar berulang-ulang. Berulang-ulang…</span></span></p>
<p><span><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">Semua cahaya menggelap perlahan.</span></span></p>
<p><span><em><strong><span style="font-size:11pt;font-family:Tahoma;">PERTUNJUKAN SELESAI</span></strong></em></span><span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-align:right;text-indent:-18pt;" align="right"><span><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Yogyakarta</span></strong><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">, 2003-2005</span></strong></span><span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><a name="_ftn1"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></a></span><a title="_ftn1" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref1"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Secara tekhnis, suara detak-detik jam itu bisa muncul dari <em><span style="font-family:Tahoma;">sound system</span></em> yang ditata sedemikian rupa hingga suara itu seperti muncul dari mana-mana dan memenuhi gedung pertunjukan. Bisa juga secara manual dengan menempatkan banyak jam weker di berbagai titik di dalam gedung pertunjukan, di bawah kursi penonton, dsb. Dimana nanti, semua jam weker itu berdering, dengan menempatkan kru pertunjukan untuk mewujudkan tekhnis tersebut. Atau di dinding ruang penonton dipasangi banyak jam aneka rupa dengan penunjuk angka/jarum waktu yang berbeda-beda. Mungkin juga dengan tata artistik yang mempertegas suasana, dengan intensi lukisan semacam “waktu yang memelelah” karya Salvardore Dali. Sementara, bila memakai video/multimedia, bisa divisualisasikan denyut waktu itu secara visual, seperti ada jarum waktu raksasa yang memenuhi panggung, atau gerigi-gerigi mekanik waktu pada jam yang saling bergerak berderak. Pendeknya, secara artistik bisa dikembangkan menurut interpretasi masing-masing.<a name="_ftn2"></a></span></span><a title="_ftn2" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref2"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> </span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Dentang lonceng ini juga bisa menjadi penanda pertunjukan. Dimulai dentang sekali. Dua kali. Lalu tiga kali, sebagai tanda pertunjukan di mulai. Atau puncaknya sampai berdentang 12 kali, baru mulai pertunjukan. <a name="_ftn3"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn3" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref3"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Para</span></span><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> aktor pendukung/para pemusik dan aktor yang akan memainkan monolog ini.<a name="_ftn4"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn4" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref4"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Adegan ini berfungsi untuk memberi kesempatan aktor-pemeran duduk di kursi goyang itu. Pada bagian sebelumnya, di kursi itu hanya terlihat selimut yang merungkupi kursi goyang untuk mengesankan seakan-akan ada orang yang duduk dan tertidur di atas kursi goyang itu. Sejak adegan ini, di kursi goyang itu sudah meringkuk aktor-pemeran.<a name="_ftn5"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn5" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref5"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Bila mereka para pemusik, mereka bergerak ke tempat yang sudah ditentukan menurut kebutuhan pertunjukan. Bila mereka para aktor pembantu, bisa langsung silam ke sisi-sisi panggung.<a name="_ftn6"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn6" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref6"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Ini bila memakai multimedia, dalam hal ini gambar video. Gambar-gambar dari efek video inilah yang menyorot ke arah panggung. Gambar-gambar itu dibiarkan pecah, tak perlu disorotkan ke sebuah layar, tapi diproyeksikan ke arah di mana kursi goyang itu berada.<a name="_ftn7"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn7" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref7"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Suara ini wajib ada. Suara-suara lain bebas dikembangkan sesuai kebutuhan dramatik suara.<a name="_ftn8"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn8" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref8"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Suara ini juga mesti ada. Bisa dimunculkan juga pidato Soeharto ketika menyatakan diri mundur dari jabatan presiden. Juga suara khas Habibie. Suara Megawati. Gus Dur. Sesilo Bambang Yudhoyono. Suara-suara itu muncul berjauhan, tumpang tindih (tidak mesti runut-linear), seperti mencul dari gelombang radio yang serak dan rusak, di antara ilustrasi musik.<a name="_ftn9"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>9.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn9" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref9"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Gambar-gambar masa silam ini bisa diambilkan dari potongan-potongan film yang menggambarkan masa silam. Misalkan film <em><span style="font-family:Tahoma;">The Ten Comandement</span></em>, yang menggambarkan adegan Nabi Musa, film <em><span style="font-family:Tahoma;">King Arthur</span></em> atau <em><span style="font-family:Tahoma;">The Great Alexander</span></em>, atau mungkin film Diponegoro, dokumentasi-dokumentasi video/film. Bisa juga ilustrasi gambar yang menceritakan perjalanan waktu – dari seri National Geografhic, misalnya. Atau membuat sendiri.<a name="_ftn10"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>10.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn10" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref10"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Untuk efektifitas penulisan, selanjutnya akan disebut “Denmas”.<a name="_ftn11"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>11.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn11" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref11"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Bambang adalah tokoh pembantu dalam monolog ini. Nama Bambang dipakai, karena ketika naskah ini ditulis, nama Presiden  RI adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Kelak, bila presiden berganti dan naskah ini dipentaskan, maka nama Bambang <em><strong><span style="font-family:Tahoma;">harus</span></strong></em> diganti dengan nama presiden yang sedang menjabat. Pilihan nama seperti itu dimaksudkan sebagai cara untuk menunjukkan: bahwa jabatan presiden itu sesungguhnya “pembantu rakyat”. Yakni Pembatu yang “diperintah konstitusi” untuk bekerja mensejahterakan rakyat yang menggaji dan membayarnya melalui bermacam pajak.<a name="_ftn12"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>12.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn12" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref12"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Gambar ini juga diupayakan ada, karena berkait adegan selanjutnya. Kecuali bila Ada interpretasi lain, dan ingin mengembangkan adegan sendiri. Bagaimana pun, sebagai teks pertunjukan, teks ini sangat terbuka untuk dikembangkan berkaitan dengan situasi, keadaan dan kesiapan pementasan.<a name="_ftn13"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>13.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn13" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref13"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Suara ini bisa berasal dari pemusik, atau dari suara aktor pembantu atau kru pentunjukan lainnya. Suara ini bergaya seperti tengah memberikan pengumuman<a name="_ftn14"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>14.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn14" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref14"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Uka-uka, pada saat naskah ini ditulis, sangat popular sebagai ikon hantu. Di lain waktu, bisa diganti ikon hantu yang lebih popular ketika naskah ini dipentaskan.<a name="_ftn15"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>15.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn15" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref15"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Adegan wayang orang ini bisa diplesetkan (dideformasi) pada bagian yang memungkinkan. Pengulangan kata “maaf” di adegan ini sendiri terinspirasi dari tokoh Mpok Minah di serial <em><span style="font-family:Tahoma;">Bajaj Bajuri</span></em> yang selalu mengulang-ulang kata “maaf” seperti itu.<a name="_ftn16"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>16.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn16" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref16"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">“Gaul gitu loh” adalah ungkapan yang popular dan <em><span style="font-family:Tahoma;">ngetrend</span></em> dikalangan anak muda pada zaman monolog ini ditulis. Sebagai ungkapan popular dan <em><span style="font-family:Tahoma;">ngetrend</span></em>, itu pasti terkait dan terbatasi mode. Bila monolog ini dipentaskan pada situasi yang (sudah) berbeda, maka ungkapan ini pun mesti disesuaikan dengan uangkapan yang saat itu sedang <em><span style="font-family:Tahoma;">ngetrend</span></em>.<a name="_ftn17"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>17.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn17" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref17"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Adegan berkisah ini sifatnya “main-main” dalam konteks permainan dramatik. Bisa dikembangkan sebagai upaya memperkaya “main-main” itu. Gaya aktor menceritakan itu cair, ditambah-tambahi, dan para pemusik bisa ikut berceloteh menanggapi, misalnya.<a name="_ftn18"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>18.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn18" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref18"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Perhatikan perubahan kata ganti orang pertama, dari “saya” menjadi “aku”. Ketika Raden Mas Suhikayatno menyebut dirinya dengan “aku”, maka <em><span style="font-family:Tahoma;">ego</span></em> dia sudah mengempal. Ada dendam dan kegeraman di situ, yang menyulut kemarahannya. Dan itu muncul sebagai ekspresi terakhir untuk menunjukkan harga diri dan keberadaannya.<a name="_ftn19"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>19.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn19" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref19"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Ketika cahaya di kursi goyang sudah gelap, maka aktor-pemeran Raden Mas Suhikayatno segera beringsut dari kursi itu, untuk berganti peran. Selimut dirungkupkan ke kursi goyang, hingga mengesankan masih ada Raden Mas Suhikayatno di kursi goyang itu. Sambil beringsut dan pergi itulah, aktor terus memanggil-manggil nama pembantunya itu. Atau untuk efek tertentu, suara itu bisa saja sudah direkam sebelumnya. Jadi selama aktor berganti kostum/berganti peran, suara memanggil-manggil terus terdengar. Atau, suara itu bisa digantikan oleh suara aktor pembantu/pemusik, yang diusahakan mirip dengan intonasi dan warna suara si aktor.<a name="_ftn20"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>20.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn20" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref20"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Dengan teknik tertentu, di bagian kursi goyang itu bisa dipasangkan tali senar, dimana seorang kru bisa menarik dan mengulur senar itu agar kursi goyang terus terayun-ayun.<a name="_ftn21"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>21.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn21" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref21"></a><span><em><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Hologram</span></em></span><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"> adalah bentuk visual yang berupa efek pemadatan cahaya, sehingga bisa menghadirkan sosok atau benda dari proyeksi cahaya. Bila tekhnologi ini belum bisa diaplikasikan dalam pertunjukan ini, maka sosok <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram</span></em> bisa berupa bayangan pada layar dari video/multimedia., berupa visual dari tokoh Raden Mas Suhikayatno, yang sudah dibuat sebelumnya. Tapi bila itu juga tidak mungkin, 2 sosok <em><span style="font-family:Tahoma;">hologram</span></em> itu bisa diperankan oleh aktor lain, yang secara <em><span style="font-family:Tahoma;">casting</span></em> mirip dengan aktor pemeran Raden Mas Suhikayatno. Tinggal <em><span style="font-family:Tahoma;">mak up</span></em> dan kostum disamapersiskan.<a name="_ftn22"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>22.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn22" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref22"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Suara ini bisa digantikan oleh aktor pembantu, atau sudah direkam sebelumnya<a name="_ftn23"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>23.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn23" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref23"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Dimainkan oleh aktor yang sama, yang memerankan Raden Mas Suhikayatno, setelah berganti kostum.<a name="_ftn24"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>24.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn24" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref24"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Di bagian ini bisa dikembangkan dengan interaksi dengan penonton, dimana aktor bisa secara cair-keluar dari peran, memberi komentar tentang baju, cara duduk, atau apa pun dari seorang penonton. Fungsinya untuk menegaskan “kenyinyiran” Raden MAs Suhikayatno yang sedang diceritakan oleh tokoh Bambang itu. Tentu dengan mempertimbangan alur dramatik secara keseluruhan.<a name="_ftn25"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>25.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn25" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref25"></a><span><em><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Le</span></em></span><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">, berasal dari <em><span style="font-family:Tahoma;">Thole</span></em> (bahasa Jawa), yang merupakan panggilan kepada anak laki-laki. Panggilan ini bisa diganti menurut kebutuhan tempat dan etnis lainnya, tergantung di etnis mana pentas ini berlangsung.<a name="_ftn26"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>26.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn26" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref26"></a><span><em><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Mugle </span></em></span><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">adalah istilah para penyihir untuk menyebut “manusia”, dalam buku Harry Potter karya J.K. Rowling. Penyihir keturunan <em><span style="font-family:Tahoma;">mugle</span></em> artinya penyihir yang punya unsur darah manusia dalam trah keluarganya.<a name="_ftn27"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>27.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn27" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref27"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Ini “joke alusif”, karena sesungguhnya dua orang itu sama, karena dimainkan oleh aktor yang sama.<a name="_ftn28"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>28.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn28" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref28"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Ini adalah <em><span style="font-family:Tahoma;">joke</span></em> yang kontekstual, dimana pada saat monolog ini ditulis, nama Hamid Awaludin – yang disini kemudian diplesetkan menjadi Hamid Hawaludin – cukup popular di masyarakat. Bila jaman berganti, dan nama itu tidak cukup dikenal, mana harus ada penyesuaian atas joke ini.<a name="_ftn29"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>29.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn29" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref29"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Bisa dikembangkan dengan berinteraksi dengan menyebut nama-nama tokoh yang hadir, yang kira-kira dianggap kritis pada saat ini. Pada saat ini, sebagai contoh nama Te-ten, Bas-ri…<a name="_ftn30"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>30.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn30" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref30"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Teks pada bagian ini sangat kontekstuak, yang terkait dengan situasi dimana naskah ini ditulis pertama kali. Bila pada suatu saat, konstelasi politik berubah, dan mungkin sudah terjadi pergantian pemerintahan/presiden, maka nama dan konteknya mestilah disesuaikan. Misalkan naskah ini dipentaskan tahun 2015, maka “waktu kisah dan peristiwa dalam lakon ini” juga mesti disesuaikan – dimajukan kira-kira sepuluh tahun ke depan.<a name="_ftn31"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>31.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn31" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref31"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Penyebutan Butet Kertaredjasa di sini, karena monolog ini pertama kali akan dimainkan oleh dia. Apabila naskah ini dipentaskan oleh aktor lain, maka nama aktor yang memainkan itulah yang disebut.<a name="_ftn32"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>32.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn32" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref32"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Taman Lawang adalah wilayah yang berkonotatif “permesuman”. Tiap daerah punya lokasi seperti itu.<a name="_ftn33"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>33.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn33" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref33"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Di sini penyebutan nama-nama itu juga situasional. Yang penting nama itu familiar dengan audiens. Dan bisa juga “menggarap” beberapa nama seniman yang kebetulan saat itu hadir menyaksikan pertunjukan. Jadi penyebutan nama-nama itu fleksibel, dan kira-kira tak menjadi preseden yang bisa merugikan pementasan itu sendiri.<a name="_ftn34"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>34.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn34" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref34"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Dalam gagasan saya, bila pertunjukan ini menggunakan media video, maka <em><span style="font-family:Tahoma;">slide</span></em> foto bisa disertakan menyertai adegan ini. Dimana dilayar muncul berganti-ganti foto-foto dokumentasi sejarah, dari zaman pergerakan sampai mungkin foto Soeharto menyatakan pengunduran dirinya, Gus Dur yang didorong di atsas kursi roda, dst. Gambar slide itu seakan adalah gambar di albun yang diperlihatkan oleh Raden Mas Suhikayatno. Komentar-komentar Raden Mas Suhikayatno selanjutnya bisa dikembangkan berkaitan dengan foto-foto yang muncul pada layar. Bila secara tekhnis sulit, berarti tak ada slide foto-foto itu.<a name="_ftn35"></a></span></span></p>
<p style="margin-left:18pt;text-indent:-18pt;"><span><span><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;"><span>35.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--></span></span><a title="_ftn35" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftnref35"></a><span><span style="font-size:9pt;font-family:Tahoma;">Di sini akan disebut sebagai Robot. Peran robot dimainkan oleh aktor yang bertubuh kecil. Bisa laki. Bisa perempuan. Tapi kostum robot mesti tidak menyarankan identifikasi jender itu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><a title="_ftnref2" href="http://butetkartaredjasa.blogdetik.com/2008/04/27/matinya-toekang-kritik/#_ftn2"></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=26&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2009/01/03/naskah-matinya-tukang-kritik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/KOMP6~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image001.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">matinya-tk-kritik.JPG</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="/DOCUME~1/KOMP6~1/LOCALS~1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">matinya-tkg-kritik.JPG</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Presiden Kita Bercinta</title>
		<link>http://mbaheikem.wordpress.com/2008/12/30/presiden-kita-bercinta/</link>
		<comments>http://mbaheikem.wordpress.com/2008/12/30/presiden-kita-bercinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2008 06:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mbaheikem</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mbaheikem.wordpress.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[- PRESIDEN KITA TERCINTA &#8211; Sebuah Lakon DIsunting dari Blog Agus Noer File Saya baru saja menyelesaikan naskah lakon “Presiden Kita Tercinta”. Lumayan menyita waktu saya proses penulisan drama itu, tentu di samping kesibukan saya yang lain, hingga blog ini agak &#8230; <a href="http://mbaheikem.wordpress.com/2008/12/30/presiden-kita-bercinta/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=23&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="entry-head">
<h3 class="entry-title"><a title="Tautan Tetap ke &quot;- PRESIDEN KITA TERCINTA - Sebuah Lakon&quot;" rel="bookmark" href="http://agusnoorfiles.wordpress.com/2008/10/28/presiden-kita-tercinta-sebuah-lakon/">- PRESIDEN KITA TERCINTA &#8211; Sebuah Lakon</a></h3>
<p> <span class="chronodata"></span> DIsunting dari Blog Agus Noer File</p>
<p> <!-- .entry-meta --></div>
<p><!-- .entry-head --></p>
<div class="entry-content">
<div class="snap_preview">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/10/baju-presiden-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-250" title="baju-presiden-1" src="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/10/baju-presiden-1.jpg?w=253&#038;h=336&#038;h=336" alt="" width="253" height="336" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;">Saya baru saja menyelesaikan naskah lakon “Presiden Kita Tercinta”. Lumayan menyita waktu saya proses penulisan drama itu, tentu di samping kesibukan saya yang lain, hingga blog ini agak terbengkalai. Lakon ini, rencananya, akan dipentaskan tahun 2009 nanti. Kisahnya seputar penggulingan seorang Presiden, dan kemudian terjadi kesibukan untuk mencari penggantinya. Siapa yang tepat jadi Presiden? Begitulah, intrik-intrik pun terjadi. Untuk pemanasan, saya turunkan bagian dari lakon itu. Bagian ketika proses pemilihan Presiden itu berlangsung dalam kemeriahan. Ini dia petilannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:16pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:16pt;">Sekeping Koin Wasiat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Ada kain terjuntai, menandai halaman belakang Istana Kepresidenan. Pada kain itu, tampak silhuet bayangan Kolonel Kalawa Mepaki yang sedang berlatih pedang, bermain anggar, dengan gerakan yang lincah, meski kakinya pincang. Ia begitu gesit memainkan pedangnya, seakan bertarung dengan musuh yang tak kelihatan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala mengawasi, berdiri di dekat Lalita Maningka yang duduk dibawah naungan payung – semacam payung kebesaran yang indah – yang dipegangi seorang prajurit. Prajurit pembawa payung ini, nantinya akan selalu mengambil posisi memayungi Lalita Maningka, kemana pun ia bergerak.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Dasar <em>bahlul</em>… Setiap hari <em>ente</em> berlatih, seakan-akan setiap saat musuh akan menikam <em>ente</em> dari balik kegelapan…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Musuh selalu berbahaya, karena ia bahkan bisa menyamar sebagai orang yang paling dekat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Tapi kan <em>ane</em> sohib <em>ente</em>. Tidak mungkinlah kalau <em>ane</em>…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Tiba-tiba Kolonel Kalawa keluar dari balik kain itu, dan langsung mengarahkan ujung pedangnya tepat di depan wajah Tuan Mitaya, membuat Tuan Pitaya langsung menghentikan ucapannya. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Kita lihat saja… Ambil pedang Anda, Tuan Pitaya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala mencoba bersikap tenang, mencoba menghindar.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Ambil pedang Anda, Tuan Pitaya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Aduuuh, e<em>nte</em> berlebihan, Kolonel… <em>Ane</em> kira, tak perlulah main-main seperti ini… Mubazir… Ada hal-hal yang lebih bersifat konstitusional yang musti kita lakukan. Kita musti menjalankan amanat konstitusi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Terasa kalau Tuan Pitaya nampak sekali ingin berkelit, menunda pertarungan. Tetapi pada saat itulah, Lalita Maningka sudah menyodorkan pedang padanya…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Bersikaplah layaknya laki-laki terhormat, Tuan Pitaya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Mau tak mau Tuan Pitaya Mentala menerima pedang itu. Dan begitu Tuan Pitaya sudah memegang pedang, Kolonel Kalawa langsung melakukan serangan. Tapi rupanya Tuan Pitaya cukup mahir juga memainkan pertarungan. Ia menghindar, dan kemudian memberikan serangan. Begitulah, mereka terus memainkan pedang selama percakapan ini.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Gerakan yang lumayan untuk seorang yang terlalu banyak berfikir…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Kekuatan senjata bukan pada tenaga, Kolonel. Pikiranlah yang menggerakkan senjata…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Tampak Kolonel Kalawa terdesak.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Bahkan pikiran bisa jauh lebih kuat dari senjata, Kolonel…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Tergantung siapa yang memegang senjata. Saya faham bagaimana memainkan senjata, bahkan ketika musuh-musuh saya mengira saya lemah…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Dan mendadak dengan begitu piawai Kolonel Kalawa membalikkan keadaan hingga kini ia mendikde permainan Tuan Pitaya, mendesaknya, bahkan cenderung mengejeknya. Kini Tuan Pitaya kerepotan menghindar menangkis serangan, dan terdesak. Keduanya berhenti, dengan pedang saling bersilangan…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, <em>“Ente </em>tidak lemah…hanya sering gegabah. Keadaan ini tidak cukup diatasi dengan senjata, Kolonel. Itulah sebabnya <em>ente</em> membutuhkan <em>ane</em>… Kekuatan dan pikiran, seperti dua sisi keping keberuntungan yang <em>ente</em> miliki…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Kemudian kembali keduanya saling memainkan pedangnya. Tampak keduanya seimbang dalam permainan. Sampai kemudian keduanya terlihat serempak melakukan serangan mematikan. Ujung pedang Kolonel Kalawa tepat mengarah di leher Tuan Pitaya. Sedang ujung pedang Tuan petaya tepat berada seinci di dada Kolonel Kawala.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Hati-hati leher Anda, Tuan Pitaya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Hati-hati jantung <em>ente</em>…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka langsung bertepuk tangan menyaksikan akhir permainan itu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Laki-laki memang selalu ingin membuktikan dirinya paling hebat. Tapi nasib dua orang hebat akan selalu mengenaskan dalam pertarungan… Keduanya bisa sama-sama mati konyol… Saya kira, ada hal-hal mendesak yang harus kita matangkan, selain bertingkah konyol seperti itu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Itulah yang tadi ingin <em>ane </em>katakan pada Kolonel.<span> </span>Secara konstitusi kita musti secepatnya melakukan tindakan-tindakan yang bersifat konstitusional…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Hentikan omong kosong soal konstitusi, Tuan Pitaya! Saya sama sekali tak percaya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, <em>menyela cepat, </em>“Nyonya Lalita Maningka… Nada bicara Nyonya seakan-akan Nyonya yang memberi perintah di sini!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Syukurlah pendengaran Anda masih baik, Kolonel. Apakah Anda mengharap saya duduk manis melihat ini semua? Ingat, Kolonel, bagaimana pun saya adalah istri syah Presiden almarhum…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Dan secara konstitusi mewarisi tapuk kekuasaan tertinggi bila Presiden berhalangan secara tetap…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Nyonya Lalita tidak percaya pada konstitusi, Tuan Pitaya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Kalau yang ini saya percaya, Kolonel…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki tampak geram, lantas mengeluarkan koin keberuntungannya. Melempar lalu tersenyum demi melihat isyarat dari keping keberuntungannya itu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Saya hanya percaya, kalau ini hari keberuntungan saya!”<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Anda memang beruntung, Kolonel, karena saya tetap percaya pada Anda…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Kepercayaan Nyonya pada saya, tentu saya hargai. Tetapi yang jauh lebih penting adalah kepercayaan rakyat pada saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Dan dengan apa Anda akan memperoleh kepercayaan rakyat itu? Seribu batalion pasukan Anda, barangkali bisa menakut-nakuti mereka. Tapi peluru yang Anda miliki tidak akan cukup untuk menghabisi jutaan rakyat bila mereka terus-terusan membangkang. Karna itulah Anda membutuhkan saya, Kolonel. Karna sayalah yang bisa menenangkan mereka. Mereka menghormati, bahkan memuja saya, sebagai Ibu Suri, sebagai Ibu Negara. Mereka tidak berbondong-bondong mengepung Istana ini, karena mereka tahu saya mendukung Anda.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Dan secara konstitusional, <em>ane</em>-lah yang membenarkan tindakan <em>ente</em>…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Cukup, Tuan Pitaya. Saya tak mau dengar soal konstitusi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Tapi tadi Nyonya percaya konstitusi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Yang ini saya tidak percaya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Dengan gayanya yang anggun, penuh kuasa, Lalita Maningka, mendekati Kolonel Kalawa.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Saya membiarkan suami saya terbunuh, karena saya yakin ini jalan terbaik bagi Republik ini. Sebagai Presiden dan suami, ia sudah tua. Ia sudah kehilangan arah. Kekuasaanya mulai rapuh… Ketika banyak kasuk-kusuk di kalangan Perwira, saya menaruh harapan besar pada kamu. Saat itu, aku yakin, kamu banteng muda yang dapat diandalkan. Maka, jari yang lembut ini pun diam-diam mulai melapangkan jalan buatmu. Apa kau tidak merasakan itu, Kolonel? Kamu, saat ini pasti masih menjadi Kopral ingusan, bila saya tak mengatur semuanya. Saya lakukan semua itu, Kolonel, karena saya pikir itu cara terbaik menyelamatkan negara ini dari perang saudara…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Selama Nyonya Lalita Maningka bicara penuh aura kuasa seperti itu, Kolonel Kalawa Mepaki mencoba menutupi perasaannya dengan memain-mainkan koinnya. Melempar menangkap koin itu terus menerus.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Seperti Paman Gober, kamu boleh mempercayai koin keberuntunganmu. Tapi sayalah Evita Peron Republik ini. Yang membuat rakyat percaya pada mimpi. Harapan. Sayalah yang selalu tampil membagi-bagikan makanan,<span> </span>memberi pakaian gratis, memeluk bayi-bayi mereka yang busung lapar…<span> </span>Saya Ibu Negara yang mempesona mereka, Kolonel. Kalau Anda butuh kepercayaan rakyat, maka Anda membutuhkan kepercayaan saya!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Karna itulah, Kolonel…, mari kita bermusyawaroh tanpa <em>su’udzon</em>. Ada beberapa soal yang musti dibereskan. Berdasarkan konstitusi…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Langsung pada pokok perkara, Tuan Pitaya!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Oh, iya, iya… Langkah konstitusional pertama, ialah mengangkat beberapa Menteri…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya menyerahkan selembar daftar pada Kolonel Kalawa.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “<em>Ane </em>sudah menyusunnya. Tingal <em>ente</em> paraf. Yang nomor wahid adalah Kementerian Sumber Daya Moral dan Agama. <em>Ente</em> jangan sampai salah pilih mengangkat Menteri ini…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Siapa calonnya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Sudah barang tentu, yang paling pantas menjadi Menteri Sumber Daya Moral dan Agama adalah sohib <em>ane</em>: Habib Utawi Kadosta. Dia pemimpin spiritual kondang, Ketua Front Pembela Agama, pemegang monopoli kebenaran, dan tercatat sebagai satu-satunya calon penghuni surga dari kota kita… Bagaimana, Kolonel…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa melempar koinnya, melihat apa yang keluar di koin itu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Setuju!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Yang kedua soal Menteri Pendidikan…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Tidak perlu ada Kementerian Pendidikan. Cuman<span> </span><em>ngabis-ngabisin</em> anggaran!” <strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><span style="font-size:11pt;"><strong>Tuan Pitaya Mentala</strong>, “Tapi secara konstitusi, kita memang wajib mengalokasikan 20 persen anggaran untuk pendidikan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Tidak perduli konstitusi! Pokoknya hapus Kementrian Pendidikan! Saya lebih suka Kementrian Sosial…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Lho, justru Kementrian Sosial ini yang sudah dihapus oleh Presiden lama kita…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Kalau begitu, hidupkan lagi! Begitu saja kok repot!” <em>Melemparkan koinnya</em>, “Setuju!!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Nama-nama kandidat menteri dan pejabat lainnya, bisa <em>ente</em> simak di daftar itu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Kemudian Kolonel Kalawa Mepaki, menyebut beberapa nama, mengomentarinya bersama Tuan Pitaya Mentala.<span> </span>Di sinilah, adegan bisa bermain-main dengan menyebut nama-nama penonton yang hadir. Dan Kolonel Kalawa selalu melemparkan koinnya, dan berseru, “Setuju!”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Sekarang, bagaimana dengan Kursi Nomer Satu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Beradasarkan konstitusi, secepatnya kita musti melaksanakan Pemilu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, <em>mengeram marah, </em>“Anda meragukan kemampuan saya, Tuan Pitaya?!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “<em>Haqul yakin</em>, Kolonel, <em>ene</em> percaya ama <em>ente</em>. Tapi konstitusi Republik ini mengatakan kalo Negara ini musti menjadi Negara yang tampak demokratis. <em>Ente </em>musti mahfum itu… Apa kata dunia, kalau<span> </span>kita tidak menyelenggarakan Pemilu. Bisa dianggap junta militer Republik ini… Rakyat pasti bereaksi keras!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Dan kita bisa kena embargo internasional, Kolonel…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, <em>menatap penuh kecurigaan, </em>“Saya mulai mencium bau pengkhiatan…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “<em>Ente</em> jalan salah faham, Kolonel…<span> </span><em>Ente</em>-lah kunci semua ini. Tetapi <em>ente</em> juga mesti tabayun, bagaimana <em>ente</em> musti memakai kunci itu. <em>Ane</em> sama sekali tak tertarik ama Kursi Nomer Satu. A<em>ne</em> pikir, bukan siapa yang duduk yang terpenting. Tapi siapa yang mengendalikan yang duduk dikursi itu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Lalita Maningka</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Seperti permainan bayang-bayang, Kolonel…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “<em>Soheh</em>! <em>Soheh</em>! Persis seperti itu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala mendekati Kolonel Kalawa Mepaki, dengan gaya diplomat ulung yang ingin memberikan pengertian.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Dulu, semasa kecil, <em>ane</em> suka sekali bermain bayang-bayang…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya lalu melai memainkan tanggannya, seperti kanak-kanak yang bermain membuat bayang-bayang ditembok. Tangan Tuan Pitaya membuat gambaran burung yang terbang, kepala anjing, dan bermacam permainan bayang-bayang. Pada saat inilah, pada kain yang menjuntai itu, muncul bayang-bayang tangan Tuan Pitaya. Secara tekhnis, bayang-bayang pada kain itu bisa dimainkan oleh aktor pendukung atau kru panggung, dengan mengikuti gerak tangan Tuan Pitaya. Tetapi, bisa saja, secara komedis, sesekali bayangan pada layar itu justru berbeda dengan gerakan tangan Tuan Pitaya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Orang akan melihat gerak bayang-bayang itu, tetapi lupa, pada yang menggerakkannya. Bayang-bayang itu seperti hidup, padahal kitalah yang memainkan.<span> </span>Itulah kenapa seorang jagoan tembak bisa menembak lebih cepat dari bayangannya. Itulah ilusi bayangan, Kolonel! Kita mesti menciptakan ilusi itu. Memilih orang yang mau menjadi ilusi itu…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Adegan permainan bayangan itu selesai…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Itulah manfaat mengadakan Pemilu itu, Kolonel. Menciptakan ilusi, bahwa kita menjalankan demokrasi. Nanti, kita ciptakan sebayak mungkin partai. Biarkan setiap orang membikin partai. Partai besar, partai kecil, partai Impian Jaya Ancol… Nah, lalu biarkan setiap orang mencalonkan diri jadi Presiden. Kalau perlu, secara konstitusi kita tetapkan, bahwa wajib hukumnya bagia siapa pun untuk mencalonkan diri jadi Presiden. Mereka boleh menjadi calon idependen bagi dirinya sendiri. Biarkan setiap orang merasa yakin mampu jadi Presiden. Sudah pasti ini lebih banyak manfaatnya dari pada mudaratnya, Kolonel…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa menatap tajam Tuan Pitaya. Lalu dengan dingin mengarahkan ujung pedangnya ke wajah Tuan Pitaya, hingga Tuan Pitaya tampak kaget, tak menduga. Tapi mendadak Kolonel Kalawa Mepaki tertawa penuh kesenangan…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki, </span></strong><span style="font-size:11pt;">“Tidak percuma saya memelihara ular macam Anda, Tuan Pitaya…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span style="font-size:16pt;">Pesta Para (Calon) Presiden</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Musik kemeriahan membahana! Janur dan umbul-umbul menandai kemeriahan pesta. Kota bersolek. Orang-orang berbaris dan bernyanyi. Sementara Kolonel Kalawa Mepaki dan Tuan Pitaya Mentala menyaksikan semua kemerihan itu.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Barisan Warga yang Bernyanyi</span></strong><span style="font-size:11pt;">,<em></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Demokrasi…demokrasi…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Ini Pesta Demokrasi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Demokrasi… demokrasi…<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Bergabunglah bersama </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">mengubah keadaan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Ayo mendaftarlah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Menjadi Presiden yang mulia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Kita tak cuma memilih</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Tapi juga berhak dipilih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Daftarkan ayo daftarkan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Siapa saja boleh ikut serta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Menjadi Presiden kita tercinta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Siapa tahu nasib sedang mujur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Anda terpilih dan hidup makmur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Daftarkan ayo daftarkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Dartarkan ayo segera…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki bersama Tuan Pitaya Mentala menyaksikan semua keramaian itu dari suatu tempat. Orang-orang riang bernyanyi, berbaris, larut dalam kegemberiraan perayaan. Beberapa serdadu tampak bertugas sebagai Panitia Penerimaan Pendaftaran itu. Sampai kemudian Tuan Pitaya Mentala, memberikan pidato sambutan…</span></em><span style="font-size:11pt;"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Saudara-saudara sebangsa setanah air. Sebagaimana diamanatkan konstitusi, setiap warga Negara berhak memilih dan dipilih jadi Presiden. Oleh karna itulah, siapa pun, baik yang merasa sehat mau pun tidak sehat jasmani dan rohaninya, wajib mendaftarkan dirinya. Yang tua, yang muda, ayo silahkan mencalonkan diri menjadi Presiden. Inilah saatnya <em>ente-ente</em> mengiklankan diri jadi pemimpin. Pendaftaran bisa secara langsung, atau lewat SMS. Tinggal ketik REG spasi PILPRES kirim ke Po Box 212. Keputusan pemenang bersifat mutlak, dan tidak bisa diganggu gugat. Barangsiapa yang tidak mencalonkan dan mendaftarkan dirinya menjadi Presiden, maka akan dianggap membanggkang dan merongrong stabilitas Negara. Nah, sekarang silakan <em>ente-ente</em> pada mendaftar. Mohon antri yang tertib, jangan rebutan kayak antri minyak atau sembako.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Dengan iringan musik, orang-orang itu pun antri mendaftar. Para Serdadu yang menjadi Petugas Pendaftaran, mencatat, memeriksa mulut atau mata atau ketiak orang-orang yang mendaftar itu. Begitu selesai, orang itu langsung berjalan menuju ke arah dimana Kolonel Kalawa dan Tuan Pitaya berada. Tuan Pitaya mengamati calon di depannya itu dengan ketelitian juru taksir profesional pegadaian. Atau mengingatkan pada blantik sapi yang dengan teleti mengamati sapi yang hendak dibelinya. Sementara Kolenel Kalawa Mepaki langsung melemparkan koinnya, untuk memutuskan calon itu…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Gagal!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Lalu orang itu segera pergi, dan dilanjutkan giliran orang di belakangnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, <em>memainkan koinya</em>, “Gagal!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Dan orang itu pun segera pergi, dilanjutkan giliran orang di belakangnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Kolonel Kalawa Mepaki</span></strong><span style="font-size:11pt;">, <em>memainkan koinya</em>, “Gagal!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Begitu seterusnya, Kolonel Kalawa selalu melemparkan koinnya dan berteriak, “Gagal!”, sementara orang-orang berbaris antri, hingga tampak seperti sebuah prosesi pemilihan dengan segala kelucuannya. Ada juga orang yang setelah dinyatakan gagal, kemudian balik kembali ikut antri.<span> </span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Tapi mendadak orang-orang yang tengah antri itu menjadi ketakutan ketika muncul Awuk. Seperti anjing yang ingin diperhatikan, Awuk pun menggonggong ke arah antrian orang-orang itu…</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Awuk</span></strong><span style="font-size:11pt;">, “Hai…Haik… Hai…Haik… Haik…”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Orang-orang mencoba menyingkir, menghindari Awuk setiapkali ia mendekat dan menyalak. Tuan Pitaya Mentala segera mencoba mengatasi keadaan.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:30px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala</span></strong><span style="font-size:11pt;">, <em>mendekati Awuk, </em>“Berdasarkan konstitusi, anjing dilarang ikut Pemilu! Pergi! Pergi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Tuan Pitaya Mentala segera menyambit Awuk dengan batu. Awuk melolong kesakitan. Dan segera, orang-orang pun ramai-ramai melempari Awuk hingga Awuk terbirit-birit ketakutan. Setalah itu kembali musik menghentak. Kembali orang-orang bernyanyi rampak.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><strong><span style="font-size:11pt;">Nyanyian Orang-orang</span></strong><span style="font-size:11pt;">,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Daftarkan ayo daftarkan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Siapa saja boleh ikut serta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Menjadi Presiden kita tercinta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Siapa tahu nasib sedang mujur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Anda terpilih dan hidup makmur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Daftarkan ayo daftarkan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;padding-left:150px;"><span style="font-size:11pt;">Dartarkan ayo segera…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;">Kemudian sayup dan menghilang.</span></em></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mbaheikem.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mbaheikem.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mbaheikem.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mbaheikem.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mbaheikem.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mbaheikem.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mbaheikem.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mbaheikem.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mbaheikem.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mbaheikem.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mbaheikem.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mbaheikem.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mbaheikem.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mbaheikem.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mbaheikem.wordpress.com&amp;blog=5544374&amp;post=23&amp;subd=mbaheikem&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mbaheikem.wordpress.com/2008/12/30/presiden-kita-bercinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f883068cc971693562f7e6a98f98ef84?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">mbaheikem</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://agusnoorfiles.files.wordpress.com/2008/10/baju-presiden-1.jpg?w=253&#38;h=336" medium="image">
			<media:title type="html">baju-presiden-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
